Diary Seorang Ayah

Heh?! Kayak ABG aja Nde, pake bikin diary segala. Wakaka… emang ga boleh yah kalo masih kepengen jadi ABG? But, why so sudden? Well, there is nothing too important  to say, just want to wasting my quality time with my wife spend by picking some silly words to write and breathing the nikotin.

Screw you Telkomsel Flash !!, that’s it. Asli seminggu ini dibikin gondok berat sama provider satu ini. Selama setaon tanpa satu kali pun telat membayar, the only thing i’ve got is… “Maaf bapak, kami masih dalam maintenance, bla, bla….” Klo emang semudah itu minta maaf apa saya juga bisa semudah itu ga bayar tagihan setiap bulannya?!  Meski kasian juga sih sama Costumer Service yang menerima line di 111, tapi mereka emang dibayar untuk dimarah-marah kok so… simpati itu langsung lenyap, wekeke…

Akibat dari koneksi lemot ini, ternyata di satu sisi juga membuat saya tersadar, bila saya selama ini, hiatus dalam memberikan kasih sayang bagi si kecil, selama ini saya tenggelam dalam layar kecil di depan saya meskipun saya tahu, saat saya menjelang tidur saya akan kembali menyesali hilangnya waktu sehari lagi untuk mengamati anak saya mengertikan duplikasi yang dia dapatkan dari kami sebagai orang tua.

Hari ini saya mengamati sesuatu yang baru terutama dari Bagus, dia sudah tau caranya ngambek ala ABG, yaitu membuat ortu menjadi bingung. Dia minggat… Anak berumur 2.5th sudah tau minggat, hadoooh… perasaan ga pernah satu kali pun dia kami biarkan menonton sinetron di TV. Awal mulanya dari dia sudah bisa menyalakan komputer sendiri dan masuk ke permainan yang dia senangi (saya sendiri ga abis pikir ternyata selama ini dia memperhatikan apa pun yang saya lakukan) kemudian entah bagaimana komputernya menjadi hang, sontak aja saya was-was, terpaksa saya coba alihkan perhatiannya dia melihat gelagatnya yang sudah mulai mengangkat mouse kayaknya si mau dilempar ke monitor, seperti kemaren dimana layar monitor dia dorong sampe hampir jatuh (untung dibelakangnya ada tembok).

Oke… saya akui saya bicaranya sedikit keras intonasinya, tapi ternyata Bagus mengira saya memarahinya, dengan muka merengek hendak menangis dia turun dari tempat duduk dan langsung melewati saya tanpa sepatah tangis dan kata. Saya mulai mencari-cari ada apa gerangan dengan komputer saya, akhirnya penyelesaian yg paling cepat… alt+ctrl+del. teringat sama Bagus, saya pun mencari dia. Di kamar ngga ada, di kamar belakang juga ga ada, di dapur, di ruang makan, di kamar mandi… loh?
“Bagus dimana ma…?!” saya mulai sedikit panik,
“Loh… tadi kan ama W’de” jawab Gek istriku sembari menggendong Gek Lan
Kemudian aku ceritakan secara singkat bagaimana aku bisa kehilangan Bagus, naa… di saat-saat seperti itulah istriku bisa langsung berpidato layaknya Megawati kampenye pas capres kemaren, bla,bla, bla… Mungkin sekedar sharing bagi teman-teman pria yang lajang, jangan mudah terbutakan oleh kepolosan wanita, apalagi kelembutannya. Duri kaktus saat masih kecil terasa sangat lembut dan halus, mengerti kan?

Akhirnya daripada saya nanggepin omelan istri saya, saya tetap melakukan pencarian. Ngga mungkin saya nelpon tim termehek-mehek saat ini, terlalu lama menunggu mereka. Salah saya juga tidak membelikan anak itu hape seperti orang tua-orang tua yang lain, jadi klo hilang seperti ini kan bisa lebih mudah ngontrolnya wekeke…. Akhirnya saya teringat, dia senang banget mainan iphone, saya memiliki banyak aplikasi di dalamnya yang memancing kemampuan sensorik otaknya dia dan dia menyukainya. Akhirnysa saya hidupkan aplikasi tersebut, saya keraskan suaranya, dan voila! Ada yang berguling-guling keluar dari kolong tempat tidur, astaga nak…… dan tanpa rasa marah saat dia pergi dari komputer tadi, dia mendatangi saya dan langsung mengambil iphone dari tangan saya.

Satu cerita lagi, sekarang tentang adiknya, Gek Lan, si cantik, kecil, lincah dan penggemar Mbah Surip, wekeke… beneran setiap denger lagunya Tak Gendong, gaya penarinya langsung muncul, senyum khasnya mengembang, padahal saya yakin 7 bulan dia belom mengerti arti lagunya Mbah Surip itu, tapi mungkin dia bisa merasakan adanya keceriaan dalam lagu itu. Sayangnya saat ini Gek Lan sedang pilek, setiap sejam sekali saya harus terbangun memeriksa nafasnya, agar jangan sampai hidungnya buntu hingga kesulitan bernafas, berat? yup, ngantuk? begitulah, tapi inilah dunia nyata yang dimana saya hidup seharusnya, bukan di depan monitor ini sambil mencari kata-kata buat mengarang suatu postingan. Jadi apakah saya akan hiatus dari blog ini? Tidak… cuman mungkin rumah kedua saya ini tidak akan seramai dulu lagi, itu saja

4 thoughts on “Diary Seorang Ayah

  1. jadikan keluarga nomor sato bos, jngan karena digoda ma kesibukan posting ( busy posting ) tu anak ngambek. my be keturunan bos. bos juga bisanya ngambek dikantor. ya kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s