Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (2)

SAYA SEBAGAI CIPTAAN TUHAN

Kemarin malam mungkin dikarenakan tidur yang terlalu sore akibat kelelahan bekerja, aku terbangun dini hari sekali. Aku lihat di samping saya Bagus anakku tengah tertidur pulas dengan gulingnya, yah anak itu memang tidak bisa tidur tanpa guling kucelnya itu sementara istriku tertidur di sebelahnya sembari tangannya memegang botol susu yang sudah kosong. Continue reading

Players punya jurus

playboy_logoJurus cakar elang eh, LMS (Love Message Service) ini hanya bagi players (wanna be) yang ditolak lebih dari 5 kali, bila belum lima kali? Hei bro…, petualangan cinta itu perlu perjuangan dan pengorbanan, that’s the art

(1) Tadi malam aku kirim bidadari untuk menjaga tidurmu. Eh, dia buru-buru balik. Katanya, ‘Ah, masa bidadari disuruh jaga bidadari?’

(2) Kalau kamu nanya berapa kali kamu datang ke pikiranku, jujur aja, cuma sekali. abisnya, ga pergi2 sih!

(3) Sempet bingung jg, kok aku bisa senyum sendiri. Baru nyadar, aku lagi mikirin kamu. Continue reading

Konsul dong, Nde

therapy-films-logoEntah kenapa hari ini, jiwaku jadi sok sosialis banget. Atasanku curhat, nasabah juga curhat keadaan dagangannya, cleaning service curhat gajinya yang baru seminggu kemaren diterima udah habis (klo mau minjem, to the poin aja dul).

Semuanya aku dengarkan meski dalam hati ingin rasanya berteriak, “So What Gitu Lohhh..!!”, bukan karena ga peduli tapi inikan akhir bulan mann, mungkin yang kerja uda pada ngerti gimana derita akhir bulan. Laporan yang harus dibuat pada menumpuk, belum lagi nguberin nasabah-nasabah bandel. Tapi mereka tetap saja berkicau (makan pelet kali ini orang-orang ya?) Continue reading

Filosofi Semar

semarSemar dalam bahasa Jawa (filosofi Jawa) disebut Badranaya
Bebadra = Membangun sarana dari dasar
Naya = Nayaka = Utusan mangrasul

Artinya : Mengemban sifat membangun dan melaksanakan perintah Allah demi  kesejahteraan manusia

Javanologi : Semar = Haseming samar-samar
Harafiah : Sang Penuntun Makna Kehidupan

Semar tidak lelaki dan bukan perempuan, tangan kanannya keatas dan tangan kirinya kebelakang. Maknanya : “Sebagai pribadi tokoh semar hendak mengatakan simbul Sang Maha Tunggal”. Sedang tangan kirinya bermakna “berserah total dan mutlak serta sekaligus simbol keilmuan yang netral namun simpatik”.

Domisili semar adalah sebagai lurah karangdempel / (karang = gersang) dempel = keteguhan jiwa.

Rambut semar “kuncung” (jarwadasa/pribahasa jawa kuno) maknanya hendak mengatakan : akuning sang kuncung = sebagai kepribadian pelayan. Semar sebagai pelayan mengejawantah melayani umat, tanpa pamrih, untuk melaksanakan ibadah amaliah sesuai dengan sabda Ilahi.

Semar barjalan menghadap keatas maknanya : “dalam perjalanan anak manusia perwujudannya ia memberikan teladan agar selalu memandang keatas (sang Khaliq ) yang maha pengasih serta penyayang umat”.

Kain semar Parangkusumorojo: perwujudan Dewonggowantah (untuk menuntun manusia) agar memayuhayuning bawono : menegakan keadilan dan kebenaran di bumi.

Ciri sosok semar adalah

– Semar berkuncung seperti kanak kanak,namun juga berwajah sangat tua
– Semar tertawannya selalu diakhiri nada tangisan
– Semar berwajah mata menangis namun mulutnya tertawa
– Semar berprofil berdiri sekaligus jongkok
– Semar tak pernah menyuruh namun memberikan konsekwensi  atas nasehatnya

Kebudayaan Jawa telah melahirkan religi dalam wujud kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa, yaitu adanya wujud tokoh wayang Semar, jauh sebelum masuknya kebudayaan Hindu, Budha dan Islam di tanah Jawa.

