Sang Pangeran

bagus-1

Bagi temen-temen blogger yang uda sering kesini mungkin bakal kaget dan bertanya-tanya,
yoyo-55 : “Heh!, brojol lagi? Kok bisa?” atau
th_052_: “Wahh, yande selingkuh ni?!?!” soo… temen-temen tenang dulu, jadi poto yang diatas itu tiada lain adalah Bagus, kakakna Gek. Saya ketik posting ini setelah membaca-baca postingan saya tentang anak kedua saya, saya berpikir temen-temen mungkin belum mengetahui cerita tentang kelahirannya Bagus, well.. mungkin beberapa orang cerita lama kayaknya basi untuk dibuat jadi posting di Blog, tapi bagi saya bukan alasan basi atau hangatnya. Saya cuma ingin membagi bahagia ini dengan teman-teman dan yang terpenting saya mencoba untuk adil pada anak-anak saya, itu saja.

Jum’at, 25 Mei 2007 pkl 00.40, Aku menjadi seorang ayah, rasanya…? Hmm mungkin jawabanku ngga akan jauh berbeda dari bro Sahat, tentu saja berbahagia. Tapi meski sudah cukup lama , aku masih bisa mengingat runut kejadian sewaktu itu.

Kamis, 24 Mei 2007, kira-kira pkl 22.00 waktu itu untuk kesekian kalinya istriku bolak-balik ke belakang buang air kecil, kuperhatikan sejak sore sepulangku dari kantor semakin lama dia ke belakangnya semakin sering sewaktu sore kuingat setiap setengah jam ia berjalan terhuyung-huyung ke belakang. Jalannya pun sudah tidak centre lagi akibat semakin berat beban di perutnya dan menjadi setiap 15 menit sekali saat malam disertai lagi dengan rasa sakit yang timbul sebentar lalu hilang kembali.

Ibuku yang mengerti gelagat istriku, menyuruhnya untuk langsung mandi dan bersiap-siap,
“Gek, mungkin sekarang sudah mau waktunya. Gek mandi dulu, ibu nyiapin baju-bajunya ya” istriku menjawabnya dengan agukkan.

Usai mandi, berpakaian, tas pakaian sudah kutenteng. Ups!, tanda booking kamarnya hampir ketinggalan, oke HP cek!, dompet cek!, isinya…yah cukuplah. Kami sembahyang sejenak mohon keselamatan dan perkenanNya bila memang hari ini adalah hari TitahNya untuk turun kepada kami. Perjalanan ke R.S pun terasa cukup singkat, istriku hanya mengeluh sedikit akan reaksi tubuhnya yang sudah tidak bisa menahan buang air kecil. Artinya klo si Bagus iseng tinggal sundul.., crit keluar dah tanpa bisa ditahan yang namanya buang air kecil itu.

Sesampainya di R.S kuurus administrasinya semua, sementara istri dan ibuku masuk ke ruang persalinan. Waktu sudah menunjukkan pkl 23.00 lebih kurang sekitar segituan (hayah..), rasa mulas mulai semakin sering dan lebih terasa dari sebelumnya bahkan istriku sempat kembali ke belakang saat di ruang persalinan. Menit demi menit berlalu, istriku di pembaringan sudah mulai bervariasi mukanya menahan rasa sakit, terkadang meringis, lalu menggigit mulut, meremas bajuku. Susterpun mulai setiap beberapa menit melakukan pengecekan untuk bukaan, bukaan 3, bukaan 4 (wah cepet ya..), bukaan 5… sekali, dua kali ngecek masih bukaan 5 menurut suster sementara istriku sudah nampak kepayahan menahan rasa sakit.

Dalam hati kucoba untuk bertanya kepada si jabang bayi, “Nak, kamu nunggu siapa to nak?” tiba-tiba sekejap terbayang wajah Ayah-ibu istriku. Memang kuakui, kami kawin lari hal tersebut kami lakukan karena perbedaan yang terdapat di antara keluarga kami, masalah klasik, kasta dan semenjak pernikahan hingga waktu itu tak ada sekalipun kami mencoba untuk berkomunikasi kembali apalagi untuk meminta maaf. Kesombongan seorang anak. Akhirnya meski sudah menjelang tengah malam saya memberanikan diri untuk menelpon mereka dan yang mengangkat waktu itu adalah Gung Biang (ibu istriku)

Gung Biang: “Om Swastiastu”
Saya              : “Om Swastiastu, Gung Biang”
Gung Biang: “Siapa ini?”
Saya              : “Ini saya Gung Biang, Yande”
Gung Biang: “O.., mau ngapain kamu nelpon malam-malam begini?”
Saya              : “Nggih, sinampura Gung Biang. Wengi-wengi tiang nelpon Gung Biang. Sapuniki Gung Biang tiang jagi
nikaang niki Gung Gek mangkin jagi melahirkan”
(yoyo-59 > hehe.. ngga ngerti ya? yoyo-150*ya iyalah…*, jadi artinya ntu: Mohon maaf Gung Biang. Saya nelpon Gung Biang malem-malem. Saya mau memberitahukan Gung Gek sekarang mau melahirkan)

Gung Biang: “Oh, dije jani Gek?” > Oh dimana sekarang Geknya?

