Itu Salah!

Kemaren tambah lagi 1 kejadian yang membuat aku apriori, antipati dan males ke tempat yang namanya dokter, rumah sakit atau instalasi medis lainnya. Ceritanya beberapa waktu lalu, aku beserta istri dan anakku pergi ke dokter anak di bilangan Renon sana, just say his name is dr. M. Anakku sudah hampir seminggu muntah-muntah, apapun yang dimakannya dimuntahkan kembali tapi dia tetap keliatan energik tidak terlihat lemas seperti anak kurang makan.

Setelah diperiksa berat badan dan kondisi badannya, dokter pun langsung menuliskan resep beserta dosisnya. Kami selaku orang tua baru tentu ingin tahu keadaan anak kami dan aku pun bertanya, “Maaf dok, Bagus sebenarnya sakit apa ya dok?” dan dijawabnya, “Cuma infeksi lambung saja, nanti setelah habis obatnya periksa lagi ya”. Sebagai orang awam yaa untuk anak saya manut dan manggut-manggut aja.

Belum habis obat yang diberikan oleh dr. M tersebut, si Bagus badannya menjadi panas hanya saja menjelang pagi panas turun lagi, dikarenakan mirip gejala DB kami bawa kembali ke dr. M. Ditanya sakitnya apa, kami jawab keadaan Bagus yang naik turun panasnya semenjak kedatangan pertama kemaren, kembali dokter memerikas sama seperti yang dilakukan kemaren, hanya kali ini kami disuruh cek Laboratorium. Sekali lagi demi anak kami turuti, sekembalinya dengan hasil lab. dan kemudian diperiksa kembali hasilnya oleh dokter, kembali dr. M membuat resep, “Coba pake obat yang lebih keras” Dalam hati, “sialan lo kira anak gue tikus lo pake percobaan obat?!

Merasa kecewa dengan dr. M kami bawa ke dokter yang lain, dr. S disini kami pikir suasananya untuk konsultasi bisa lebih enak karena di dr. M kayaknya tidak sempat untuk melayani berbagai macam pertanyaan, jangankan melayani, pertanyaan sakitnya si Bagus apa waktu itu yang aku rasakan adalah keraguan.

Di dr. S memang sempat kami bertanya 2-3 pertanyaan tentang tumbuh kembang Bagus, dan bila di dr. M mengatakan Bagus terdapat infeksi lambung sementara dr. S mengatakan pencernaannya masih goyah akibat kebanyakan minum susu, trus ini yang benar yang manaa? Sekali lagi demi anak kami nurut, manut dan manggut-manggut. Seminggu kemudian Bagus masih saja muntah-muntah meski telah kami recokin dengan bahan kimia sintetis jahanam (obat) seperti itu belum tampak perubahan yang berarti, kembali kami datang ke dr. S untuk memeriksakan keadaannya Bagus. Kami ditanya berbagai hal tentang pola makan dan tidurnya bagus sama seperti saat pertama kami kesana dan jawabannya kali ini, “Itu salah!, anak jangan… bla,bla”

Meski dengan terkejut dan sedikit merasa tidak terima dipersalahkan, demi anak aku cuma bisa nurut, manut dan manggut-manggut lagi. Sembari mencoba menuruti saran dr. S, aku mencoba untuk menganalisa sendiri keadaan si Bagus akhirnya kuputuskan untuk mencoba pijat bayi dan penerapinya juga kakak seduluranku yaitu Mas Oki alias Mas ABC (ABC Brotherhood!), sengaja kuundang dari Malang dan ternyata menurut analisa Mas Oki, Bagus hanya sedikit ngga nyaman pada tengkuk dan bahunya entah karena posisi tidur yang tidak bagus atau bagaimana dan setelah diterapi, keesokan harinya dan untuk seterusnya Bagus tidak muntah-muntah lagi.

Umur Bagus sekarang telah 1.6 tahun, dalam umur sekian menurut dokter bila si bayi belum bisa berjalan maka termasuk telat berjalan, akhirnya aku dipaksa istriku untuk kembali mencari doter khusus tumbuh kembang anak. Lagi-lagi di bilangan Renon, dokter tersebut direferensikan oleh seorang profesor spesialis anak. Untunglah waktu itu tidak terlalu ramai sehingga kami tidak terlalu lama menunggu. Dokter itu seperti khusus dokter fisioterapi untuk anak-anak. Pertemuan awal kami diwawancara tentang Bagus, tentang keluhannya, dan perkembangannya. Kamipun bercerita, bla…bla… dan sekali lagi kalimat itu terdengar,”Itu salah, jangan begitu…”

Jujur ingin rasanya aku berontak dibegitukan, kenapa? Oke logisnya begini, bilamana anda dikatakan salah?

