Kurikulum Pendidikan Yang Salah Kaprah

Tahun ini anak saya yang pertama Bagus Adhitama akhirnya akan menginjak bangku Taman Kanak-Kanak, sewaktu pendaftaran aja saya sudah sedikit kaget. Wew… biayanya udah menyamai biaya pendaftaran saya kuliah dolo wkwkwk… Berusaha menjadi ortu yang mengerti kebutuhan anaknya, saya pun browsing-browsing terus nemu ini “Kurikulum Pendidikan Anak Usia Dini” sementara mamanya juga mencari informasi via ngerumpi hehehe…

Hasil yang kami berdua dapatkan jujur sangat mengejutkan, saat ini di Taman Kanak-Kanak mulai diperkenalkan akan huruf dan angka bahkan di tempat Bagus nanti sekolah tujuan pembelajarannya nanti salah satunya adalah anak-anak sudah bisa menulis dan membaca. Agar tidak terjadi ketimpangan informasi maka saya coba untuk menanyakan sekolah-sekolah lain dan juga sharing dengan teman-teman yang memiliki anak yang seumuran dengan Bagus atau lebih besar.

Lagi-lagi hasilnya mengejutkan, beberapa teman saya bahkan sudah mulai mengikutkan anaknya yang masih berusia 4 -5 tahun untuk mengikuti les privat membaca dan menulis . Wow! saya masih ingat sewaktu saya anak-anak, saya baru mengenal yang namanya les privat itu ketika SD Kelas 5, saya menjadi bertanya-tanya apa sebenarnya yang melatarbelakangi kurikulum seperti sekarang? Apakah pemerintah sebegitu inginnya mengentaskan kebodohan sehingga harus menghilangkan masa-masa bermain anak-anak?

Bilamana ada yang berkata, kalo anda emang tidak cocok dengan model pembelajaran ini ya silahkan saja… Oke mungkin bagi saya tidak akan perduli, tapi bagaimana dengan Bagus? Pernahkah ada yang berpikir bila anak-anak pun bisa minder? Ketika teman-temannya yang lain bisa membaca dan menulis sementara dia belum, atau sebaliknya ketika teman-temannya bermain namun dikarenakan dia sudah terbiasa otaknya dipaksa untuk selalu belajar dan belajar sehingga saat bermain dia bahkan tidak tahu bagaimana harus bersosialisasi dengan teman-temannya. Akibat psikologis yang akan ditimbulkan bahkan akan menjadi trauma untuk seterusnya sehingga si anak akan menjadi introvert, pendiam bahkan tidak menutup kemungkinan menjadi autis

Untuk anak-anak seumuran Bagus, sekolah seharusnya masih menjadi sesuatu yang exciting yang bahkan bisa membuat dia kepingin terus sekolah. Kalo misalkan saat ini kita sudah merecokinya dengan hal-hal yang menjenuhkan, mungkin ngga anak-anak menjadi malas untuk bersekolah? “Yaaa.. sekarang kan tergantung caranya mengajar dong…” Betul sekali, semua kembali pada guru atau pengajar itu sendiri di dalam membawakan materi, sanggup tidaknya dia mengajar anak dengan cara-cara yang menyenangkan. Kalo begitu saya balik bertanya dari 10 sekolah TK (kalo bagi yang pernah survey) berapa orang gurunya yang bisa memiliki pola pikir seperti itu?

Simple aja deh… jangankan guru sekolah yang harus mengajarkan sekian puluh anak-anak, anda sendiri saja yang sudah memiliki anak yang berumur dibawah 5 tahun. Berapa lama sih anda bisa menahan sabar mengajarkan anak-anak?
“Loo… ngajarin anak-anak itu yaa ga usah lama-lama 15 menit itu udah cukup” Bilamana 15 menit digunakan dengan efektif yap, saya setuju itu sudah cukup unyuk anak-anak… tapi kalo misalkan si anak maunya sambil bermain dan menonton kartun?

Maksud saya, selagi mereka anak-anak biarkanlah mereka berfantasi, berikan mereka waktu untu bermain. Dalam hidup, berapa sih prosentase lamanya masa kanak-kanak dibandingkan dengan umur manusia itu sendiri. Kalo di rata-rata aja deh umur manusia sampe 65 tahun, masa anak-anak itu cuman dari umur 1 – 10 tahun kalo 10 tahun itu masih juga kita harus bebani lagi dengan berbagai macam aktivitas yang belom waktunya. So jangan heran kalo ketika si anak telah beranjak dewasa dia akan mencari kembali masa kanak2nya yang hilang. Saat itu terjadi masihkah anda sebagai orang tua akan mampu untuk mengendalikannya?

Saya sendiri adalah termasuk orang yang mempercayai bila menciptakan kebahagiaanuntuk  anak-anak adalah salah satu cara terbaik untuk membuatnya merasakan indahnya hidup. Saya juga adalah salah satu yang percaya bila masa anak-anak adalah masa kita membentuk karakter dan EQ mereka, bukan IQnya, dan saya harapkan saya masih bisa melakukannya di tengah kurikulum yang carut marut seperti ini.

8 thoughts on “Kurikulum Pendidikan Yang Salah Kaprah

  1. Weleh weleh.. Begini ya.. Ketika Orang Berilmu memberikan Ilmunya hanya ada 1 Kalimat “Semoga ilmu itu Berguna Untuk Orang Lain”.. 🙂

  2. Yang Sepi ini sedang ditemai oleh secangkir Kopi dan Sebatang Rokok.. Namun Ditambah Baca Artikel.. Mancaaapppp.. 😛

  3. Pingback: Pendidikan Anak Yang Salah | Anakku Harapanku Dunia Akhiratku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s