Dikalangan spiritual Jawa ,Tokoh wayang Semar ternyata dipandang bukan sebagai fakta historis, tetapi lebih bersifat mitologi dan symbolis tentang KeEsa-an, yaitu: Suatu lambang dari pengejawantahan expresi, persepsi dan pengertian tentang Illahi yang menunjukkan pada konsepsi spiritual. Pengertian ini tidak lain hanyalah suatu bukti yang kuat bahwa orang Jawa sejak jaman prasejarah adalah Relegius dan ber keTuhan-an yang Maha Esa.

Dari tokoh Semar wayang ini akan dapat dikupas ,dimengerti dan dihayati sampai dimana wujud religi yang telah dilahirkan oleh kebudayaan Jawa .

Semar (pralambang ngelmu gaib) – kasampurnaning pati.

Gambar kaligrafi jawa tersebut bermakna :
Bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur-kamurkan Mardika artinya “merdekanya jiwa dan sukma”, maksudnya dalam keadaan tidak dijajah oleh hawa nafsu dan keduniawian, agar dalam menuju kematian sempurna tak ternodai oleh dosa. Manusia jawa yang sejati dalam membersihkan jiwa (ora kebanda ing kadonyan, ora samar marang bisane sirna durka murkamu) artinya : “dalam menguji budi pekerti secara sungguh-sungguh akan dapat mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu menjadi suatu kekuatan menuju kesempurnaan hidup”.

(disadur dari http://www.indospiritual.com/artikel_makna-filosofi-semar.html)

Filsafat Bambu vs Filsafat Padi

Kejarlah ilmu setinggi langit dan tetaplah berusaha seperti padi, itu kata-kata pepatah yang seringkali kita dengar. Mungkin tidak sekaligus seperti diatas, mungkin hanya kejarlah cita-citamu setinggi langit atau belajarlah dari padi yang artinya kira-kira seperti ini, “Setiap orang memiliki keinginan dan akan selalu memilikinya selama masih merasa hidup, maka cobalah untuk mencapai semuanya dan pada saat pencapaian itu pun apabila telah tercapai belajarlah pada padi, semakin berisi kan semakin merunduk. Read this post

Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (1)

Sebenarnya saya sedikit enggan untuk menuliskan ini dikarenakan hal ini bagi saya cukup pribadi sifatnya namun bagaimanapun juga saya pun tak lebih dari seorang manusia yang natinya akan menua dan mulai pikun, sehingga akhirnya saya coba tuangkan pengkajian saya tentang hidup saya dalam blog ini. Mungkin bagi yang belum mengerti arti tulisan ini mohon untuk tidak melihatnya sebagai hal yang negatif karena saat menurut anda, kita telah memandang langit, saya masih belajar untuk melihat lebih jelas bagaimana bentuk awan. Read this post

Selamat Galungan & Kuningan

Om Swastiastu, saya ucapkan selamat hari raya Galungan dan Kuningan bagi temen-temen umat Hindu yang merayakannya, mmm.. sebelumnya nih sekedar buat sharing aja, sejak kita kecil kita diduplikasi oleh ortu kita untuk setiap dina buda kliwon dunggulan memperingati yang namanya Galungan, sebenarnya Galungan itu hari raya resmi umat Hindu ya? trus apa di India juga merayakan Galungan ya?

Sama halnya seperti odalan/hari yang lain seperti Nyepi, Kuningan, Pagerwesi, Siwaratri, bahkan klo mau diikutkan seperti Purma, Tilem, Kajeng Kliwon dll. Apakah cuma umat Hindu di Bali atau di Indonesia yang merayakan?

Sepertinya hingga saat ini kita cuma tau Galungan adalah peringatan menangnya Dharma melawan Adharma, oke tapi kapan mulainya kok kita taunya udah selesai dan Dharma adalah pemenangnya, sama seperti kalo kita nonton The Dark Knight, begitu setelah keluar judul film langsung diikuti The End, kira-kira kalo seperti itu ngerti ngga jalan ceritanya?

