Cinderella Tanpa Sepatu Kaca

The Princess of Rumah Sanjiwani

Minggu, 11 januari 2009…
Perkenankan saya memperkenalkan salah satu yang terindah dari berkat Tuhan, bukti dari kewelas asihNya, betapa Dia bisa menciptakan sesuatu dengan begitu cantiknya.

Putriku telah lahir dengan selamat di “jalan” yang seharusnya, mungkin saya ceritakan sedikit yah tentang kelahiran putriku ini. Dia belum bernama jadi kami orang tuanya hanya memanggilnya dengan nama ‘Gek’ yang berarti ‘anak perempuan’

Sehari sebelum kelahirannya, istriku hendak membuatkan susu untuk Bagus ketika berjalan dia sempat sedikit terpeleset oleh tas plastik yang sebelumnya dibuat mainan sama Bagus. Ngga sampai jatuh sih tapi dampaknya istriku mengalami kontraksi yang membuat perutnya menjadi tegang, saya coba untuk mengurut-urut punggungnya berharap badannya bisa menjadi rileks kembali. Malam itu setelah membuatkan Bagus persediaan susu, saya sempat terheran melihat Bagus yang tadinya telah tertidup lelap terbangun sambil tanggannya bergerak seolah memanggil-manggil ke arah langit-langit kamar, lalu tersenyum sejenak dan tertidur kembali. Saya masih belum mengerti dan menyadari.

Keesokan pagi harinya, istriku terbangun masih dengan rasa sakit di bawah perutnya meski menurutnya tidak sesakit kemaren hanya terasa tidak nyaman. Sementara Bagus entah kenapa seperti gelisah selalu ingin dekat dengan mamanya dan sering dia melihat mamanya dengan tersenyum, hanya saja kami yang melihatnya sedikit heran karena senyum itu sama seperti saat dia tersenyum ketika saya pulang.

Waktu itu di rumah hanya ada kami bertiga, nenek saya dan adik saya. Kedua orang tua saya sedang keluar sementara adik saya lagi kena sakit mata, pukul 14.00 perut istri saya semakin terasa sakit, sempat dia ke belakang karena berpikir sakit perut lantaran ingin buang air. Saya pun tidak punya feeling apapun, tetap saja mengajak Bagus bercanda. Kedua ortu saya datang, ibu saya menanyakan, “Kemana ibunya Bagus?” kubilang saja lagi ke belakang. Melihat neneknya datang kumat dah manjanya Bagus, menangis, merengek dan merajuk lalu sembari menggendong Bagus ibuku memanggil menantunya,

Ibu        :”Gung Gek, jangan lama-lama di kamar mandi”
Istriku :”Iya”
Ibu        :”Kenapa? Uda sakit perutnya? Kaya gimana sakitnya?
Gung Gek masih inget kan gimana rasa sakitnya pas Bagus kemaren?”
Istriku hanya menjawabnya dengan anggukan dan di kamar rasa sakit itu seperti semakin menjadi-jadi hingga,

Istriku :”W’d, sekarang berangkat ke RS yuk”
Saya     :”Sekarang? Ayuk”
Saya pun mulai mengepak beberapa pakaian istriku, saya merasa santai karena teringat tanda-tandanya waktu istriku melahirkan Bagus, buang air kecil yang semakin sering, mulai dari setiap jam hingga setiap 15 menit. Semakin sering berarti tandanya semakin dekat, sementara tanda-tanda itu minggu kemaren tidak ada jadi aku pikir hanyalah kontraksi semu.

Di perjalanan, mendadak istriku memegang perutnya, meremas bajuku

Istriku :”W,w,w’d anakmu udah mau lahir”
Dan aku tahu dari mukanya itu bukan sedang ngelawak lagi pula belum waktunya juga untuk April Mop

Saya     :”Iyaa, sabar ya ma, kan kemaren mama inget pas Bagus. Ada bukaan 1-10, masih lama, sabar
yah, diatur nafasnya yah”
Saya berusaha untuk setenang mungkin sambil berdoa, mengelus-ngelus perut istri saya, untunglah ayah saya yang menyetir sehingga saya bisa menemani istriku. Kupegangi bagian bawah perutnya, ada sesuatu yang bergerak-gerak disana, dan tiba-tiba tanganku basah oleh air

Istriku :”Aduuh.., W’d, air ketubannya sudah pecah”
Ayahku:”Nde, rumah sakitnya lewat mana?”
Saya     :”Masih terus pa. Iya ma, sebentar lagi nyampe yah”
Dengan kondisi jalan yang cukup ramai, aku hanya bisa berdoa memohon belas kasihNya, aku hanya bisa pasrah. Seandainya, aku tau bapakku ga tau jalannya, mungkin seharusnya aku yang menyupiri. Seandainya adikku tidak sakit mata mungkin Bagus bisa ditinggal di rumah dan ibuku bisa ikut menemani istriku, seandainya… Begitu banyak andai-andai sewaktu itu.