Saya              : “Niki mangkin ring R.S P.B” > Sekarang di R.S P.B
“Gung Biang, puniki mangkin tiang nunas sinampura antuk keiwangan titiang sareng kalih. Niki mangkin
Gek jagi melahirkan titiang ngelungsur sueca saking Gung Aji sareng Gung Biang mangda Gek sareng okan
titiang niki mangkin selamet”
> Gung Biang, saya mohon maaf maaf atas kelancangan kami berdua selaku anak. Saat ini Gek mau
melahirkan, saya mohon restu dari Gung Aji (ayahnya Gek) serta Gung Biang untuk Gek beserta anak
saya agar keduanya bisa selamat

Gung Biang: “Oh, nah, nah antos dumun niki kal rereh tiang dumun Gung Aji nggih”
> Oh iya, iya sebentar yah saya panggilkan Gung Aji dulu
“Halo, eh Yande, Gung Aji mangkin sedeng mebakti wusan sampun nikaang tiang sareng Gung Aji,
Gek’e kal ngelekadang jani”
> Halo yande, eh Gung Aji sekarang sedang sembahyang, setelah saya sampaikan ke dia bila Geknya
sekarang mau melahirkan

Saya             : “Oh nggih Gung Biang, ah jantos dumun Gung Biang niki mangda polih Gek matur sareng Gung Biang”
> Oh iya Gung Biang, ah tunggu sebentar Gung Biang ini biar Geknya juga bisa bicara dengan Gung Biang

Kuserahkan HPku pada istriku, dan kumenjauh untuk memberikan waktu bagi mereka untuk berbicara dan melepas sedikit rindu. Entah apa yang mereka bicarakan yang samar terdengar olehku adalah ucapan lirih istriku untuk meminta maaf dan restu dari ibunya diantara rasa sakit yang dia rasakan.

Pembicaraan itupun usai sudah, dan entah teman-teman percaya atau tidak setelah itu bukaan pun berlanjut, bukaan 6, bukaan 7, bukaan 8, begitu mudah kami rasakan mengingat di ruang sebelah juga terdapat seorang calon ibu yang berteriak-teriak histeris menahan rasa sakit sementara istriku menahan rasa itu hanya dengan menggenggam jemariku. Bukaan 9, dokter kandungan kami datang dan langsung melakukan tugasnya, dia memantau, memberikan petunjuk kapan istriku bisa mulai mengejan.

Istriku yang sudah semakin tidak tahan, selalu mengatakan “Aduh W’de Gek pengen ngeden udah ga tahan” sementara bila dokter masih mengatakan belum aku hanya bisa mengatakan, “Jangan sekarang Gek, jangan dulu, kasian anak kita jalan lahirnya juga bisa bengkak nanti”. Bukaan 10!, suster mulai membantu istriku untuk mengambil posisi melahirkan. Kedua tangan ditekuk dan memegangi bagian belakang paha diatas lutut untuk membantu otot perut memberikan tekanan, posisi kepala diangkat sedikit sehingga bisa melihat perut bagian bawah.

“Iya, ngeden sekarang” serta merta istriku mengejan sekuatnya, bibirnya digigitnya sehingga tidak ada tenaga yang dia buang untuk teriakan. Tiga kali mengejan, kepala mungilnya Bagus sudah keluar dan setelah itu Gek sudah tidak perlu lagi mengejan untuk mengeluarkan badannya, baru waktu itu saya tahu bila bagian terbesar dari bayi adalah kepalanya.

Begitu lahir, dengan sigap suster menyedot air ketubannya dan “OAAAA..!!” wuaduh kerasnya, bagus menangis sejadi-jadinya. Kulepas begitu saja istriku dari pelukanku untuk melihat Bagus dari dekat. Pangeranku telah lahir. Bagus dibersihkan oleh suster, dan seperti adiknya warna kulitnya begitu merah dan meski belum lewat lima menit dia terlahir matanya sudah bisa terbuka dan melihatku. Meski saya tahu waktu itu penglihatan Bagus belumlah sejelas sekarang namun saya berkata dalam hati, “Ini bapak nak”

bagus-2

Terima kasih Tuhan, atas berkat dan restumu. Kumohon Engkau berkenan memberiku kekuatan dan dalam perlindunganMu, atas tuntunanMu kan kujalankan TitahMu. Kubersumpah demi Jiwaku

12 thoughts on “Sang Pangeran

  1. benar-benar kisah yang mengharukan bli, terutama saat sblm kelahiran itu, rasanya terharu sekali.
    Oh ya, bli bisa berbagi sedikit cara dan bagaimana proses kawin larinya itu,pasti akan sangat berguna buat saya,hehehehe….

    yande: mau tau? ntar dah ta kasi tau klo dewa dah mo nganten aja yah wekeke…

  2. Alow Bli,
    Mendengar cerita Bli tentang proses lahirnya Bagus ma Gek, aduh perasaan saya jadi gag nentu. Takut, was-was, kek nya gimana gitu, aduhhh..takut..yah semoga saya bisa melawati fase itu, cuman sebelum melangkah ke fase itu. Jantung dag dig dug, tekanan darah naik, nafas agak berat, keringat dingin, bab tidak lancar..keknya perlu reflexy dulu sebelum ke fase itu.

