Biarkan Bunda Pertiwi Istirahat Sejenak

SELAMAT HARI RAYA NYEPI

Tanggal 26 kemaren, Umat Hindu merayakan hari raya Nyepi. Bagi temen-temen yang belum mengerti gimana si Nyepi itu, coba seeh saya kasi tau sedikit, yang saya tau ajah tapinya wekeke…

Hari Nyepi jatuh bertepatan pada hari ke pertama dimulainya sasih kedasa (kesepuluh), kenapa? Laa… pertanyaan yang bagus. Kenapa bukan pada sasih kesanga (ke-9) atau lainnya, wah liat disini aja wekeke…

Itu versi menurut Parisadha Hindu Dharma sementara menurut saya, Nyepi adalah saat kembalinya manusia menyadari perihal manusianya, kami melakukan Catur Brata bertujuan untuk mengkaji kembali darimana kami berasal dan kemana kami akan berjalan.Catur Brata adalah Empat jenis tapa atau brata yang dilakukan oleh umat Hindu, yaitu:

  1. Amati Geni
  2. Amati Karya
  3. Amati Lelungaan
  4. Amati Lelanguan

Amati Geni; tidak ada api, ada yang mengartikan tidak boleh menyalakan sesuatu, atau ada juga yang mengartikan tidak berapi-api. Bagi saya Amati Geni berarti tiada api (secara sederhana) yang berarti gelap. Coba untuk menutup mata anda, apa yang anda lihat? Gelap bukan? Maksud saya begini, mata adalah awal dari segala nafsu yaitu keinginan, kita memiliki keinginan saat kita mengetahui, lalu apakah orang buta tidak memiliki nafsu? Bukan seperti itu maksud saya disini. Mengerti akan gelap, anda akan mengerti jalan hidup anda bahwa kita tidak akan pernah mengerti apakah esok kita masih akan terbangun seperti sekarang, atau… (saya rasa anda mengerti apa kelanjutannya). Maka arti Amati Geni bagi saya adalah mencoba untuk menghargai hidup, dengan cara mengkaji dan bersyukur kita masih bisa ngeblog sampe hari ini.

Amati Karya, berarti tidak bekerja. Bukan hanya sekedar tidak kerja di kantor atau lain sebagainya, bagi saya tidak bekerja itu berarti diam bergeming *kayak patung dooong….* πŸ˜† buakaka… jadi jangan dipersepsikan begitu mentah, kapankah anda terakhir merasakan jalannya angin melewati wajah anda maksud saya dengan sengaja, bukan lantaran naik motor atau lain sebagainya, atau merasakan jatuhnya hujan di telapak tangan anda atau fenomena alam lainnya. Mungkin kita hanya menganggap itu semua sekedar berlalu begitu saja atau malah mengumpat saat kepanasan dan kehujanan. Cobalah untuk heningkan diri sejenak dan rasakan alam, biarkan giliran mereka berbicara lewat panca inderamu, lunturkan ego kita yang hanya bisa meminta karena alam pun memiliki keinginan untuk curhat tentang dirinya.

Amati Lelungaan, tidak berpergian mesti diam di rumah, tidak boleh jalan-jalan wah.. kebayang ga Bali kayak gimana, persis kayak pulau mati, kayak di film I Am Legend wekeke… sebagian besar mengartikan hanya sebatas itu, untuk yang satu ini cukup lama bagi saya mencoba untuk mengkaji artinya bagi saya. Lelungaan berasal dari kata lunga yang berarti pergi lalu apa bedanya dengan Amati Karya toh? Sekarang coba kita tanyakan lagi siapa atau apa yang selalu berpergian, pernah melamun? atau menghayal? Itu bagi saya arti dari Amati Lelungan, mencoba untuk mawas diri, mensyukuri apa yang kita miliki saat ini, berhentilah untuk selalu menghayalkan milik orang lain, kita memiliki keluarga yang mencintai kita, kita memiliki cukup pangan untuk hidup, cukup pakaian untuk digunakan dan tempat untuk berteduh. Cobalah untuk menyadari dan merasa cukup, sulit? Paling ngga mulailah untuk mencoba…

