Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (3)

mama-n-bagusPagi ini, sama seperti pagi tiga atau empat hari yang lalu (karena bank hari sabtu dan minggu kan libur). Bangun pagi, bermain sejenak dengan anakku sembari menunggu mamanya pulang berbelanja kemudian setelah kekasih hatiku itu pulang membawa satu tas plastik berisi sayuran dan daging, lalu kutinggal anakku untuk mandi.

Setelah handukan, mengenakan pakaian yang telah tergantung rapi akupun berangkat menuju kantor, ups! tentu takkan pernah lupa ritual kecupan untuk anak dan istri paling nggak aku berangkat dalam restu mereka bagiku adalah salah satu bentuk yang bisa kupecahkan dari sejuta misteri tentang bagaimana Tuhan memberikan berkah hidayahNya.

Dijalanan kota Denpasar yang cukup padat kami para penggila uang merayap pelan, kaca jendela mobil kubuka sedikit dan kunyalakan sebatang rokok untuk mengusir kebosananku, yah mungkin itu lebih baik daripada aku ngomel, nyerocos nggak karuan mencaci kemacetan. Lampu lalu-lintas itu untuk yang ketiga kalinya berubah menjadi merah, seandainya aku membawa cat semprot hijau mungkin sudah kucat sekalian saja semua warnanya.

“Pak minta pak…”, aku menoleh ke jendela mobilku hanya ada tangan kecil disana yang terulur, kulonggokan kepalaku sedikit keluar dari jendela, syukurlah bukan tangan saja. Pemilik suara itu adalah seorang bocah perempuan dengan baju dekilnya, dengan bekas ingus yang diusapkan begitu saja diwajahnya, dengan rambut yang keterlaluan kusutnya, dengan sandal jepit yang bahkan berbeda warna dan ukurannya. Sejenak aku berpikir, bukanlah cara yang baik untuk mengajari anak menjadi terbiasa meminta-minta dengan menuruti kemauannya maka pandangankupun kualihkan lagi ke lampu lalu lintas yang mungkin lagi konslet atau merahnya kali ini memang menyala lebih lama dari biasanya.

“Pak minta pak..”, suara itu lagi akhirnya dengan keengganan, kuambil sebungkus permen di dashboardku dan hendak kuberikan, kupikir ini sajalah daripada di mobil juga tidak termakan. Untuk kali kedua aku melihat anak kumal itu namun sungguh aku baru menyadari diantara wajah yang kotor oleh debu itu ada mata yang menatapku begitu lugu, menatap permen yang kujepit diantara kedua jemariku dengan harap hingga jemari kecilnya meraih cepat permenku lalu berlari kegirangan kearah teman-temannya¬† sembari mengangkat permen itu setinggi yang dia bisa, seakan dia telah mendapatkan pialanya hari ini.

Anak itu begitu bahagia hanya dengan sebungkus permen, dan dengan tak sabar dia membuka bungkus permen itu dengan gigitan giginya lalu melahapnya kemudian deretan giginya dia perlihatkan padaku dalam senyuman seakan berkata, “Terima kasih permennya pak”

Merah telah berganti hijau, dan semuanya kembali berjalan merayap. Puntung rokokku masih tersisa setengah, baranya pun masih menyala. Ingin rasanya aku tergelak, itu kan hanya sebungkus permen bukan setumpuk uang yang biasa aku jamah di kantor, sejenak kemudian seakan hatiku berkata, “Sebungkus permen itu pun cukup“. Senyumku menghilang dan otakku mulai berlogika, anak sekecil itu mungkin belum tahu arti dari nominal angka yang tertera pada uang, anak sekecil itu bahkan mungkin tidak menginginkan uang, mungkin dia hanya ingin sebungkus permen. Pernyataan, analogi, bertumpuk dalam otakku.

Sore hari, selepas kepenatan dari segala macam laporan yang kubuat. Aku duduk-duduk santai di depan kantor, bercanda dengan beberapa cleaning service kantor. Iseng aku bertanya pada salah satu dari mereka, “Kamu itu kerja kepengen apa sih Ngah?”