    Btw, untuk koment di atas saya. Yo opo toh, kawin kok lari? kawin tuh yah di kamar Bro, kek dibilang Bli yande, kawin itu ada proses ‘mengaduk adonannya’, mosok ngaduk adonan sambil lari-lari..wekeke..gendeng. trus minta diceritaain lagi proses kawin nya..plak…hehe

    Trims Bli

    yande: itulah hidup Nur, mungkin saat Nur masih sendiri, apa itu arti dari hidup mungkin Nur baru sedikit mengerti, namun saat Nur melewati proses itu dari A – Z baru Nur mengerti betapa hidup itu terlalu berharga terutama bagi orang-orang yang mengasihimu

  3. hmm…Bli, kisah Bli mengharukan yah? Cinta…cinta…tp untung Bli dan IBunya dede2 (manggilnya apa sich Bli 🙂 ) hehehe tetep memperjuangkan cinta, jadi Bagus dan Gek bisa ada di dunia ini dan membuktikan bahwa cinta sejati tidak memandang status dan kasta 🙂

    yande: manusia itu semua terlahir sama, telanjang. Mamanya Bagus ama Gek, panggil Mei aja, namanya A.A. Istri Meiyani Kusuma Dewi (panjang yah…)

  4. HHmmm …
    ini ceritanya bagus
    fotonya lucu …

    but …
    Yang lebih penting adalah …
    Ayahanda ingin berlaku adil pada kedua putra – putri nya … Bahkan dalam posting sekali pun …

    Salam saya …
    Semoga si Pangeran 25 Mei dan
    Si Cinderella 11 Januari …
    Sehat-sehat dan bahagia selalu …
    Berbahagialan mereka karena mempunya Ayah yang adil …

    Doa saya Pak …
    Salam

  5. saya beberapa kali menemani orang melahirkan, kakak dan teman saya. haduh rasanya deg deg an seperti yang bli rasakan mungkin.
    suatu saat hal itu (mungkin) akan terjadi dalam hidup saya, saya selalu berdoa semoga suami selalu disisi saat itu 🙂

    salam sayang u baby-nya ;p

    yande: deg-degan?! wehhh… klo saya boleh bilang si lebih tepatnya horor wekeke… tapi yang penting jangan berpikiran negatif, pasrah dengan titahNya itu saja kok

  6. hehe, ternyata begini ya ceritanya pengalaman pertama blih yande 🙂 jadi totalnya di rumah sakit kira-kira berapa jam sampai saat kelahiran?

    klo ngga salah kita masuk sekitar pkl 23.00 pas itu Mei masi bisa jalan2 ke belakang, ga terlalu sakitlah naa mulai sakitnya pas sudah bukaan 4-5 (bukaan 5 nya yang agak lama kira2 sampe 15 menitan gt deh) dan pkl 00.40 Bagusnya lahir

  7. mmmm baca postinganmu membuatku meneteskan airmata,bli aku jadi semakin ingin cepat hamil 😀

    Aku percaya sekali restu orang tua itu sangat penting apalagi restu ibu. Aku juga ngalamin sendiri (maksudnya bukan aku yg melahirkan) waktu itu aku nungguin adik iparku melahirkan, kebetulan waktu itu adik iparku tinggal satu kota dgnku mertua di luar kota. Si adik ini kesakitan minta ampun, aku tau hubungan adik dengan mama pernah ada masalah..

    Secara spontan aku hanya berucap, “berdoalah,dhek minta ampun ke Tuhan atas dosa-dosamu & juga minta maaf ke mama, meskipun mama ga di dekatmu”
    Lalu dia berdoa & mengucap maaf, selang beberapa saat kemudian dia melahirkan, aku rasa itu proses yg cepat untuk kelahiran putra pertama 🙂

  8. Duch Yande sempet terharu baca ceritanya. Mudah-mudahan dengan kehadiran kedua permata hati hubungan keluarga besar Yande jadi semakin baik lagi.
    Saya yakin kehadiran cucu akan mencairkan suasana. Intinya tak ada orangtua yang membenci anaknya sendiri, termasuk kita sebagai anak pasti sangat menyanyangi mereka. Selamat buat kedua anaknya (Putra dan putri yach….asyik sudah ada sepasang….kalau saya masih 2 putra, hehehe….). Salam juga buat Sang Ratu tercinta yach 🙂 🙂 🙂
    Best regard,
    Bintang

    yande: iya mbak, doa mbak kesampean, sekarang saya ama mei udah biasa pulang ke rumahnya Mei, justru Bagus sangat-sangat disayang sama Gung kak (kakek) dan Gung Niangnya (nenek)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s