Ninikku Pulang Ke Karang Wayah

Selasa, 01-11-2011.

Masih teringat rasanya baru jumat kemaren, Nenek saya masih jalan-jalan menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan rumah tangga. Nyuci piring botol-botol susu cucunya, nyapu, dan kegiatan ringan lainnya. Meski sudah sampe capek rasanya ini mulut untuk mengingatkan untuk duduk manis saja namun meski sudah sepuh namun masih ada juga kekanak-kanakan dari watak beliau alias bandel. Serba salah juga sebenarnya, ketika dilarang melakukan pekerjaan-pekerjaan itu pasti Nenek jadi jatuh sakit.

Hari Jumat sebelumnya sempat Nenek bertanya, “Yande mau kemana?”
“Yande mau ke Malang ya Nik”  jawab saya. Entah apakah beliau jelas mendengarkan perkataan saya atau tidak namun seperti biasa juga ninik cuman manggut-manggut saja. Keberangkatan saya k malang memang tidak memiliki firasat apapun smape akhirnya pada hari Senin pagi hari saat saya sampai, saya bertanya sama ibu, “Ninik mana bu?”

“Itu Ninik di kamar, lagi kumat perutnya” jawab ibu saya sambil bersiap-siap berangkat untuk mengajar.

Sejenak saya tengok ninik, terbaring di tempat tidurnya. Memang Ninik saya memiliki sakit maag yang kumat-kumatan, “Ninik… kenapa nik?” tanya saya sambil memegang perutnya ninik.

“Ulu hatinya ninik…” jawab ninik lemah sambil memegang tangan saya.

“Ntar ya nik, pulang yande dari kantor ta’ terapi” sahut saya kembali, biasanya memang bila ninik sakit saya nerapi beliau sekali – dua kali saja sudah bisa kembali beraktifitas seperti biasa. Kemudian saya tinggal ninik mandi kemudian berangkat ke kantor. Sepulang dari kantor, saya langsung makan dan kemudian mandi. Masuk ke kamar ninik, terlihat wajahnya sudah semakin pucat. Keringat dingin keluar namun warnanya bening dan terasa tawar. Ketika hendak mulai terapi feeling saya sudah merasakan sesuatu, namun saya mencoba untuk tetap fokus menyembuhkan beliau. Selesai nerapi saya ditanya oleh bapak saya.

“Gimana Nde, ninik ajak bapak ke rumah sakit ya?”, tanya Bapak.

“Tidak usah pak, kita lihat seminggu ini dulu saja”, jawab saya dengan spontan, pun demikian Bapak kembali menanyakan ke ninik saya sambil mencoba sedikit bohong.

“Bu… ke dokter ya, biar diperiksa”, tanya bapak saya kepada ninik.

“Ngga usah, biar ibu di rumah saja…” jawab Ninik saya, wajah beliau nampak sudah mulai kembali sedikit memerah setelah saya terapi. Namun malam itu sebentar-sebentar ninik selalu memanggil nama saya, anak saya Bagus mungkin juga sudah merasakan sesuatu dan dia ikut menunggui kumpinya.

Keesokan paginya saya kebali pergi ke kantor, saya sempatkan menegok kembali ke kamar ninik tampak tertidur pulas akhirnya saya berangkat ke kantor. Selasa Sore 01-11-2011 pkl. 16.00, saya ditelpon sama istri saya, “Wd, bisa pulang ngga? Ninik kok ngga sadar nih” kata istri saya dengan kebingungan.

“Iya mam, ntar wd pulang..” jawab saya, kemudian saya minta ijin dari kantor untuk pulang lebih cepat. Sesampainya saya di rumah, saya tengok ninik sebentar, nampak ninik sudah diselimuti oleh ibu.  Bergegas saya mandi untuk kembali nerapi ninik, tapi kata hati saya waktu itu… “Ikhlaskanlah….”

Namun saya bersikeras untuk tetap menerapi, saya yakin saya bisa. Begitu memegang pergelangan kaki ninik, tangan saya seolah tidak mau mengikuti kata otak saya untuk menerapi. Mereka tetap diam memegangi telapak kaki ninik saya, dan entah bagaimana hati ini mulai berdoa untuk “mengantarkan” akhirnya saya pasrah tidak lagi mencoba untuk melawan kata hati. Kemudian saya pegang tangan ninik, keduanya masih hangat. Masih ada denyut nadi meskipun terasa dalam dan lemah, nafas ninik pun sudah tidak lagi melalui hidung namun lewat mulut dan sangat lemah.

Bapak saya melihat saya seperti itu langsung mengontak sodara-sodara yang berdomisili di Denpasar. Sejam kemudian, rumah tiba-tiba saja ramai dengan isak tangis om-om saya. Saya bilang, “Ninik masih ada… yang mau minta maaf sekaranglah waktunya..”

Sau per satu Bapak dan Om-om minta maaf kepada ninik dan juga menyatakan keikhlasannya bila memang ninik sudah waktunya berangkat maka berangkatlah… namun hingga pkl. 18.00 saya merasa ninik masih ada, dalam hati saya bertanya, “Ninik… siapa lagi yang ninik tunggu?” Sekejap kemudian terbayang wajah adik ketiga saya Komang. Komang memang cucu kesayangan ninik, dia cucu yang paling dimanja. Waktu itu komang masih dalam perjalanan pulang dari kantornya di daerah Kuta. Saya bilang pada bapak juga untuk menelpon adik saya yang kedua, Dewi biar tidak ada lagi yang ditunggu sama ninik.

Betul saja begitu adik saya Komang sampai, Ninikpun berangkat… saya tahu, saat itu ketika ninik telah lepas serasa ada hembusan hawa dari ninik melewati saya kemudian perlahan dingin mulai merambat dari ujung jari tangan dan kaki. Sesak rasanya di hati melihat Ninik yang selalu menyayangi saya, mengasuh saya sejak bayi hingga saya sebesar ini sekarang meninggalkan saya. Komang adik saya menangis sejadi-jadinya… Saya hanya bisa berkata dengan berat, “Kamu boleh sedih, tapi jangan menyesali…”

Kemudian teringat dengan anak-anak saya yang masih pada balita. Saya langsung bilang sama istri kalo untuk sementara dia dengan anak-anak nginep di ruma mertua saja dulu. Kenapa demikian karena seumuran balita anak-anak masih sangat peka dengan perubahan hawa. Ketika ada orang meninggal maka hawa disekitarnya akan berubah menjadi Yin / Dingin hal ini yang sering tidak disadari oleh orang-orang, hal yang sama juga terdapat di rumah sakit oleh sebab itu sangat rentan sekali sebetulnya mengajak anak ke rumah sakit.

Hari itu juga jenazah ninik kami bawa pulang ke kampung. Terima kasih ninik, untuk kasih sayang ninik sampai saya bisa tumbuh sebesar ini. Yande minta maaf bila selama ini yande sudah banyak membuat ninik marah, sedih. Yande minta maaf bila sampai yande sebesar ini tidak bisa merawat ninik dengan baik. Yande memohon semoga ninik bisa mendapatkan tempat yang terbaik di alam sana. Yande mohon semoga ninik berkenan untuk tetap mengawasi kami dari atas sana. Selamat berpulang ninik, kembali ke Karang Wayah..

2 thoughts on “Ninikku Pulang Ke Karang Wayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s