ASTHABRATA

AJARAN ASTHABRATA pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pangkur, jumlah baitnya ada 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur oleh panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.

Demikian antara lain diungkapkan Prof. DR. Marsono (52), Dosen Fakultas Budaya Jurusan Sastra UGM, di hadapan peserta sarasehan Jumat Kliwonan Lembaga Javanologi, di nDalem Joyodipuran, Yogyakarta, pada 6 Juli 2001. Dalam sarasehan yang dihadiri 30 peserta, Marsono mengatakan, Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata

Secara rinci Marsono menguraikan masing-masing ajaran dengan memberikan kutipan teks sebagaimana terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, Nitisruti dan Ramayana Kakawin Jawa Kuna.

  1. Sang Hyang Indra adalah Dewa Hujan. Ia mempunyai sifat menyediakan apa yang diperlukan di bumi, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.
  2. Sang Hyang Yama adalah Dewa Kematian. Ia membasmi perbuatan jelek dan jahat tanpa pandang bulu.
  3. Sang Hyang Surya adalah Dewa Matahari. Sifatnya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.
  4. Sang Hyang Candra adalah Dewa Bulan,  ia selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepada siapa saja.
  5. Sang Hyang Bayu adalah Dewa Angin. Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat diketahui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya.
  6. Sang Hyang Kuwera adalah Dewa Kekayaan. Sifatnya ulet dalam berusaha mengumpulkan kekayaan guna kesejahteraan warga masyarakatnya. Ia sebagai penyandang dana.
  7. Sang Hyang Baruna adalah Dewa Samudera. Sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya. Namun samudera tidak tumpah. Hyang Baruna seperti samudera bisa menampung apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera.
  8. Sang Hyang Brama adalah Dewa Api . sifat api bisa membakar menghanguskan dan memusnahkan benda apa saja. Ia pun dapat memberikan pelita dalam kegelapan  Hyang Brama seperti api bisa membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedangdalam keadaan kegelapan.

Kalau dirangkum amanat asthabrata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin itu sebagai berikut : Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya: membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang; bersifat bijaksana, sabar , ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan dana bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, naik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya. Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita hingga kini sampai ke masa depan.

RESI DRIYA

Karya sastra Jawa Klasik berbahasa Jawa Baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf. Disebut juga mistis karena berisikan tentang jalan ke arah kesempurnaan batin, kepercayaan bahwa pengetahuan kepada kebenaran dan Allah dapat dicapai dengan jalan penglihatan batin. Istilah Resi Driya mempunyai makna ‘orang arif dalam mengenal dan mengandalkan indranya’. Isi teks merupakan ajaran kerohanian yang disampaikan oleh Resi Driya, dengan harapan mudah-mudahan pembaca atau pendengar tergugah hatinya untuk memperbaiki akhlaknya dan menjalankan perintah agama sehingga dapat selamat di dunia dan akhirat. Ajaran kerohanian dituangkan dalam ajaran pengenalan jati diri melalui pemanfaatan indra manusia.

Manusia hendaklah mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan kesalamatan di dunia dan akhirat, tetapi tidak mengasingkan diri dari keramaian kehidupan dunia. Ia harus mengetahui dan mengenali bahwa Tuhan itu ada dan Esa, tidak ada sesuatu yang menyamainya. Pengenalan dan kepercayaan terhadap kekuasaan Tuhan timbul dari terbukanya indra manusia yang selaras dengan nikmat dan amanat-Nya. Pada taraf ini dorongan nafsu pemuas diri telah terkendali, segala kewajiban dikerjakan dengan cermat, dihadapi dengan sabar dan tawakal. Dengan berbekal akhlak yang baik maka keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan dengan isi alam raya akan tercapai. Indra manusia diciptakan utntuk mengungkapkan simbol-simbol yang tak terbatas. Apabila seluruh indra dipenuhi nafsu, maka manusia tidak akan menemukan jati dirinya. Dengan ketaatan, nikmat, dan amanat-Nya dalam memanfaatkan indra, maka jati dirinya akan ditemukan. Dengan ditemukan jati dirinya, tabir menuju kepada-Nya akan tersingkap. Unsur hidup manusia terdiri atas : raga, jiwa, dan sukma. Raga adalah wujud fisik atau badan manusia, jiwa adalah kesadaran hidup yang mendorong adanya cipta, rasa dan karsa. Sukma adalah sinar Ilahi penerang jiwa.

Empat nafsu yang disebutkan dalam suluk ini adalah nafsu yang berasal dari mata, hidung, telinga dan mulut. Nafsu lauwamah timbul dari mulut atau lidah, nafsu amarah timbul dari telinga, nafsu sufiah timbul dari mata, dan nafsu mutmainah timbul dari hidung. Tiga hal yang harus disingkirkan adalah nafsu sufiah, amarah dan lauwamah. Nafsu mutmainah tempatnya dihati, oleh sebab itu manusia apabila hatinya telah tergoyahkan, maka tidak bisa mengelak, pasti mendapat celaka. Segala yang berangkat dari nafsu akan menghasilkan sesuatu yang dapat mencelakakan dirinya, tetapi apabila berangkat dari hati nurani, maka akan terbimbinglah hidupnya. Seluruh uraian yang terkandung di dalamnya pada hakikatnya menunjukkan cara menuju kemanunggalan diri sendiri dengan Tuhan.

DARMAGANDHUL

Darmagandhul, karya sastra Jawa klasik, berbahasa Jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Suluk ini ditulis oleh Ki Kalamwadi, waktu penulisan hari sabtu legi, 23 ruwah 1830 Jawa. Amanat ajaran dalam teks dituangkan dalam bentuk dialaog antara Ki Kalamwadi dengan Darmagandhul, isi teks menceritakan jatuhnya kerajaan Majapahit karena serbuan tentara Demak Bintara yang dibantu para wali.