“Maksud Pak Yande?” alah.. pertanyaan segampang itu kok ngga ngerti.

“Iya, saya cuma mau tahu kamu kerja disini untuk apa, biar gimana?” tanya saya lagi dengan santai.

“Yaa.. biar dapat uang pak, Pak Yande ini ada-ada saja” sahut Nengah (nama cleaning service itu) sambil ketawa-ketawa kecil seakan menertawakan pertanyaan bodohku.

“Trus?” lanjutku sambil menyeruput tehku yang masih agak panas

“Yaa buat anak saya Pak Yan, buat makan, yaa buat macem-macem, emang kenapa Pak Yan, kok tumben nanya gitu?”

Aku cuma tersenyum, setelah memberikan gelas tehku yang belum habis isinya kepadanya aku pun berjalan ke mobil dan berangkat pulang.

Cerita setiap manusia tidak akan pernah sama meskipun judul naskahnya sama ‘Kehidupan’. Dalam naskah itu ada peran yang harus dibawakan, dan dalam peran ada watak, ada keinginan, ada impian, ada rasa, ada kelakuan, yang kita pentaskan. Seringkali peran ini kita jalani dengan berimprovisasi melebihi daripada yang seharusnya. Anak kecil itu tidak membutuhkan uang dia hanya kepengen mengecap manisnya rasa permen, menikmati perannya sebagai seorang anak pun misalkan kuberikan recehan padanya mungkin tetap kan dia belikan permen.

Sesampainya di rumah, seperti biasa tawa si Bagus menyambutku, meluluh lantakan penatku. Mungkin aku lebih mengerti arti uang diandingkan anak peremuan itu sehingga seringkali aku mencoba untuk mendapatkan lebih dan lebih banyak lagi uang dan tanpa sadar mulai berimprovisasi dari peranku yang sebenarnya; seorang Ayah, seorang suami. Terimah kasih teman kecilku, senyummu menyadarkanku,”Keluargakupun bagiku sudah cukup

Tuhan, terima kasih untuk hari ini, kutemukan satu lagi dari sejuta misteriMu memberikan berkat dan hidayahMu.

6 thoughts on “Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (3)

  1. Sebuah lilin telah bersinar lagi, trims Bli.

    Pengalaman dan pengkajian yang sangat baik (bagi saya), apa yang Bli lakukan menurut saya adalah wujud iklas/tulus tanpa prasangka dan semua akan bermuara pada syukur.

    Suksma.

    yande: memang hanya satu kata ya, tanpa rumus, tanpa perlu kamus namun kenapa ya kita selalu lupa?

  2. alKisah Adimas Yande Reflektif dan kontemplatif !
    ada dua nilai yg dapat saya garis bawahi;

    1. realitas permen;
    KEHENDAK TUHAN = KEJUJURAN BAHASA ALAM

    Begitulah “bahasa alam” sederhana yang menceritakan tentang realitas kebenaran. BAHASA ALAM adalah REALITAS yg CULUN, LUGU, PALING DAPAT DIPERCAYA, PALING JUJUR. Banyak sekali alam ini dgn bijak mengajarkan kita akan makna hidup, tapi salah manusia yg sering mengklaim sebagai generasi modern, acap kali terlalu bebal memahami bahasa alam yg paling sederhana sekalipun. bagaimana bisa manusia mengenal tuhan lebih mendalam, sedangkan mengerti bahasa alam saja masih tertatih-tatih. padahal di dalam bahasa alam itu tersirat RUMUS-rumus kehidupan yang diciptakan TUHAN. bila kita memahami rumus tuhan, maka kita akan mengerti apa kehendak Tuhan. Bila kita mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan, maka kita akan menemukan KEHIDUPAN yang SEJATI. begitulah maksud dari “nggayuh kawicaksanning Gusti” (dapat memahami kebijksanaan Tuhan). siapapun yag dapat “nggayuh” pasti terbuka jalan untuk menjadi manusia bijaksana, menjadi orang yg hidupnya selalu kecukupan, tenteram, bahagia, selamat, sehat.