Amati Lelanguan, tidak bersenang-senang, dilarang dugem! Wekeke… lo kan udah ada Amati Karya, Amati Lelungan so pasti kan ga mungkin kemana-mana? Apalagi udah ada larangan untuk ribut ya jelaslah ga mungkin dugem!! Trus apa dong? Atau.. klo begitu bersedih boleh dong? Marah boleh dong? Awalnya semua pertanyaan ini menghiasi benak saya, apa maksud dari Amati Lelanguan itu sebenarnya? Jujur bagi saya sendiripun belum menemukan arti yang pantas bagi satu bagian brata (tapa) ini karena semua rasanya telah dibatasi dalam ketiga brata sebelumnya, namun justru yang terbersit di hati saya adalah kata “mengalah” entah apakah artinya mengalah dalam artian sebenarnya atau meng-Allah atau kembali kepada Hyang Gusti Tunggal, semoga saya bisa menemukan jawabannya kelak.

Lalu apa hubungan posting ini dengan judulnya? Selama hidupnya manusia, selalu mendayagunakan, memeras isi alam bagi dirinya sendiri. Kita membakar, kita memukul, membongkar, menghancurkan, menghancurkan atau membuatnya menjadi indah dalam versi kita sebagai manusia tanpa pernah bertanya padahal saat potong rambut saja contohnya tentu kita tidak akan terima bila rambut kita dipotong acak kadut. Lho emangnya klo mau nanya, nanya pada siapa? Alam memang tidak akan bertanya dalam bahasa kita namun seperti kata saya diatas cobalah untuk belajar mendengar. Untuk satu hari ini saya ucapkan, “Bunda Pertiwi, selamat beristirahat”

11 thoughts on “Biarkan Bunda Pertiwi Istirahat Sejenak

  1. Bli kmaren pas nyepi ngapaen aja?
    *pertanyaan bodoh, ya di merayakan nyepi, dodol!*

    Bli, mau tanya, bolehkah umat hindu merayakan nyepi di kos2an? Lalu, jika kebetulan sedang ada tugas fakultas (seperti yang dialami dosen saya) bolehkah merayakan nyepi di hotel?

    • boleh saja bro, di hotel pun listrik masih hidup dan beberapa ruangan mungkin masih menyala, kita kan tidak bisa memaksakan mereka untuk mengikuti tata cara disini, namun kita mengharapkan mereka juga bisa menghormati budaya kami, πŸ™‚

  2. Selamat hari raya nyepi blih, selamat hari raya galungan dan kuningan juga (^_^) Kemaren asik juga bergelap2 ria. Tapi saya mohon izin kepala lingkungan untuk boleh menghidupkan lampu kamar, jendela dan lubang ventilasi kamar sih sudah saya tutup, tapi dengan kegelapan pekat pada hari nyepi sedikit cahaya saja memang langsung terlihat ya.

    yande: thx bro, iya terutama bagi yang punya bayi klo bisa jangan sampe gelap banget kasian kan mo ganti popok karena gelap popok dipasang di kepala kan ga lucu wakaka….

  3. Dari dulu saya suka peringatan hari raya Nyepi ini. Mungkin gak hanya yang beragama Hindu saja bisa melakukan Catur Brata ini, tapi semua orang menurut saya boleh melakukan ini. Karena ini menyatukan hubungan manusia dan Tuhan.
    Tuhan melampaui semua agama kan?

    • waah.. senang berbincang dengan open mind person spt mbak, memang dalam kitab suci saya bahkan tidak satu kata pun yang menyebutkan ini memang untuk kami (Hindu) saja…

  4. Selamat hari raya nyepi yach… terlambat gpp daripada enggak…
    oya, salam kenal..

    yande: salam kenal juga bro

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s