Ki Kalamwadi berguru kepada Reden Budi, sementara Raden Budi mempunyai murid bernama Darmagandhul. Darmagandhul menanyakan kepada gurunya mengenai kapan agama Islam itu datang di pulau Jawa. Ki Kalamwadi menjawab bahwa pada zaman Majapahit saat pemerintahan Prabu Brawijaya, permaisuri Prabu Brawijaya membujuk agar beliau beralaih ke agama Islam. Sayid Rahmat atau Sunan Bonang, kemenakan permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa, diberi tanah di Tuban dan diizinkan untuk menyebarkan agama Islam. Daerah penyebarannya sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Blambangan sampai Banten. Kemudian datanglah Raden Patah, yakni putra Prabu Brawijaya yang lahir di tanah Palembang, yang diberi tanah Demak dan sebagai adipati, juga diizinkan menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang di daerah Kediri mendapatkan tantangan dari Ki Buta Locaya penguasa di daerah tersebut. Kemudian Sunan Bonang menuju ke desa Bogem, dan merusak arca kuda berkepala dua karya Prabu Jayabaya. Perusakan arca tersebut mendapatkan tentangan Ki Buta Locaya yang mendesak agar Sunan Bonang pergi dari daerah itu. Patih Gajah Mada menghadap Prabu Brawijaya dan memberitahukan bahwa tanah Kertasana rusak akibat perbuatan Sunan Bonang. Akhirnya, Prabu Brawijaya memerintahkan agar mengusir kaum Islam dari daerah Majapahit, kecuali kaum muslimin yang tinggal di Ngampelgading dan Demak, Sunan Bonang dan Sunan Giri menyingkir ke Tuban dan berlindung ke Demak.

Perlawanan antara pasukan Prabu Brawijaya dengan Sultan Demak , dalam pertempuran sengit itu tentara Majapahit hancur, Gajah Mada gugur di medan laga. Kemudian orang-orang Majapahit yang takluk kepada Demak diperintahkan masuk agama Islam. Akhirnya Sultan Patah yang didukung oleh para wali pergi ke Ngampeldenta untuk menghadap neneknya. Neneknya Nyai Ngampeldenta sangat menyesal perbuatan yang dilakukan oleh Sultan Patah dalam melawan ayahnya.

Ia mempermasalahkan Sultan Patah beserta para wali yang tidak baik misalnya budi kepada Prabu Brawijaya. Ia memberikan beberapa contoh yang tidak baik misalnya kejadian di Mesir yang dialami Nabi Daud, perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Dewatacengkar terhadap ayahnya, Prabu Sindhula dan peristiwa Prabu Danapati raja Lokapala melawan ayahnya, Sang resi Wisrawa.

Contoh-contoh tersebut merupakan permusuhan antara anak melawan ayahnya, seperti halnya yang dilakukan oleh Sultan Patah terhadap Prabu Brawijaya. Dengan adanya penjelasan dari neneknya tadi, maka Sultan Patah sangat sedih dan menyesal atas segala perbuatannya. Ahkirnya Sunan Kalijaga diutus untuk mencari Prabu Brawijaya dan memohon kepadanya agar bersedia kembali menjadi raja Majapahit. Sekembalinya Sultan Patah ke Demak di sambut dengan gembira. Ia menceritakan hal itu kepada Sunan Bonang, akhirnya Sunan Bonang memberikan penjelasan secara panjang lebar bahwa perlawanannya terhadap ayahnya itu tidak berdosa, karena ayahnya seorang kafir.

Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya di Blambangan untuk menyampaikan tugasnya. Karena kepandaian Sunan Kalijaga maka bersedialah Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit. Ia sangat tertarik atas keterangan Sunan sehingga prasangka buruk akan agama Islam sedikit banyak hilang. Bahkan ia bermaksud untuk masuk agama Islam secara lahir maupun batin.

Penyebaran agama Islam terhadap punakawan Prabu Brawijaya, yakni Sabdapalon dan Nayagenggong, yang berakhir dengan penolakan ( tidak berhasil ) Sabdapalon menilai bahwa Prabu Brawijaya telah menyimpang dari para pendahulunya yang melestarikan agama Budha. Sunan Kalijaga berusaha menghibur hati Prabu Brawijaya utuk bahwa ajaran agama Islam itu baik dan diridhoi Tuhan. Sunan bersabda bahwa air telaga itu berbau wangi, dan terjadilah demikian. Setelah selama seminggu dalam perjalanan yang melewati Panarukan, Besuki dan Prabalingga akhirnya sampailah di Ngampeldenta.

Jatuhnya Kerajaan Majapahit atas serangan Demak yang dilukiskan secara simbolis. Darmagandhul juga minta penjelasan tentang agama Nasrani yang kemudian dijelaskan oleh Kalamwadi. Disebutkan bahwa agama Nasrani itu dibawa oleh Nabi Ngisa, Putra Tuhan. Dijelaskan pula, bahwa sebenarnya Sultan Demak merasa menyesal atas penyerbuannya ke Kerajaaan Majapahit. Ia merasa berdosa melawan ayahnya. Bahkan ia merasa pula bahwa pengangkatannya sebagai Sultan Demak itu juga dari ayahnya. Akan tetapi semuanya telah terjadi, maka Sultan Demak dengan bersedih hati kembali ke Demak. Darmagandhul menguraikan tentang sebab-sebab Nabi Adam dan Ibu Kawa turun dari surga terkena marah Tuhan. Darmagandhul tidak mengetahui bagaimana pandangan kitab Jawa tentang Nabi Adam itu. Ki Kalamwadi menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mempunyai kitab yang menceritakan tentang pengusiran Tuhan terhadap Nabi Adam dan Ibu Kawa itu. Kitab yang menjadi pegangan raja hanyalah Manikmaya. Darmagandhul juga menguraikan pendapatnya bahwa baginda, baik agama itu harus konsekuen mengerjakan peraturan yang ada di dalamnya. Namun, yang paling baik bagi orang Jawa adalah agama Budi, sebab agama Budi telah dianut sejak dahulu kala.

Perbedaan agama Islam, Nasrani, Cina dan Jawa. Ki Kalamwadi mencela orang yang naik haji ke Mekah dengan mengharapkan kelak masuk surga. Konon ada anggapan bahwa yang datang naik haji ke Mekah dan mencium kakbah akan terhapus dosanya dan nantinya masuk surga. Hal itu itu tidaklah benar. Orang akan masuk surga apabila dirinya bersih. Perbedaan adanya utusan dan kitab yang menjadi pegangan itu berbeda. Kalamwadi menjawab bahwa itulah kebebasan yang diberikan Tuhan agar manusia memilih agama yang menjadi kesenangannya. Meskipun demikian, agama Budi bagi orang Jawa tetap lebih tinggi dan sesuai.