Bagi aku seseorang dianggap melakukan sesuatu yang salah atau bersalah apabila dia melakukan sesuatu yang dia telah ketahui sebelumnya adalah salah, atau apabila seseorang yang telah mengetahui bagaimana seharusnya yang benar namun tidak dilaksanakan. Itulah bagiku pengertian tentang apa itu “salah” sementara kami, kembali aku katakan sebagai orang tua baru kemaren, tentu kami belum memiliki pengalaman, pengetahuan apapun tentang tumbuh kembang anak dan keadaan anak dan apabila kami melakukan suatu kesalahan itu adalah sangat wajar dan bukanlah suatu kesengajaan karena kami memang belum mengerti bagaiman seharusnya yang benar.

Bila aku sekarang kembalikan pada okelah dokter manapun, aku ajak untuk berdebat masalah Neraca, Cashflow, Ledger dan hal lainnya yang merupakan pekerjaan keseharian aku di Perbankan, dan yang pasti sebagian besar sekali mereka tidak mengerti, apakah mereka aku bisa katakan salah? Rekan-rekan dokter yang mengajukan aplikasi kredit, yang selama ini saya analisa 100% tidak ada yang mengerti tentang pembukuan, apakah aku bisa menjudge mereka itu bodoh?

Kita masing-masing memiliki keahlian tersendiri, dan keahlian itulah yang membuat kita bernilai materi, yang kita gunakan untuk mencari uang. Maaf aku tidak bermaksud mendiskreditkan profesi dokter tapi hanya memberikan contoh, kebetulan saja aku sering di “salah”kan atas ketidaktahuanku.

Satu hal lagi yang membuatku kesal adalah seringkali seorang dokter terlalu jauh melewati kuasa pendidikan kedokterannya hingga bisa memvonis umur seseorang, itu konyol sekali ketika seorang manusia merasa bisa bermain menjadi Tuhan (apa mungkin dia dulu ikut UKM God Tycoon?) bukankah lebih baik bila antara pasien dengan dokter terjalin komunikasi yang baik, yang dokter mengerti tentang penyakit, yang pasien bisa memberikan input keadaannya yang tepat untuk dianalisa. Seandainya memang si dokter ternyata belum nyampe kesana ilmunya jangan malu untuk merujuk ke rekannya yang lebih berkompeten.

Setiap manusia tercipta dengan kepintarannya sendiri-sendiri dan atas kemampuannya itu akan timbul tugas bagi dirinya, maka meski sebetik kata yang terucap atas nama kemampuannya tersebut adalah pertanggung-jawaban, nyawa bukanlah sekedar permainan dosis obat belaka

10 thoughts on “Itu Salah!

  1. Aloo. kecian deh si Bagus. Yande,.. jij tinggal dimana?
    Maksud mbak-e itu di jabar ‘tO jabur. eh ndak ada yah?
    oooooh Malang toh. ra’sido wes nawake doketr sing apik. Gimana Bagus, dah sehat ?

    yande: saya di Bali mbak, Bagus sekarang masih dalam proses terapi ini tadi pkl 22.00 WITA baru pulang dari terapi. Mbak mo nanya Jabur itu daerah apa si? klo jabar = jawa barat / jkt barat?, jabur = … apa berarti tulisan yang nggak jelas, ato ada penjahat lari, ato nasi yang dicairkan…

    *itu kabur sama bubur dasarrr*

  2. Alow Bli, oh begitu ceritanya..saya membaca sambil manggut-maggut..trus pengen nonjok Dokter itu..semprul..

    Saya segaris dengan Bli, bawasannya “salah” itu bisa dikatakan salah “kalau sudah mengetahui” sebelumnya… wah egois yah tuh Dokter…

    Kalo ada lagi case-case seputaran buah hati, tulisannya di simpan yah..sapa tau saya nanti perlu share ma Bli kalo sudah ada momongan..wakakakaka…

    Salam buat Bagus dan keluarga Bli, semoga selalu sehat.

    yande: thanks Nur, kalo perlu semua obatnya kita njuss dokter itu biar tau, sama anak kok coba-coba (lo kok kayak iklan yah?)

  3. betul…kalo orang nggak ngerti ya nggak bisa dibilang salah…sekan-akan semua orang harus ngerti ini itu…
    dan betul juga konsumsi obat yang sering juga nggak baik…obat kebanyakan = racun…

    yande: laa itu mas, itu yang saya maksud, merdeka!

  4. Ha..ha..ha…ada beberapa temanku diIndonesia, alergi sama dokter,pas aku disini,saya tanya-tanya gejala dan ciri yang diderita anaknya,dan saya tanya kedokter sini,lalu saya beritahu lagi kedia,katanya lebih akurat asal keluhan dan cirinyanya jelas.