Saya hanya bisa memohon pada Tuhan dan memegangi bagian bawah perut istriku, “Nak, bersabar yah, bapak mohon bersabarlah untuk sedikit lagi saja”

Sesampainya di rumah sakit, istriku dipapah oleh suster ke kursi roda da dibawa ke ruang persalinan, aku… tentu saja setia mendampinginya. Di ruang persalinan suster langsung melakukan pengecekan

Saya     :”Sudah bukaan berapa sus?”
Suster  :”Sudah 9 pak”
Singkat, padat dan cukup membuat lemas kakiku, terlambat sedikit mungkin aku akan menjadi dokter kandungan dadakan.

Suster  :”Maaf pak, tolong administrasinya diurus dulu”
Saya     :”Sus, saya minta saya tetap disini, tolong istri dan anak saya dulu. Duit bagi saya bukan masalah”
Saya sama sekali tidak bermaksud untuk arogan, tapi dalam kepanikan seperti itu membuat saya berpikir duit bagi mereka lebih penting dari istri dan anak saya. Untunglah suster itu mengerti dan menanyakan siapa dokter kandungannya agar bisa segera dihubungi.

Bad News! Dokter yang anda hubungi berada di luar jangkauan! Akhirnya saya pasrah diberikan dokter mana saja, siapa saja walau itu dukun beranak sekalipun selama anak dan istriku bisa selamat.
Dokter :”Haloo, selamat siang, wahh, kok sudah bukaan sekian baru datang sii…”th_113_

Dan selanjutnya tidak saya atau malah kami tidak menggubris lagi ocehan dokter itu, yang saya lakukan memeluk istri saya, dan istri saya menjambak rambut saya sampe beberapa helai rambut saya tercabut. Biar sama-sama sakit katanya setelah melahirkan *Dasaaarrrr….*

Malaikat kecil itupun akhirnya lahir, suster dengan cepat mencoba memasukan selang ke mulutnya untuk mengisap sisa-sisa air ketuban di paru-parunya, entah berhasil atau tidak yang kutahu tangisan anaku bergetar seperti berdahak. Trauma dengan kejadian yang pernah dialami kakakku, kuikuti suster yang membawa anakku. Ditidurkannya dia di tempat tidur penanganan pertama untuk bayi, kembali dicobanya menghisap sisa air ketuban, hingga akhirnya hidung anakku dipasangi selang untuk bantuan pernafasan. Masih kuingat tangisannya yang lemah tak bersuara, itu bukan tangisan, itu bisikan menurutku. Untuk kali kedua aku tegang, panik namun aku berusaha untuk tetap berpikiran positif.

Saya    :”Sus, masih ada air ketubannya yah, kok nangisnya ngga keras?”
Suster :”Sabar pak yah, nanti kami observasi dulu” sembari berlalu meninggalkan kami
Setelah dibersihkan dari sisa ketuban dan kotoran, dia begitu merah meski tangisnya tidak jelas aku tahu dia akan selamat, ya dia sehat, dia akan bertahan.

Suster :”Wah, cantik putrinya pak, klo kulitnya merah begini pasti putih nanti jadinya”
Hehe.. siapa dulu dong, yang terpenting itu gimana cara “ngaduk adonannya”

Setengah jam kemudian dokter anak yang menangani anakku mengatakan bila kondisi Gek baik-baik saja, namun dia perlu ijinku untuk mengambil sampel darah mengingat air ketuban istriku sudah hijau hanya sekedar memastikan tidak ada infeksi pada si kecil.

Dan kini Gek telah berkumpul dengan kami, menambah kosabasa kami mengatakan kata sayang, cinta, bahagia dan syukur,  cukup dengan melihatnya saja kami telah mengatakan itu semua. Mungkin diantara kami sekeluarga hanya Bagus, kakaknya yang masih bertanya-tanya, “Itu benda apa ya?”

Akhirnya tak ada kata-kata yang terucap, hanya, “Terima kasih Tuhan, atas jiwaku untuk bahagia ini”th_058_

22 thoughts on “Cinderella Tanpa Sepatu Kaca

  1. wahhhhhhhhhhhhhh!!!! congrats!!! congrats blih!! ternyata bulan lalu kita sama2 lg nunggu toh 😀 sayang ga dapet pas2an di RS ya 😛 Gek baru lahir aja dah punya bakat narsis kaya bapaknya ya 😛 hehe… Tp trauma tentang kaka kenapa? boleh tuh di share nanti buat pelajaran kita2 jg 🙂 sekali lagi selamat ya blih yande (^_^)

    yande: iya ngga nyangka lo, coba ketemuan kan bisa bikin postingan bareng ya bro. Eh sahat minta fasilitas suster datang ke rumah ngga? Kan ortu baru, sekalian buat belajar cara menangani bayi, perlu tuh

  2. Aduhhh…saya terharu sekali Bli…..runut banget ceritanya…selamat..selamat..Bli..Gek cantik yah, kok sepintas saya liat seperti Istrinya Bli yah?