Kalamwadi membentangkan ajaran itu kepada istrinya, Perjiwati, mengenai hal keutamaan dalam hidup dan mengenai ajaran perkawinan. Bekal perkawinan itu bukannya rupa dan harta akan tetapi hati. Perkawinan diibaratkan sebagai galah dan kemudi, yang masing-masing harus sejalan. Diuraikan pula mengenai 4 kemuliaan, yaitu: (1) kemuliaan yang lahir dari diri sendiri, (2) yang lahir dari harta benda pemilik, (3) kemuliaan karena kepandaiannya, (4) kemuliaan karena pengetahuannya. Generasi sekarang tidak boleh meremehkan generasi pendahulunya (orang kuna).

Menurut Ki Kalamwadi disebutkan bahwa bekas kerajaan Prabu Brawijaya tidak terletak di Kediri, akan tetapi terletak di Daha. Akhir kehidupannya, Prabu Jayabaya muksa diiringkan oleh Patih Tunggulwulung dan Nimas Ratu pagedhongan. Tunggulwulung diperintahkan menjaga Gunung Kelud sedangkan Nimas ratu Pegendhongan menjadi raja jin penguasa laut selatan dengan gelar Ratu Angin-Angin.

SERAT JONGKO JOYOBOYO

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Bila ada kereta tanpa kuda
One day there will be a cart without a horse.

Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah jawa terbelenggu besi
The island of Java will be circled by an iron necklace.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu terbang di angkasa
There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.
Sungai hilang arusnya
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhange.
Pasar sunyi
There will be markets without crowds.

Iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itu tanda datangnya jaman Jayabaya sudah dekat
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi kian menciut
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Setiap jengkal tanah dipajaki
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda doyan sambal (Kerakusan)
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Wanita mengenakan pakaian laki-laki
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu tandanya kita bertemu jungkir baliknya jaman
These are the signs that the people and their civilization
have been turned upside down.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak Janji tak ditepati
Many promises unkept.

Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Banyak manusia yang berani menyalahi sumpahnya sendiri
Many break their oath.

Manungsa pada seneng nyalah.
Manusia saling menyalahkan
People will tend to blame on each other.

Ora ngindahake hukum Allah.
Tiada mengindahkan hukum Allah
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Hal jahat diangkat
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Yang suci dibenci
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamake duwit.
Banyak manusia yang hanya mengutamakan uang
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Lupa kemanusiaannya
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Lupa kebajikan
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara
Abandoning their families.

Akeh Bapa lali anak.
Banyak bapak lupa anak
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibundanya
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
Menantang ayah
And battle against their fathers.

Sedulur pada cidra.
Saudara pada bertengkar
Siblings will collide violently.

Kulawarga pada curiga.
Keluarga saling curiga
Family members will become suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Teman jadi musuh
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak manusia lupa asalnya
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukum tidak adil
The queen’s judgements will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pejabat yang jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak perilaku yang aneh2
Many will behave strangely.

Wong apik-apik pada kepencil.
Orang baik-baik terpencil
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin.
Banyak orang malu melakukan pekerjaan baik-baik
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Lebih utama membohongi
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Malas berkerja
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Tapi ingin hidup mewah
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Mengumbar nafsu angkara murka, memperbanyak dosa durhaka
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
Orang baik pada bingung
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
Orang yang salah bergembira
The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.
Orang baik ditolak
The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat
The evil ones will rise to the top.

Wong agung kesinggung.
Orang berhati mulia di kritik di sudutkan
Noble people will be wounded by unjust criticism.

Wong ala kepuja.
Yang berhati jahat malah dipuja
Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.
Kaum wanita hilang rasa malunya
Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Kaum pria hilang harga diri dan keberaniannya
Men will loose their courage.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Banyak pria tak beristri
Men will choose not to get married.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Banyak wanita yang tak setia dengan suaminya
Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu pada ngedol anake.
Banyak ibu menjual anaknya
Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Banyak wanita menjual badannya
Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.
Banyak orang bertukar pasangan
Couples will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.
Wanita menunggang kuda (mencari nafkah)
Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.
Laki-laki di rumah
Men will be carried in a stretcher.

Randa seuang loro.
Orang mudah bercerai
A divorcee will be valued at 17 cents.

Prawan seaga lima.
Nilai keperawanan/kesucian murah
A virgin will be valued at 10 cents.

Duda pincang laku sembilan uang.
Pria yang gak baik malah bernilai mahal
A crippled men will be valued at 75 cents.

Akeh wong ngedol ngelmu.
Banyak orang menjual ilmu dan pengetahuannya
Many will earn their living by trading their knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.
Banyak orang yg mengambil keuntungan dari orang lain
Many will claims other’s merits as their own.

Njabane putih njerone dadu.
Luarnya putih dalamnya hitam
It is only a cover for the dice.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Ngaku suci tapi kesuciannya palsu belaka
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.
Banyak kecurangan dan kelicikan
Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.
Banyak hujan salah musimnya
Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.
Banyak perawan tua
Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randa nglairake anak.
Banyak janda melahirkan anak
Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Banyak jabang bayi mencari ayahnya
Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.
Banyak yang menentang Agama
Religions will be attacked.

Perikamanungsan saya ilang.
Perikemanusian hilang semuanya
Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.
Rumah suci dibenci
Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.
Tempat maksiat dipuja2
They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Wanita lacur bertebaran dimana2
Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.
Banyak kelaknatan
There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkhianat.
Banyak pengkhianat
There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.
Anak makan bapak
Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.
Saudara saling memakan
Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.
Teman jadi musuh
Friends will become enemies.

Guru disatru.
Guru dilawan
Students will show hostility toward teachers.

Tangga pada curiga.
Tetangga pada curiga
Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.
Dimana-mana banyak angkara murka
And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.
Saksi jadi tersangka
The eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.
Orang tak tahu menahu jadi tertuduh
The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.
Satu saat nanti akan ada peperangan
One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Di timur, selatan dan utara
In the east, in the west, in the south, and in the north.

Akeh wong becik saya sengsara.
Banyak orang baik-baik jadi sengsara
Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.
Orang Jahat senang
Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul.
Banyak kebohongan
When this happens, a rice cooker will be said to be an egret.

Wong salah dianggep bener.
Yang salah dianggap benar
The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat nikmat.
Pengkhianat nikmat
Betrayers will live in the utmost of material comfort.

Durjono saya sempurna.
Terlebih lagi Sang durjana
The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat
The evil persons will rise to the top.

Wong lugu kebelenggu.
Orang yang naif terbelenggu
The modest will be trapped.

Wong mulyo dikunjoro.
Orang mulia dipenjara
The noble will be imprisoned.

Sing curang garang.
Yang berhati curang garang
The fraudulent will be ferocious.