Mungkin sebagian dari kita teah menyadari hal ini dan pernah juga mencari penjelasan akan makna Galungan n mungkin sebagian besar juga sama seperti saya (atau sebagian kecil?) justru malah tambah bingung hehe. Oleh karena itu saya mencoba untuk berbagi pengkajian yang saya lakukan ini dengan menekankan satu hal yang dari dulu adalah hal yang dikeramatkan (hanya sulinggih yang berhak) bahwa setiap orang berhak untuk mempelajari, mengkaji, memahami, menghayati dan meyakini bagaimana dia akan berhubungan dengan Tuhannya sendiri.

Ada beberapa hal yang juga sampai saat ini belum saya temukan

Apa sih Galungan itu? setiap kata pasti ada maknanya dan pastinya, ada makna dari kata Galungan (kemenangan Dharma melawan Adharma? saya rasa bukan). Galungan berasal dari kata “Galung”, mungkinkah sama dengan “Galang” (terang) atau sama dengan Gunung. Mulai dari saya tanyakan setiap sulinggih yang saya temui, cari dengan Google, lihat-lihat referensi di toko buku khusus menjual buku2 agama, tidak ada satu pun yang tahu betul dan mengerti makna kata galungan justru mereka mengupasapa arti di dalam (makna) hari Galungan tersebut, hehe klo menurut anda apakah anda tahu isi buah jeruk itu, baik rasanya bentuknya, warnanya klo belum mengupas kulitnya. Saya menemukan sedikit tulisan tentang Galungan dari PHDI Pusat yang intinya mereka mengatakan Galungan sama artinya dengan kemenangan, dan Galungan pun ada di India dengan nama Durga Puja. Menurut saya Galungan hingga saat ini masih suatu misteri yang belum terpecahkan asal-muasalnya paling nggak apakah Galungan itu sendiri ada di dalam Weda?

Bila kita amati semua Hari Raya yang kita peringati seperti Galungan, Kuningan dll datang setiap 6 bulan sekali pada “dina” yang sama, misal Galungan pada dina Buda Kliwon Dunggulan. Kenapa hari itu kok ngga hari Senin? (kebetulan saya aliran I Hate Monday hehe)

Sewaktu kita sekolah ataupun kuliah, kita diwajibkan memiliki buku pegangan untuk setiap mata pelajaran atau kuliah yang kita ikuti. Tujuannya tentu agar kita bisa belajar di rumah tentang pelajaran tersebut, ga mungkin kan dosennya kita lipat di tas trus suruh ngajarin di rumah? Pemikiran saya mirip seperti itu terhadap Weda.

Weda adalah Kitab Suci Hindu adalah pegangan hidup bagi Umat Hindu. Bila Hindu adalah suatu pelajaran tentang Hidup maka Weda adalah Diktatnya, bagi saya bila ingin tahu Hindu dan bagaimana Hindu pahamilah Weda, apakah semudah itu? Ya, namun satu hal yang kembali harus kita sadari bersama adalah tidak ada orang yang sama satu sama lain, begitupun dalam mempelajari Weda dan untuk menengahi hal tersebutlah fungsi dari PHDI. Kembali ke Galungan dan mengapa saya berceloteh sedikit tentang Weda adalah bila kita menetapkan Weda sebagai Kitab suci Hindu dan Galungan ternyata tidak tercantum dalam hal apapun di dalamnya, lalu apa dasar kita menjalankannya, Agama atau Adat Budaya?

Sekali lagi bila anda membaca hal ini sebagai hal yang negatif itu adalah hal yang wajar, namun positifnya bagi saya adalah celah inilah yang harus dipersamakan oleh seseorang/lembaga yang sepatutnya terpilih untuk itu apakah itu sulinggih, PHDI dll.

Satu hal yang saya sadari sejak kecil/SD saya diajarkan oleh guru saya bahwa 1+1=2 dan itu adalah proses duplikasi yang ilmiah karena saya diajarkan mengapa 1+1=2, seandainya bila saya dulu diajarkan 1+1=3 mungkin hari ini saya akan menduplikasi anak saya hal yang sama. Begitupun yang saya harapkan dari “Guru”/pemuka agama, dll dalam hal menduplikasi ajaran agama mulailah dari Weda dulu karena Weda yang kita jadikan sebagai pegangan hidup dan apa makna dasarnya dulu jangan langsung ke prosesnya sehingga kami benar-benar tahu bukan sok tahu.