    Pas banget tuh Bli ma lagunya GIGI yang 11 januari, biasa jadi theme song buat Gek

    Suksma.

    yande: loooo, itu dia Nur seninya “mengaduk adonan” masukin yang baik2nya aja hehe… keliatan bahan pokokna berkualitas wakaka…

  3. hiks…hiks….
    gara2 sakit mata mpe skrg w lum bisa gendong, lum bs cium ‘gek’
    liat gek aj ga bole
    bete….!!

    yande: kapokk, makanya punya mata jangan dipake ngintip aja wekeke…

  4. HE.. selamat Bli.. akhirnya punya lagi satu..he. kayak lagunya GIGI 11 januari postingnya yang tepaaaat..

    yande: he’eh, tau dia bapakna ngefans ama GIGI, tapi ente gimana, kapan mo nyumbang keponakan bro?

  5. Huwaaaaaaaaaaa….Bli Yande selamat ya…selamat…senangnya…Bener nich lengkaplah sudah keluarga Bli sekarang. Hmmm…cantik banget dedenya…

    yande: iya, terimakasih yaya, iya cantik, kira2 cantik mana ama yaya? hehe

  6. Hi friend.. Nice post.. Visit my blog and post your comments.. I have added you to my blog roll.. Hope you too will do the same.. Take care… Keep in touch mate!!!

  7. iiih susah deh tuh RS. mbokya nyawa dulu, baru administrasi.

    btw, itu pic terakhir, doi lg ketawa ya ?

    yande: yahh gt deh namanya juga orang bisnis, klo di LN kan enak semua orang uda punya asuransi tinggal nyebutin nomor ato kasi kartu tanda polis dah ga ngurus apa2 lagi

  8. Bagus juga pasti senang punya “mainan” baru..
    senangnya 🙂

    yande: hehehe, tau ngga hadiah pertama Bagus buat adiknya? sebuah tendangan di kepala wekeke… stress dah

  9. wahh, udah bukaan9 aja pas sampe RS?? ckk..cck… selamat ya bli.. smoga kehadiran malaikat kecilnya akan semakin memberi warna bahagia di keluarga… 🙂

    Yande: he’eh, seru, tegang pokoknya ngga kalah kayak nonton film perang di bioskop tapi untunglah semua selamat, terima kasih doanya yaaa

  10. Bli Yande, Omedetou ne!!!!! Selamat….kawaii ayu turut senang…..dia seperti malaikat yang manis… (kawaii enjeru) he he…..suatu hari nanti kawaii ayu juga pengen punya anak yang manis semanis anaknya bli yande….sekali lagi selamat….

    Yande: Amiiiinnn, kawaii Ayu uda cakep, anaknya pasti cakep juga ntar

  11. Selamat bli.Semoga hyang parama kawi selalu anugerahkan kebahagiaan dan si Gek kelak menjadi anak Suputra. 😀

    yande: Om Awignam Astu Namo Sidham, De makasi yah

  12. Pingback: Sang Pangeran « rumah sanjiwani

  13. hohooho tidak semua punya asuransi disini…*nangis kenceng karena gue gak punya asuransi* tapi tetap aja kalo gak punya uang, nyawa dulu. makanya banyak rumah sakit bangkrut. wong imigran gelap aja hrs dilayani.

  14. iya blih, kita dibantu suster sekitar 2 minggu, soalnya masih bener-bener bingung mau bagaimana di rumah 😛 hehe. Maklumlah ortu baru (^_^)

    yande: anak pertama itu trial and error wekeke.., jadi setelah itu kita tau dah gimana ngurus anak yang lebih baik pas uda ada yang kedua

  15. wahhh selamat ya bli…. lagi-lagi ceritamu membuat airmataku menetes, kali ini sich ga begitu deras 😀

    Cantik banget 😀 jadi udah lengkap nich ada pangeran & putri 😀

  16. Wow, selamat yach Yande atas kelahiran putrinya yang cantik. Ma’af yach rada telat, hehehe…
    Baca ceritanya jadi teringat detik-detik ketika melahiran tempo hari juga. Hem….kalau ingat semua itu, kita akan tahu betapa besarnya pengorbanan ortu kita dulu ketika melahirkan dan merawat kita sewaktu kecil. Jadi inget nggak ???
    Ok, dech Yande pamit dulu yach mau lanjuti aktivitas dulu, bye 🙂 🙂 🙂
    Best regard,
    Bintang

    yande: terima kasih mbak, ternyata menjadi orang tua itu tidak gampang. Saya baru mengerti itu sekarang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s