Sing jujur kojur.
Yang jujur susah setengah mati
The honest will unlucky.

Pedagang akeh sing keplarang.
Many merchants will fly in a mess.

Wong main akeh sing ndadi.
Perjudian makin menjadi
Gamblers will become more addicted to gambling.

Akeh barang haram.
Banyak barang haram
Illegal things will be everywhere.

Akeh anak haram.
Banyak anak haram
Many babies will be born outside of legal marriage.

Wong wadon nglamar wong lanang.
Kaum wanita melamar pria
Women will propose marriage.

Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Kaum pria merendahkan derajatnya sendiri
Men will lower their own status.

Akeh barang-barang mlebu luang.
Banyak barang tak terjual
The merchandise will be left unsold.

Akeh wong kaliren lan wuda.
Banyak orang tak berpunya pangan maupun sandang
Many people will suffer from starvation and inability
to afford clothing.

Wong tuku nglenik sing dodol.
Pembeli lebih pintar dari penjual
Buyers will become more sophisticated.

Sing dodol akal okol.
Penjual harus putar akal mati2an
Sellers will have to use their brains and muscle to do business.

Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
Susah cari makan
In the way they earn a living, people will be as rice paddies being
swung around and blown up.

Sing kebat kliwat.
Banyak yg hilang kendali
Some will go wild out of control.

Sing telah sambat.
Yang tak berambisi tertinggal
Those who are not ambitious will complaint of being left behind.

Sing gede kesasar.
Yang besar tersesat
The ones on the top will get lost.

Sing cilik kepleset.
Yang kecil terpeleset
The ordinary people will slip.

Sing anggak ketunggak.
Yang angkuh akan terhalang
The arrogant ones will be impaled.

Sing wedi mati.
Yang takut tak akan bertahan
The fearful ones will not survive.

Sing nekat mbrekat.
Yang nekat akan berhasil
The risk takers will be successful.

Sing jerih ketindhih.
Yang takut akan tertindas
The ones who are afraid of taking the risks will be crushed under
foot.

Sing ngawur makmur,
Yang ngawur justru makmur
The careless ones will be wealthy.

Sing ngati-ati ngrintih.
Yang berhati2 merintih
The careful ones will whine about their suffering.

Sing ngedan keduman.
Yang edan kebagian
The crazy ones will get their portion.

Sing waras nggagas.
Tapi mereka yg waras (mental dan fisik) akan berpikir bijak
The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.

Wong tani ditaleni.
Petani terikat
The farmers will be controlled.

Wong dora ura-ura.
Para koruptor beruntung tak terkira
Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.

Ratu ora netepi janji, musna kekuasaane.
Raja tak menepati janji, musnah kekuasaannya
The queen who does not keep her promises will lose her power.

Bupati dadi rakyat.
Bupati menjadi rakyat
The leaders will become ordinary persons.

Wong cilik dadi priyayi.
Orang kecil jadi pemimpin
The ordinary people will become leaders.

Sing mendele dadi gede,
Orang tak jujur akan jadi pejabat
The dishonest persons will rise to the top.

Sing jujur kojur.
Yang jujur sekarat
The honest ones will be unlucky.

Akeh omah ing nduwur jaran.
Banyak rumah berada di atas kuda
There will be many people own a house on horseback.

Wong mangan wong.
Orang makan orang
People will attack other people.

Anak lali bapak.
Anak lupa bapak
Children will ignore their fathers.

Wong tuwa lali tuwane.
Orang tua lupa tanggung jawabnya
Parents will not want to take their responsibility as parents.

Pedagang adol barang saya laris.
Pedagang menjual barang sangat laris
Merchants will sell out of their merchandise.

Bandane saya ludes.
Tapi hartanya ludes
Yet, they will lose money.

Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Banyak orang mati kelaparan dalam kemakmurannya
Many people will die from starvation in prosperous times.

Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara.
Banyak orang berpunya tapi hidupnya sengsara Many people will have
lots of
money yet, be unhappy in their lives.

Sing edan bisa dandan.
Yang edan berdandan mentereng
The crazy one will be beautifully attired.

Sing bengkong bisa nggalang gedong.
Yang berhati bengkok bisa membangun rumah gedong
The insane will be able to build a lavish estate.

Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
Yang berhati lurus hidupnya memprihatinkan dan tersisih
The ones who are fair and sane will suffer in their lives
and will be isolated.

Ana peperangan ing njero.
Akan ada perang saudara
There will be internal wars.

Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
Para petinggi saling salah paham
As a result of misunderstandings between those at the top.

Durjana saya ngambra-ambra.
Kedurjanaan bersimaharajalela
The numbers of evil doers will increase sharply.

Penjahat saya tambah.
Penjahat bertambah
There will be more criminals.

Wong apik saya sengsara.
Orang baik-baik sengsara
The good people will live in misery.

Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
Banyak yang mati dalam peperangan
There will be many people die in a war.

Kebingungan lan kobongan.
Kebingungan dan semuanya habis terbakar
Others will be disoriented, and their property burnt.

Wong bener saya tenger-tenger.
Yang benar kebingungan
The honest will be confused.

Wong salah saya bungah-bungah.
Yang salah bergembiraria
The dishonest will be joyful.

Akeh banda musna ora karuan lungane.
Banyak harta habis tak tentu arah
There will be disappearance of great riches.

Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.
Jabatan dan kekayaan hilang tak diketahui sebabnya There will be
disappearance of great titles, and jobs.

Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
Banyak barang haram, banyak anak haram
There will be many illegal goods, There will be many babies born
without fathers.

Bejane sing lali, bejane sing eling.
Seberuntung2nya mereka yang lupa diri, akan lebih bahagia mereka yang
selalu
ingat (dzikr)

Nanging sauntung-untunge sing lali.
Namun seuntung2nya yang lupa diri
Those people who forget God’s Will may be happy on earth.

Isih untung sing waspada.
Akan lebih untung mereka yang ingat waspada
But those who are remember God’s will are destined
to be happier still.

Angkara murka saya ndadi.
Angkara murka makin menjadi
Ruthlessness will become worse.

Kana-kene saya bingung.
Kebingungan dimana2
Everywhere the situation will be chaotic.

Pedagang akeh alangane.
Pedagang banyak halangannya
Doing business will be more difficult.

Akeh buruh nantang juragan.
Banyak buruh menantang juragan
Workers will challenge their employers.

Juragan dadi umpan.
Juragan jadi umpan
The employers will become bait for their employees.

Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Yang suaranya keras akan mendapat pengaruh(kekuasaan)
Those who speak out will be more influential.

Wong pinter diingar-ingar.
Orang yg pintar jadi bulan2an
The wise ones will be ridiculed.

Wong ala diuja.
Orang yang salah dipuja
The evil ones will be worshipped.

Wong ngerti mangan ati.
Orang yang paham akan makan ati
The knowledgeable ones will show no compassion.

Banda dadi memala.
Harta benda jadi penyakit
The pursuit of material comfort will incite crime.

Pangkat dadi pemikat.
Jabatan terlihat menggiurkan
Job titles will become enticing.

Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Yang sewenang-wenang berasa menang
Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.

Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Yang mengalah seakan-akan kalah
Those who act wisely will feel as if everything is wrong.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.
Para pemimpin rendah imannya
There will be leaders who are weak in their faith.

Patihe kepala judi.
Patih nya saja gembong judi
Their vice regent will be selected from among the ranks of the
gamblers.

Wong sing atine suci dibenci.
Yang hatinya suci malah dibenci
Those who have a holy heart will be rejected.

Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Yang jahat dan pintar malah mendapat derajat
Those who are evil, and know how to flatter their boss,
will be promoted.

Pemerasan saya ndadra.
Pemerasan makin menjadi
Human exploitation will be worse.

Maling lungguh wetenge mblenduk.
Maling duduk santai dengan perutnya yang gendut
The corpulent thieves will be able to sit back and relax.

Pitik angkrem saduwurane pikulan.
Ayam mengeram stinggi pikulan (Petinggi banyak yg berbuat curang)
The hen will hacth eggs in a carrying pole.

Maling wani nantang sing duwe omah.
Maling berani menantang yang punya rumah
Thieves will not be afraid to challenge the target.

Begal pada ndugal.
Begal makin gila
Robbers will dissent into greater evil.

Rampok pada keplok-keplok.
Rampok mendapat tepuk tangan
Looters will be given applause.

Wong momong mitenah sing diemong.
Pengasug difitnah oleh yg diasuh
People will slander their caregivers.

Wong jaga nyolong sing dijaga.
Penjaga nyolong milik yang dijaga
Guards will steel the very things they are to protect.

Wong njamin njaluk dijamin.
Penjamin minta dijamin
Guarantors will ask for collateral.

Akeh wong mendem donga.
Banyak yang minta doa
Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.
Semua orang berebut kemenangan pribadi
Everybody will compete for personal victory.

Angkara murka ngombro-ombro.
Angkara murka tersebar dimana2
Ruthlessness will be everywhere.

Agama ditantang.
Agama ditantang
Religions will be questioned.

Akeh wong angkara murka.
Banyak orang yang angkara murka
Many people will be greedy for power, wealth and position.

Nggedeake duraka.
Memperbanyak dosa
Rebelliousness will increase.

Ukum agama dilanggar.
Hukum agama dilanggar
Religious law will be broken.

Perikamanungsan di-iles-iles.
Perikemanusiaan diinjak-injak
Human rights will be violated.

Kasusilan ditinggal.
Kesusilaan ditinggalkan
Ethics will left behind.

Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Banyak orang edan, jahat dan kehilangan akal budi
Many will be insane, cruel and immoral.

Wong cilik akeh sing kepencil.
Orang kecil tersingkir
Ordinary people will be segregated.

Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
Mereka akan jadi korban si hati jahat dan iblis
They will become the victims of evil and cruel persons.

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Akan ada raja yang berpengaruh
Then there will come a queen who is influential.

Lan duwe prajurit
Memiliki bala tentara
She will have her own armies.

Negarane ambane sapra-walon.
Negaranya seluas seperdelapan dunia
Her country will measured one-eighth the circumference of the world.

Tukang mangan suap saya ndadra.
Tukang makan uang suap makin banyak
The number of people who commit bribery will increase.

Wong jahat ditampa.
Orang jahat diterima
The evil ones will be accepted.

Wong suci dibenci.
Orang suci dibenci
The innocent ones will be rejected.

Timah dianggep perak.
Timah dianggap perak
Tin will be thought to be silver.

Emas diarani tembaga
Emas dibilang tembaga.
Gold will be thought to be copper.

Dandang dikandakake kuntul.
A rice cooker will be thought to be an egret.

Wong dosa sentosa.
Pendosa sentosa
The sinful ones will be safe and live in tranquility.

Wong cilik disalahake.
Orang kecil disalahkan
The poor will be blamed.

Wong nganggur kesungkur.
Pengangguran terpuruk
The unemployed will be rooted up.

Wong sregep krungkep.
The diligent ones will be forced down.

Wong nyengit kesengit.
Orang akan menuntut balas terhadap yang menekannya The people will
seek
revenge against the fiercely violent ones.

Buruh mangluh.
Buruh bekerja habis2an
Workers will suffer from overwork.

Wong sugih krasa wedi.
Yang kaya ketakutan
The rich will feel unsafe.

Wong wedi dadi priyayi.
Yang berpunya merasa tak aman
People who belong to the upper class will feel insecure.

Senenge wong jahat.
Yang jahat senang
Happiness will belong to evil persons.

Susahe wong cilik.
Yang kecilan susah
Trouble will belong to the poor.

Akeh wong dakwa dinakwa.
Orang saling menuntut satu sama lain
Many will sue each other.

Tindake menungsa saya kuciwa.
Perilaku manusia semakin rendah
Human behaviour will fall short of moral enlightenment.

Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Raja dengan raja berembug, negara mana yang disenangi
Leaders will discuss and choose which countries are their
favourites and which ones are not.

Wong Jawa kari separo,
Orang jawa tinggal separuhnya
The Javanese will remain half.

Landa-Cina kari sejodo.
Orang Belanda dan China tinggal sejodoh
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Banyak kelicikan kebusukan
Many become stingy.

Sing eman ora keduman.
The stingy ones will not get their portion.

Sing keduman ora eman.
The ones who receive their portion will not be generous.

Akeh wong mbambung.
Banyak pengemis dimana2
Street beggars will be everywhere.

Akeh wong limbung.
Banyak orang bingung/stress tak tentu arah
Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
Inilah tanda-tanda terbaliknya zaman
These are the signs that the people and their civilization
have been turned upside down

WEDHATAMA, Mangkunegoro IV

Secara semantik, Serat Wedhatama terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan tama berasal dari kata utama yang artinya baik, tinggi atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian: sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan dan keluhuran hidup dan kehidupan umat manusia.Serat Wedhatama yang memuat filsafat Jawa ini ditulis oleh Kangjeng Gusti Pangeran Arya (KGPA) Mangkunegara IV yang terlahir dengan nama Raden Mas Sudira pada hari Senin Paing, tanggal 8 Sapar, tahun Jimakir, windu Sancaya, tahun Jawa 1738, atau tahun Masehi 3 Maret 1811.

