Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (2)

SAYA SEBAGAI CIPTAAN TUHAN

Kemarin malam mungkin dikarenakan tidur yang terlalu sore akibat kelelahan bekerja, aku terbangun dini hari sekali. Aku lihat di samping saya Bagus anakku tengah tertidur pulas dengan gulingnya, yah anak itu memang tidak bisa tidur tanpa guling kucelnya itu sementara istriku tertidur di sebelahnya sembari tangannya memegang botol susu yang sudah kosong.

Perlahan kuambil botol itu dan kubuatkan susu sebelum dia terbangun dan menangis lagi, susu itu ku taruh diatas meja dan aku mulai mencoba untuk tertidur kembali. Mataku terlalu basah untuk terpejam, meski kupaksa untuk terpejampun bola mataku masih tetap menari dalam gelapnya kelopak mata. Percuma memaksakan, aku kembali terbangun. Aku ambil rokokku dan berjalan keluar, terduduk dan kunyalakan sebatang.

Sebentar kemudia anjingku mendekatiku datang sambil mengibas-ngibaskan ekornya, lalu tertidur di samping kakiku. Namanya gufi, dia menatapku kemudian tanganku, dikiranya rokok yang kujepit di jemariku adalah tulang yang hendak kuhadiahkan padanya. Entah kenapa hatiku jadi tertarik untuk menerka apa yang sebenarnya terpikir oleh mahluk ini.

Hidupnya sangatlah sederhana itulah yang pertama terbetik dalam pikiranku, untuk makan sudah kami para manusia yang menyiapkan bahkan menghidangkannya, bila sakit, kami yang bingung mencarikan dokter sementara saya sendiri cukup hanya dipijat. Dia tidak perlu mencari uang untuk membeli beras, membelikan anaknya susu apalagi bingung untuk membuat sebuah postingan di blog. Dia hanya cukup menggonggong untuk menyatakan keberadaan dirinya.

Aku tertawa kecil menyadari kekonyolan pemikiranku, bagaimana mungkin aku yang manusia harus iri terhadap kehidupan anjing, karena mungkin dia juga berpikir

Seandainya akujadi manusia, mungkin aku tidak perlu tidur kedinginan, mungkin aku bisa memilih makanan atau minuman yang aku inginkan, aku bisa mengenakan kulit (pakaian) yang berbeda setiap saat, dan yang pasti aku bisa berjalan lebih dari 1 meter dari tempatku saat ini

Manusia tercipta dengan keinginan bahkan setiap mahluk pun demikian, hanya yang membedakan mereka tahu saat merasa cukup terpenuhi mereka akan berhenti, sementara manusia meski telah memiliki namun tidak pernah merasa cukup untuk berhenti. Saat sekarat, mereka hanya bisa pasrah menunggu mana yang terlebih dulu datang keberuntungan akan prihatinnya manusia ataukah kematian, sementara manusia berpikir siapa yang akan menjalankan perusahaanku, siapa yang akan merawat anak-anakku, atau siapa yang pantas menerima warisanku?

Tuhan menciptakan semua mahluk memiliki hak yang sama namun manusia menganggap dirinyalah yang berhak mengatur. Tuhan adalah milik semua mahluk ciptaannya namun apakah hanya manusia yang diingatkan, diwahyukan, diperingatkan dan dihukum?
Apakah hanya manusia yang dibuatkan kitab sebagai penuntun hidupnya?
Apakah hanya manusia yang diciptakan dengan segala peperangan dan diperbudak dengan otaknya sendiri?
Apakah hanya manusia yang membuat wahyu suci dari Tuhan sebagai alat untuk membedakan golongan kafir dan taat?
Apakah hanya manusia diberikan “Sang Penyelamat”?
Bila demikian seharusnyalah manusia adalah yang terbodoh dan terlemah. Terbodoh karena hanya manusia yang memerlukan peringatan, tuntunan dah agama yang bahkan harus tertulis menjadi kitab untuk diingat meski dengan itupun manusia belum mengerti. Terlemah, karena hanya manusia yang menangisi hidup, meratapi nasib, dan putus asa.

Kubuang puntung rokokku yang mulai pendek, kubelai kepala si gufi dan beranjak kembali ke kamarku. Kuhidupkan lampu kamarku dan untuk kedua kalinya aku tersadar, gufi tidak memiliki anak setampan Bagus, istri yang cantik dan setia seperti istriku, ternyata akulah yang lebih beruntung sementara dia hanya sendiri tidur dengan kedinginannya. Aku pun bersyukur, “Tuhan, terima kasih untuk hidupku hari ini”

2 thoughts on “Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (2)

  1. Maaf Bli saya tidak tahu apakah tulisan ini boleh dikomentari atau gag, selama ada kolom komentar saya komentari..

    Ketika saya penat, mata udah melod-lod liat monitor, dan AC seakan sudah tidak berfungsi saya, sering keluar kantor, menyalakan sebatang rokok, sambil melihat pohon kelapa di seberang jalan..hampir setiap saya merokok saya melihat pohon kelapa itu.

    Dan satu istilah yang bisa saya ambil dari tulisan bli dan pengalaman saya melihat pohon kelapa adalah “bersyukur”.

    Tnx Bli..

    yande: semua tulisan di Rumah Sanjiwani boleh dikomentari, karena apa?
    Tidak ada manusia yang sama oleh sebab itu manusia itu spesial

  2. Semua makhluk ciptaan Tuhan itu beruntung…
    kita beruntung menjadi manusia karena kita diberi akal dan pikiran dan manusia itu adalah ciptaan Tuhan paling mulia.
    menjadi binatang pun beruntung karena binatang tidak perlu berpikir susahnya menjalani hidup ini, binatang hanya perduli bagaimana agar perutnya kenyang, tidak seperti manusia yang hidupnya selalu ada masalah….

    yande: sebenernya hewan pun punya masalah, seperti: kutu, rabies, dll namun mereka tidak pernah saya lihat patah hati karena cinta seperti manusia (hayah..) makanya disana ada lagu “Lebih baik sakit hati dari pada kutuan” by: meggy doggy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s