Obat Itu Racun…

Yakin seyakin-yakinnya saya pada saat ini tidak ada seorang pun yang tidak pernah merasakan yang namanya obat, bahkan dari bayi yang baru lahir ceprot juga sudah kena imunisasi. Pada post sebelumnya Pengobatan Versi Saat Ini saya sudah bercerita, begitu sudah terbentuknya dalam benak setiap orang bila obat merupakan salah satu bahan pokok dalam hidup. Bahkan ketika ke dokter dan pulang tanpa membawa resep atau obat seperti belum merasa yakin akan bisa sembuh. Fenomena yang saya temui dalam masyarakat juga saat mereka menebus obat dengan harga yang sangat-sangat mahal, mereka akan berusaha mencari uang, ngutang sana-sini dengan satu harapan bila mereka akan lebih baik dengan mengkonsumsi obat tersebut.

Hal lainnya lagi yang sangat jarang terpikirkan dari mengkonsumsi obat adalah dampak dari efek sampingnya, dari artikel berikut saya mengetahui efek samping obat pun ada jenisnya yaitu efek samping yang dapat diperkirakan dan yang tidak dapat diperkirakan. Salah satu efek samping yang dapat diperkirakan adalah reaksi farmakologik (toksik) yang berlebihan singkatnya efek samping yang ditimbulkan oleh over dosis obat. Kebanyakan masyarakat mengerti yang dimaksud dengan over dosis adalah kebanyakan minum obat dalam satu sesi konsumsi atau tidak sesuai dengan petunjuk dokter, tapi bagaimana bila begini… over = kelebihan, dosis = takaran/ukuran jadi tubuh manusia memiliki batas kapasitas dalam mengolah suatu zat yang masuk dalam tubuh yang mana bila zat tersebut memiliki dampak negatif maka tubuh pun akan secara otomatis akan mengeluarkannya melalui saluran ekskresi. Bilamana organ tubuh sudah tidak lagi mampu untuk mengatasi zat tersebut maka yang terjadi adalah secara perlahan organ tubuh akan mengalah dan beradaptasi. Ketika tubuh sudah beradaptasi dalam waktu yang lama maka hal berikutnya yang terjadi adalah ketagihan.

Mungkin salah satu dari pembaca yang budiman memiliki riwayat penyakit menahun atau ada anggota keluarganya yang memiliki kebiasaan makan obat seperti makan cemilan? Apa yang terjadi bila obat tersebut dihentikan penggunaannya? Sama halnya seperti orang-orang yang kecanduan narkoba, tubuh mereka akan berteriak meminta dan meminta lagi. Atau bila itu terdengar sedikit serem, pernahkah anda atau orang terdekat anda setelah sekian lama mengkonsumsi obat hingga akhirnya merasa obat tersebut seperti tidak berkhasiat lagi kemudian terasa berkhasiat kembali setelah dosisnya ditambah atau menggantinya dengan obat yang memiliki dosis yang lebih tinggi? Itu adalah gejala bila tubuh anda telah beradaptasi.

Saya masih ingat pada bulan-bulan awal putra saya yang pertama Bagus Adhitama, dia hanya sempat merasakan ASI selama 4 bulan saja dan dikarenakan Bagus putra pertama tentunya waktu itu dia adalah pusat perhatian keluarga besar saya. Panas sedikit langsung ke dokter, sakit pilek langsung ke dokter, dan itu berlangsung hingga dia memiliki adik. Berbeda dengan kakaknya, putri saya yang kedua menikmati ASI hingga 2 tahun, saat sakit pun hanya saya mencoba cara-cara tradisonal yang ternyata memang lebih ampuh dan tidak pernah mengkonsumsi obat-obatan kimia. Saat Bagus telah berusia 3 tahun sementara adiknya Gek Lan berusia 1 tahun, saya amati gigi Bagus bagian depan menjadi gigis dan telah berlubang pada gerahamnya sementara adiknya giginya masih mengkilat bersih dan rapi. Bagus tidak pernah mengkonsumsi cokelat, permen, es krim, minuman soda atau snack-snack seperti chiki karena dia trauma dan mengerti bahwa makanan tersebut akan menyiksanya dengan batuk justru adiknya yang tidak memiliki pantangan apapun. Akhirnya saya mencoba melakukan hal yang sama kepada Bagus saat dia sakit kami tidak pernah mengantarnya ke dokter, obat-obatan, suplemen wajib lainnya saya stop kami coba berbagai cara-cara tradisonal untuk mengatasinya. Awalnya memang sulit karena Bagus memiliki penyakit batuk yang cukup sering, ditambah lagi dengan omelan dari orang tua saya yang menyatakan saya tidak perhatian kepada anaklah… dan hipotesa saya terbukti. Tidak terasa saat saya melihat kartu rawatnya Bagus, terakhir dia ke dokter itu hampir 2 tahun lalu.

Saya tidak menyatakan bila dokter anak itu malah justru tidak baik untuk anak namun cobalah kita untuk berpikir bahwa sedikit ribet itu juga tidak selalu jelek. Berikut artikel tentang obat-obatan untuk anak yang saya peroleh dari internet.

Most drugs prescribed for children have not been tested in children. Before the Food and Drug Administration initiated a pediatric program, only about 20 percent of drugs approved by the FDA were labeled for pediatric use. By necessity, doctors have routinely given drugs to children “off label,” which means the drug has not been approved for use in children based on the demonstration of safety and efficacy in adequate, well-controlled clinical trials.

Anak kecil, balita dan bayi bukanlah orang dewasa kecil. Sering kali saya melihat obat yang diberikan untuk anak-anak itu sama seperti obat orang dewasa, yang berbeda hanya pemberian dosisnya saja. Bahkan tidak jarang juga dosis pemberian obat didasarkan pada umur dan berat badan, apakah anda pernah memikirkan bahwa di dalam tubuh seorang anak, balita, bayi organ-organ mereka itu belumlah sematang dan setangguh orang dewasa, bayangkan bila organ-organ semuda itu dipaksa bekerja keras mengolah kimia sintetis yang diperuntukan bagi orang dewasa.


One thought on “Obat Itu Racun…

  1. Sangat menarik postingannya Bli,

    Anak ini adalah ‘harta bersama’ baik ayah dan ibunya demikian jg kakek neneknya, menghendaki yang terbaik bagi si kecil walaupun kekeliruan bahwa menyamakan kondisinya dan si banyi. Ini tantangannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s