Semasa hidupnya, beliau memerintah Kasunanan Mangunegaran selama 25 tahun sejak 24 Maret 1853 dengan catatan prestasi di antaranya: di bidang pemerintahan, beliau mempertegas batas wilayah batas Kasunanan Mangunegaran; di bidang pertahan dan militer, beliau menerapkan kewajiban mengikuti pendidikan selama 6-9 bulan bagi para kerabat dewasa, yang kemudian harus menjadi pegawai negara dalam berbagai bidang. Di bidang ekonomi, beliau berhasil membangun pusat-pusat kegiatan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi rakyat, seperti pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu, pabrik bungkil di Polokarto, pabrik genteng dan perkebunan karet di beberapa tempat dan lain sebagainya.  Sedang di bidang sosial budaya, menghasilkan karya sastra, tarian jawa, pembaharuan dalam musik gamelan Jawa dan sebagainya.

Sri Mangkunegara wafat pada hari Jumat tanggal 8 September 1881 pada usia 70 tahun. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Namun seiring dengan perjalanan waktu,  nilai budaya luhur yang ditinggalkannya secara pelan dan pasti semakin tergerus budaya asing dalam perjalanan waktu. Hal ini terjadi karena generasi muda penerus budaya dan kehidupan bangsa ini lebih pada kenyataannya banyak yang budaya manca dalam berbagai bentuknya, yang kebanyakan justru menjauhi esensi hidup dan kehidupan umat manusia dan alam semesta.

Agar Serat Wedhatama ini lebih mudah dipelajari dan dipahami berbagai lapisan masyarakat, disini disajikan naskah dalam versi Bahasa Jawa dan versi Bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia

· Mingkar mingkuring angkara

· Akarana karenan mardi siwi

· Sinawung resmining kidung

· Sinuba sinukarta

· Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung

· Kang tumrap neng tanah Jawa

· Agama ageming aji

· Menghindarkan diri dari angkara

· Bila akan mendidik putra

· Dikemas dalam keindahan syair

· Dihias agar tampak indah

· Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai

· Kenyataannya, di tanah Jawa

· Agama dianut raja

· Jinejer neng Wedhatama

· Mrih tan kemba kembenganing pambudi

· Mangka nadyan tuwa pikun

· Yen tan mikani rasa

· Yekti sepi asepa lir sepah samun

· Samangsane pakumpulan

· Gonyak-ganyik nglilingsemi

· Diuraikan dalam Wedhatama

· Agar tidak mengendurkan budi daya

· Pada hal meski tua renta

· Bila tak memahami perasaan

· Sama sekali tak berguna

· Misalnya dalam pertemuan

· Canggung memalukan

· Nggugu karsane priyangga

· Nora nganggo paparah lamung angling

· Lumuh ingaran balilu

· Uger guru aleman

· Nanging janma ingkang wus waspadeng semu

· Sinamun ing samudana

· Sesadon ingadu manis

· Menuruti keinginan pribadi

· Bila berbicara tanpa dipikir lebih dahulu

· Tak mau disebut bodoh

· Asal dipuji dan disanjung

· Tetapi manusia telah paham akan pertanda

· Yang ditutupi dengan kepura-puraan

· Ditampilkan dengan manis

· Si pengung ora nglegewa

· Sangsayarda denira cacariwis

· Ngandhar-andhar angendhukur

· Kandhane nora kaprah

· Saya elok alangka longkanganipun

· Si wasis waskitha ngalah

· Ngalingi marang si pingging

· Si bodoh tidak menyadari

· Bicaranya semakin menjadi-jadi

· Melantur-lantur semakin jauh

· Ucapannya tidak masuk akal

· Semakin aneh dan jauh dari kenyataan

· Si pandai dan waspada mengalah

· Menutupi kekurangan si bodoh

· Mangkono ngelmu kang nyata

· Sanyatane mung weh reseping ati

· Bungah ingaran cubluk

· Sukeng tyas yen den ina

· Nora kaya si punggu anggung gumunggung

· Agungan sadina-dina

· Aja mangkono wong urip

· Begitulah ilmu yang nyata

· Sesungguhnya hanya memberi kesejukan

· Bangga dikatakan bodoh

· Senang hatinya bila dihina

· Tidak seperti si bodoh yang besar kepala

· Minta dipuji setiap hari

· Orang hidup jangan begitulah

· Uripe sapisan rusak

· Nora mulur nalare ting saluwir

· Kadi ta guwa kang sirung

· Sinerang ing maruta

· Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung

· Pindha padhane si mudha

· Prandene paksa kumaki

· Hidupnya semakin rusak

· Nalarnya tidak berkembang dan compang-camping

· Seperti gua yang gelap

· Diterpa angin badai

· Menggeram, mengaung, gemuruh

· Sama siperti si muda

· Meski begitu ia tetap sombong

· Kikisane mung sapala

· Palayune ngendelken yayah-wibi

· Bangkit tur bangsaning luhur

· Lah iya ingkang rama

· Balik sira sasrawungan bae durung

· Mring atining tata krama

· Ngon-anggo agama suci

· Kemampuannya sangat kecil

· Geraknya bergantung kepada ayah-ibu

· Terpandang dan tingkat luhur

· Itulah orang tuanya

· Sedangkan belum mengenal

· Artinya sopan-santun

· Yang merupakan ajaran agama

· Socaning jiwangganira

· Jer katara lamun pocapan pasthi

· Lumuh asor kudu unggul

· Sumengah sosongaran

· Yen mangkono kena ingaran katungkul

· Karem ing reh kaprawiran

· Nora enak iku kaki

· Sifat-sifat dirimu

· Tampak dalam tutur-bicara

· Tak mau mengalah, harus selalu menang

· Congkak penuh kesombongan

· Sikap seperti itu salah

· Gila kemenangan

· Itu tak baik, anakku

· Kekerane ngelmu karang

· Kakarangan saking bangsaning gaib

· Iku boreh paminipun

· Tan rumasuk ing jasad

· Amung aneng sajabaning daging kulup

· Yen kapengkok pancabaya

· Ubayane mbalenjani

· Yang termasuk ilmu takhayul

· Pesona yang berasal dari hal-hal gaib

· Ibarat bedak

· Tidak meresap ke dalam tubuh

· Hanya ada berada di luar daging, anakku

· Jika tertimpa mara bahaya

· Pasti akan mengingkari

· Marma ing sabisa-bisa

· Babasane muriha tyas basuki

· Puruita kang patut

· Lan traping angganira

· Ana uga angger-ugering keprabun

· Abon-aboning panembah

· Kang kambah ing siyang ratri

· Maka sedapat mungkin

· Usahakan berhati baik

· Mengabdilah dengan baik

· Sesuai dengan kemampuanmu

· Juga tata-cara kenegaraan

· Tata-cara berbakti

· Yang berlaku sepanjang waktu

· Iku kaki takokena

· Marang para sarjana kang martapi

· Mring tapaking tepa tulus

· Kawawa naheb hawa

· Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu

· Tan mesthi neng janma wredha

· Tuwin muda sudra kaki

· Bertanyalah anakku

· Kepada para pendeta yang bertirakat

· Kepada segala teladan yang baik

· Mampu menahan hawa nafsu

· Pengetahuanmu akan kenyataan ilmu

· Tidak hanya terhadap orang tua-tua

· Dan orang muda dan hina anakkku

· Sapa ntuk wahyuning Allah

· Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit

· Bangkit mikat reh mangukut

· Kukutaning jiwangga

· Yen mangkono kena sinebut wong sepuh

· Liring sepuh sepi hawa

· Awas roroning atunggal

· Barangsiapa mendapat wahyu Tuhan

· Akan cepat menguasai ilmu

· Bangkit merebut kekuasaan

· Atas kesempurnaan dirinya

· Bila demikian, ia dapat disebut orang tua

· Artinya sepi dari kemurkaan

· Memahami dwi-tunggal

· Tan samar pamoring sukma

· Sinukmanya winahya ing ngasepi

· Sinimpen telenging kalbu

· Pambukaning wanara

· Tarlen saking liyep layaping ngaluyup

· Pindha sesating supena

· Sumusiping rasa jati

· Tidak bingung kepada perpaduan sukma

· Diresapkan dan dihayati di kala sepi

· Disimpan di dalam hati

· Pembika tirai itu

· Tak lain antar sadar dan tidak

· Bagai kilasan mimpi

· Merakna rasa yang sejati

· Sajatine kang mangkana

· Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi

· Bali alaming asuwung

· Tan karem karameyan

· Ingkang sipat wisesa-winisesa wus

· Milih mula-mulanira

· Mulane wong anom sami.

· Sesungguhnya yang demikian itu

· Telah mendapat anugerah Tuhan

· Kembali ke alam kosong

· Tak suka pada keramaian

· Yang bersifat kuasa-menguasai

· Telah memilih kembali ke asal

· Demikianlah, anak muda

SERAT JOKOLODANG

Gambuh

Jaka Lodang gumandhul, Praptaning ngethengkrang sru muwus, Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi, Gunung mendhak jurang mbrenjul, Ingusir praja prang kasor

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon, kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras. Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan (akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.

Nanging awya kliru, Sumurupa kanda kang tinamtu, Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti, Maksih katon tabetipun, Beda lawan jurang gesong

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini. Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung akan tetap masih terlihat bekasnya. Lain sekali dengan jurang yang curam.

Nadyan bisa mbarenjul, Tanpa tawing enggal jugrugipun, Kalakone karsaning Hyang wus pinasti, Yen ngidak sangkalanipun, Sirna tata estining wong

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung, namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor. (Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi. Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan). Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan akan terjadi pada tahun Jawa 1850. (Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1). Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.

Sinom

Sasedyane tanpa dadya, Sacipta-cipta tan polih, Kang reraton-raton rantas, Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani, Kongas ing kanistanipun, Wong agung nis gungira, Sudireng wirang jrih lalis, Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud, apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan – perbuatan tercela. Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

Wong alim-alim pulasan, Njaba putih njero kuning, Ngulama mangsah maksiat, Madat madon minum main, Kaji-kaji ambataning, Dulban kethu putih mamprung, Wadon nir wadorina, Prabaweng salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka. Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak. Banyak ulama berbuat maksiat. Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi. Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

Para sudagar ingargya, Jroning jaman keneng sarik, Marmane saisiningrat, Sangsarane saya mencit, Nir sad estining urip, Iku ta sengkalanipun, Pantoging nandang sudra, Yen wus tobat tanpa mosik, Sru nalangsa narima ngandel ing suksma,

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut. Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1). Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.

Megatruh

Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu, Jaka Lodang nabda malih, Nanging ana marmanipun, Ing waca kang wus pinesthi, Estinen murih kelakon

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. Kemudian Joko Lodang berkata lagi : “Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya segera dan dapat terjadi “.

Sangkalane maksih nunggal jamanipun, Neng sajroning madya akir, Wiku Sapta ngesthi Ratu, Adil parimarmeng dasih, Ing kono kersaning Manon

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1). Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk, Malenuk samargi-margi, Marmane bungah kang nemu, Marga jroning kethuk isi, Kencana sesotya abyor,

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil), yang berada banyak dijalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana.

SERAT WULANGSUNU, Paku Buwono IV

Pupuh I

Wulang sunu kang kinarya gendhing, kang pinurwa tataning ngawula, suwita ing wong tuwane, poma padha mituhu, ing pitutur kang muni tulis, sapa kang tan nuruta saujareng tutur, tan urung kasurang-surang, donya ngakir tan urung manggih billahi, tembe matine nraka.

Wulang sunu yang dibuat lagu, yang dimulai dengan tata cara berbakti, bergaul bersama orang tuanya, agar semuanya memperhatikan, petunjuk yang tertulis, siapa yang tidak mau menurut, pada petunjuk yang tertulis, niscaya akan tersia-sia, niscaya dunia akherat akan mendapat malapetaka, sesudah mati di neraka.

Mapan sira mangke anglampahi, ing pitutur kang muni ing layang, pasti becik setemahe, bekti mring rama ibu duk purwa sira udani, karya becik lan ala, saking rama ibu, duk siro tasih jajabang, ibu iro kalangkung lara prihatin, rumeksa maring siro.

Bila nanti kamu melaksanakan petunjuk yang tertuang dalam serat pasti baik pada akhirnya berbakti kepada ibu bapak, ketika pertama kali diperlihatkan akan perbuatan baik dan buruk dari ibu bapak ketika kamu masih bayi, ibumu lebih sakit dan menderita memelihara kamu.

