Business Plan atau Plin Plan?

Ada yang pernah denger kata-kata ini? Kalo yang udah akil baliq pasti pernah (emang apa hubungannya ama akil baliq?) Mendadak saya kepikiran mau menulis eh mengetik masalah ini, udah sumpek di kepala saya mikirin sesuatu yang sebetulnya tidak perlu saya ikut mikirin lantaran saya TIDAK DIGAJI UNTUK ITU.

Iki masalah opooo to yooo? Gini… gini… kemaren ntu saya ikut sosialisai eh sosialisasi produk perbankan di tempat saya bekerja. Bapak Direktur dengan semangatnya mengatakan bahwa kita sebetulnya sudah memiliki begitu banyak produk-produk yang unggul seperti bank yang lain, tapi kenapa kita tidak bisa seperti mereka?? Menurut beliau setelah dikaji, diteli…..ti, ditela……ah, dimengerti, dipahami akhirnya diyakini bahwa karyawan adalah biang keladi utama dari kegagalan produk kami.

Attitude kami, pengetahuan kami sebagai seorang bankir dinilai sebagai penyebab tidak optimalnya penjualan atas “produk” kami. Saya cuman diam mendengarkan dan menonton “lawakan” yang dilakukan oleh seorang bos. He? kok dibilang ngelawak? Lah… gimana ngga ngelawak, kami diberikan target dan itu tercapai kok kenapa dibilang tidak optimal? Ternyata menurut beliau lantaran tidak semua produk bisa kami jual dengan baik. Ow… oke… asas praduga tidak bersalah dolo deh, kali-kali aja emang bener omongannya si bos.

Akhirnya usai pembukaan sama si Bos giliran orang-orang dari bagian Luar Negeri memaparkan produk-produk layanan untuk transaksi valuta asing dan kepentingan eksport import. Setelah bla bla bla… penjelasan yang panjang lebar dan dengan sabar saya mendengarkan, ternyata memang benar! Kita memiliki begitu banyak produk yang belum dioptimalkan penjualannya..!! TAPI…. permasalahnnya diantaranya karena perusahaan sendiri tidak memiliki basic yang kuat baik dari infrastruktur system maupun lainnya untuk membantu hal tersebut serta yang terpenting adalah ternyata sebagian besar nasabah di daerah kita tidak memerlukannya!!

Sebagai salah satu contoh adalah produk LC singkatan daripada Letter Of Credit, okelah di daerah lain yang notabene memiliki industri skala besar memang masih menggunakan hal tersebut sebagai pengaman untuk melakukan transaksi export import. Sementara disini? Bali ntu pulau kecil yang notabene sebagian besar PADnya berasal dari pariwisata dan export home industry. Pelaku usaha home industry pun sebagian besar masih sangat tradisional dengan sistem manajemen dagang sayur, ada uang ada barang. Sementara konsumen-konsumen berada di negeri antah berantah sono oleh sebab itu pasar juga akan menyesuaikan dengan tumbuhnya perusahaan-perusahaan trading yang menjadi “makelar” antara produsen dengan konsumen di luar negeri. Cara kerja mereka (trading) pun juga sebagian besar sama, mereka mendapat order untuk penyediaan sekian unit item dari konsumen dan untuk itu mereka meminta adanya down payment terlebih dahulu. Intinya sama, MONEY FIRST DUDE! Sistem yang mereka gunakan juga simple aja, money transfer. Lah… kalo ternyata yang mereka lakukan bisa sesimple itu kenapa kita ujug-ujug menawarkan sesuatu yang lebih rumit? Ini yang gebleg siapa?

Eit belon selese neehh… kita juga punya produk transfer valas antar negara, oke mantappp! Tapi…hehehe..

:”kita cuman nerima US$ dan transaksi cuman bisa ke US doang…” GUBRAK…!

Kenapa? Karena kita cuman punya koresponden disono doang…

: Jadi… kalo misalkan transaksi pake Yen ama orang Jepang? : Ngga bisa…

transaksi Euro? Ngga bisa…, transaksi…. pake SGD? Ngga bisa….

Lah… ini bagaimana toh? Setelah saya cercar dengan pernyataan dan pertanyaan seperti itu, yang bisa dilakukan oleh sang pengajar hanyalah mengakui kekurangan fasilitas yang dimiliki. Hei… saya ngga perlu itu tapi sejak 8 tahun yang lalu kita sudah menjadi Bank Devisa tapi infrastruktur basic seperti inipun belom beres tapi yang disalahkan malah kita para karyawan.

Masalah yang kedua… menurut Bos, attitude kami para karyawan masih sangat kurang, kinerja kami juga masih kurang, loyalitas kami juga masih kurang… Hal tersebut yang menyebabkan lambatnya pertumbuhan perusahaan kita. Sampai akhirnya kami diberikan pengayaan tentang bagaimana harus bersikap, seusainya sosialisasi produk-produk kita diatas. Kembali saya bertanya, “Sekian lama saya bekerja disini, saya masih belom ngeh arah strategi bisnis perusahaan kita maunya dibawa kemana”

Kalo boleh saya memberikan sedikit contoh, BRI mereka membuat brand awareness sebagai Banknya rakyat Indonesia dan penerapannya mereka membuat kantor-kantor di setiap sudut desa dan pasar agar bisa dekat dengan rakyat. BCA dan Mandiri kalo menurut saya dari besarnya jumlah yang harus disetor untuk pembukaan tabungan dan  dengan keunggulan teknologi perbankan yang mereka miliki semakin menegaskan pangsa pasar mana yang mereka sasar. Sementara perusahaan ini? Dikatakan kita memiliki pangsa pasar penduduk lokal di seluruh wilayah kita namun dalam penerapannya hanya sekedar jargon, judul-judul produk kita saja tidak ada yang memiliki “rasa kearifan lokal” jadi serasa perusahaan ini seperti kereta kuda yang ditarik oleh kuda yang ditutup matanya dan dikendarai oleh sais yang buta.

Jadi bagi saya seharusnya perusahaan itu harus jelas dulu, kita mau jadi perusahaan apa? buat siapa? Kalo udah jelas pangsa pasarnya, diriset mereka ntu butuhnya apa? Baru bikin produk-produknya, dilengkapi fasilitas pendukungnya. Jangan kebalik… bikin produk dolo baru pasarnya menyesuaikan… hayahh… Kebanyakan rapat ntu bukan malah tambah pinter pak… tapi ambeien, percaya deh.

2 thoughts on “Business Plan atau Plin Plan?

  1. halo bli, akhirnya mengudara juga neh ugeg-unegnya…

    Menarik topiknya, planing planing planing..pas execute ternyata gag sesuai yang diharapkan..nampaknya akar rumput di rapat planingnya..dan aq nemu sumbernya kenpa? yang rapat planing nya pada ambeien..wakaka.. joke ^^

    Kalo aq sih, market ada – execute by demand – planing…maklum entrepreneur kemarin sore..

    Good post bli

    • emang gitu hukumnya bro… adanya penawaran karena ada permintaan. Kalo kita nawarin tapi ga ada yg perlu ya mana bisa laku iya ngga?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s