    2. Realitas anak pengemis = POLUSI KEJUJURAN

    kehidupan yg paling jujur adalah potret kehidupan anak…!???
    Kiranya pernyataan ini masih relevan. tetapi itu terjadi di pelosok yg jauh dari caru marutnya kota besar.
    sebaliknya, kehidupan anak di kota besar adalah potret BENCANA pencemaran terhadap kejujuran kehidupan anak. salah siapakah ini ? tentunya orang dewasa. yg telah “menggusur” habis “ruang dan waktu” bagi jiwa anak-anak untuk belajar mengenal kehidupan sesuai “kelasnya”. taman bermain anak-anak diganti dengan mesin produksi uwang pemuas nafsu manusia dewasa maupun tuwa. orang dewasa mempoles, merombak, mempugar, memahat pola pikir anak-anak, menjadi robot bernama MATERIALISM dengan bahasa pemrograman khusus pencari uang. alasannya klasik, kesulitan hidup !! bukankah hal ini sebagai bentuk pelemparan tanggjwb ortu kepada anak ?!! nilai kesadisan ortu yg pantas dijulukin “kerbau menyembelih gudhel (anaknya)”. bukankah anak kita akan datang gilirannya kelak menjadi org yg bertanggung jwb padakeluargany sendiri pula ?! tetapi orang tuanya sendiri kadang2 begitu bernafsu dan tega mencuci otak anak-anak darah dagingnya sendiri, hanya demi seperempat kaleng uang receh. orang2 tak bertanggungawab telah men-doktrin generasi balita supaya menjadi budak nafsu para manusia tua. begitulah generasi bangsa ini telah dicemari kehidupannya oleh para manusia penanggungjawab (pagar merusak tanaman). apa yg akan terjadi 20-30 thn yad jika “avatar”/satriapiningit urung muncul menyelamatkan generasi bangsa ini ?
    sebagaimana adimas Yande kontemplasikan di atas, mulai detik ini kita gembleng diri kita menjadi avatar-avatar sejati, minimal untuk diri pribadi dan keluarga kita sendiri, sebelum muncul satria piningit yg sejati.

    Rahayu
    sabdalangit

    yande: begitulah mas, seringkali kita lupa “batas” yang namanya “cukup” sehingga untuk sekedar materi itu kita lupa dengan peran kita, sandiwara yang kita jalani ini tidak mengenal adanya cut! atau take 1, take 2 seperti syuting film, maka saat kita terlalu berimprovisasi maka akan semakin jauh kita dari peran kita dalam naskah kita yang sebenarnya yaitu sebagai “manusia”.
    Rahayu

  3. Renungan yang menarik,Yande.

    Banyak hal yang kulihat,kudapati yaitu dimata kejujuran seorang anak.mata yang tak pernah berbohong.Mata yang juga selalu bahagia,dan tak pernah memikirkan hari esok,asal hari ini bisa terlewati.

    Sebenarnya,kata Cukup tergantung kita….kalau kita merasa cukup…kita sudah cukup.Tapi jika kita tidak merasa tidak cukup maka selamanyakita tak akan cukup.

    Ada rasa bersyukur dan terimakasihlah,yang akan membuat kita mengerti arti kata “cukup”.

  4. Pingback: Anak itu masih terlalu kecil untuk mengerti « rumah sanjiwani

  5. The frustration lies within many online marketers of the multiple
    and maybe even unnecessary changes the search engines make to their so called “algorithm” and YES I will agree I have shared these frustrations.

    Search engines are far more ‘intelligent’ today and effective SEO
    requires actual meaningful content pages, social networking, articles submissions,
    and a focused marketing effort. The world-wide-web is a fantastic medium from
    which organizations can attain out to a bigger client base more effortlessly and in a far more successful manner.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s