Nora eco dahar lawan ghuling, ibu niro rumekso ing siro, dahar sekul uyah bae, tan ketang wejah luntur, nyakot bathok dipunlampahi, saben ri mring bengawan, pilis singgul kalampahan, ibu niri rumekso duk siro alit, mulane den rumongso.

Tidak enak makan dan tidur, ibumu memelihara kamu walau hanya makan nasi garam walaupun hanya untuk membasahi kerongkongan , makan kelapa pun dilakukannya setiap hari mandi dan mencuci di sungai dengan langkah terseok-seok ibumu memelihara kamu ketika kecil untuk itu rasakanlah hal itu.

Dhaharira mangke pahit getir, ibu niro rumekso ing sira, nora ketang turu samben, tan ketang komah uyuh gupak tinjo dipun lampahi, lamun sira wawratana, tinatur pinangku, cinowekan ibu nira, dipun dusi esok sore nganti resik, lamun luwe dinulang

Keadaan pahit getir ibumu memelihara kamu dia tidur hanya sambilan meskipun penuh dengan air seni terkena tinja dilakukannya bila kamu buang air besar ditatur dan dipangku, dibersihkan oleh ibumu dimandikan setiap pagi dan sore sampai bersih, bila kamu lapar disuapi.

Duk sira ngumur sangang waresi, pasti siro yen bisa rumangkang, ibumu momong karsane, tan ketang gombal tepung, rumeksane duk sira alit, yen sira kirang pangan nora ketang nubruk, mengko sira wus diwasa, nora ana pamalesira, ngabekti tuhu sira niaya.

Ketika kamu berumur sembilan bulan, pada saat kamu bisa merangkak pekerjaan ibumu hanya menjagamu walau hanya memakai kain sambungan, memeliharamu ketika kamu masih kecil, bila kamu kurang makan, dicarikan sampai dapat, nanti kalau kamu sudah dewasa, tidak bisa pembalasanmu kecuali berbuat baik dan berbakti kepadanya.

Lamun sira mangke anglampahi, nganiaya ing wong tuwanira, ingukum dening Hyang Manon, tembe yen lamun lampus, datan wurung pulang lan geni, yen wong durakeng rena, sanget siksanipun, mulane wewekas ingwang, aja wani dhateng ibu rama kaki, prentahe lakonano.

Bila kamu nanti berbuat aniyaya terhadap orang tuamu, dihukum oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui, besok kalau mati niscaya akan kembali bersama api, kalau orang senang durhaka, siksanya sangat berat, maka aku berpesan jangan berani ibu bapak anakku, lakukan perintah keduanya.

Parandene mangke sira iki, yen den wulang dhateng ibu rama, sok balawanan ucape, sumahir bali mungkur, iya iku cegahen kaki, tan becik temahira, donya keratipun, tan wurung kasurang-kasurang, tembe mati sinatru dening Hyang widhi, siniksa ing Malekat.

Adapun kamu nanti, bila dididik ibu bapak ucapanmu sering berlawanan menyahut lalu berpaling, cegahlah itu anakku, tidak baik pada akhirnya, dunia akherat akan sia-sia, besok kalau mati dimusuhi Tuhan, disiksa oleh Malaikat.

Yen wong anom ingkang anastiti, tan mangkana ing pamang gihira, den wulang ibu ramane, asilo anem ayun, wong tuwane kinaryo Gusti, lungo teko anembah iku budi luhung, serta bekti ing sukma, hiyo iku kang karyo pati lan urip, miwah sandhang lan pangan.

Sedangkan anak muda yang baik, pendapatnya tidak begitu dididik ibi bapaknya, duduk bersila dihadapannya, orang tuanya bagaikan Tuhan, pergi pulang bersujud, itu adalah budi yang luhur serta berbakti kepada Tuhan Yang Maha Hidup yaitu yang menciptakan mati dan hidup serta pemberi sandang dan pangan.

Kang wus kaprah nonoman samangke, anggulang polah, malang sumirang, ngisisaken ing wisese, andadar polah dlurung, mutingkrang polah mutingkring, matengkus polah tingkrak, kantara raganipun, lampahe same lelewa, yen gununggungsarirane anjenthit, ngorekken wong kathah.

Yang sudah kaprah bagi anak muda, bertingkah malang melintang memanjakan diri, bertingkah yang keterlaluan duduk seenaknya dan tak tahu kesopanan, berlaku congkak, senang memperlihatkan badannya, kelakuannya tidak terarah, bila badannya tersentuh menjingkat dan selalu membuat onar orang banyak.

Poma aja na nglakoni, ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe, kasuluh solahipun, tan kuwama solah kang silip, semune ingeseman ing sasaminipun, mulaneta awakingwang, poma aja na polah kang silip, samya brongta ing lampah.

Ingat-ingat jangan ada yang melakukan, segala tingkah yang salah, tingkahnya pasti akan terkuak (diketahui orang banyak), ia akan tersuluh dan tidak kuat menyandangnya, seolah-olah semua orang hanya melempar senyum, untuk itu anakku, ingatlah jangan ada yang berbuat salah agar hidupmu tidak mengalami kesusahan.

Lawan malih wekas ingsun kaki, kalamun sira andarbe karsa, aja sira tinggal bote, murwaten lan ragamu, lamun derajatiro alit, aja ambek kuwawa, lamun siro luhur, den prawira anggepiro, dipun sabar jatmiko alus ing budi, iku lampah utama.

Ada lagi nasehatku anakku, bila kamu mempunyai kehendak jangan sampai memberatkan diri, jagalah badanmu, bila derajatmu kecil, jangan merasa pesimis, bila kamu menjadi orang luhur, tegakkanlah pendapatmu, bersabar dengan kehalusan, budi, itulah perbuatan yang utama.

Pramilane nonoman puniki, dan teberi jagong lan wong tuwa, ingkang becik pituture, tan sira temahipun, apan bathin kalawan lahir, lahire tatakromo, bathine bekti mring tuhu, mula eta wekasing wong, sakathahe anak putu buyut mami, den samya brongta lampah.

Maka dari itu kaum muda sekarang bersabarlah, bergaul dengan orang tua, perhatikanlah petunjuknya yang baik, dari lahir sampai batin, lahir dengan tatakrama, batinnya dengan berbakti kepadanya, itulah nasehatku semua anak cucu cicitku, agar hidupmu tidak mengalami kesusahan