    Ada yang bisa saya bantu? (saya tanya kedokter sini) Namanya juga usaha,tanya sana-sini,supaya lebih jelas dan kita dapat ketahui penyakit apa sebenarnya,cepat tahu ,kita bisa cepat mencari solusi,walaupun tanpa pemeriksaan ngak seratus persen akurat,tapi lebih baik dari Dokter yang membuat orang-orang alergi.setiap anak memiliki kemampuan berbicara dan berjalan yang tidak sama,tapi 1.6 bulan sudah agak terlambat kalau belum bisa berjalan,

    apakah kakinya lemah?atau dia ngak berani untuk berjalan?
    apakah dia sudah berani berjalan berpegangan dididinding atau digandeng tangannya?kalau bisa kamu kasih saya,keadaannya yang lebih rinci,saya akan tanya dengan dokter disini,tapi cara kamu untuk terapi sudah benar?

    Semoga Bagus sudah sehat dan sudah bisa berjalan ya!

    yande : Aduuu, senengnya punya sohib yang perhatian kayak mbak aling, ntar dah ta main2 kesana sambil ngasi tau keadaannya Bagus. Minta tolong yaa…

  5. Wah pengalaman bagus nih bli, jadi nambah wawasan saya nih. Ya ternyata memang benar apa yang kita dapatkan di Malang kemarin. Kenapa kita mempunyai dokter pribadi(jika sakit selalu dokter itu yang kita kunjungi), dan ketika kita berobat ke dokter lain itu efeknya tidak cepat sembuh. itu dikarenakan dokter sudah tau riwayat penyakit kita dari awal sampai akhir, ini mungkin berhubungan seperti apa yang ada di wacana bli. “Ya coba dengan dosis yang lebih tinggi” ????? . ini hanya logikanya aku aja bli.. dokter akan selalu menaikan dosis obat ke yang lebih tinggi mungkin karena tau bahwa penyakit akan selalu membentuk proteksi terhadap antibiotik yang kita minum, nah jika dokter lain kebetulan memberikan dosis yang mungkin lebih rendah dari dosis sebelumnya, ya gak ada efekny bahkan mungkin bisa sembuh lama itupun karena penyembuhan dari antibodi kita sendiri.. Tapi bagaimana jika setiap kita sakit kita berobat ke dokter yang sama dan dosis obat akan terus naik demi sedikit ??? duh gak tau dah apa efeknya terhadap tubuh kit.!! (he.. kok kayak tau aja nih aku πŸ™‚ peace man ). Ya mending kita berobat kalau bisa menggunakan PENGOBATAN TRADISIONAL KAYAKNYA.. HE PROMOSI NIH..

    yande: na… itu dia sekarang coba dipikir buat apa seeh belajar mahal-mahal klo ternyata semua pasien di trial and error. Saya yakin semua dokter prinsipnya sama agar pasien sembuh, dan untuk membuat formula dosis juga ga bisa sembarangan juga dengan perhitungan, jadi.. ya dihitung dulu dooonk! Akhirnya setelah dosis ga mempan, obatnya diganti yag lebih keras, itu juga ga mempan, operasi, setelah itu tetep sama, disuruh berdoa alahh… tau gt ya dari pertama disuruh berdoa aja ya wakaka…

  6. sekarang de’ Bagusnya udah baikan mas? sik…sik mas dalam bahasa Bali tuch apa sich? :mrgreen:

    yande : ini ntar sore mo terapi lagi, Mas itu… bhs balinya bli bagus kapak tujeng kapak dedut wakakak… “bli” aja kok

  7. Wah wah wah..
    Bli yande contoh bapak muda yang baik..
    Ntar kapan kapan yang gak tau kapan kalau sie udah nikah dan punya bayi hi hi ngayal
    Boleh ya konsultasi, tapi awas kalo ntar bli yande juga bilang, waduh sie itu salah!! πŸ˜€

    yande : ooo, ga mungkin bli yande ngomong gt, bli yande akan ngomong, “wah sie itu ngga bener!” wakakaka…

  8. wah…ternyata susah juga punya anak kecil, apalagi kalau ekonomi pas-pasan, anak sering sakit, mesti kedokter…waduh…puyeng dah…
    Tp sekarang bli yande kan dah bisa terapi sendiri ya, kan dah bisa refleksi,wah pastinya bisa ngurangin biaya kedokter…

    *tidak bermaksud mempromosikan lho,hehehe…*

  9. Wah, anak saya baru mau lahir jadi rada parno juga ama dokter-dokter di bali. Yah, begitulah resikonya kalau profesi dokter bersifat komersil. Tidak bisa disalahkan 100% sih, tapi juga tidak bisa dibenarkan.

    Mudah2an bagus sehat2 terus ya (^_^)

    yande: naa klo gt sebagai orang tua baru (apalagi klo masih calon) mungkin baru memiliki bayangan gmn itu menjadi orang tua yang baik tapi coba deh… ntar klo si kecil sudah lahir.
    Tidak ada manusia yang terlahir sama, ceritaku sebagai orang tua pasti akan berbeda dengan ceritamu nanti, believe me πŸ™‚

  10. maka dari itu kawaii ayu kadang tidak percaya dokter….
    Punya anak kecil memang susah apalagi kalo sakit…jadi bli yande dan istri harus tetep semangat dalam merawat si kecil…
    GBU
    Ganbatte kudasai…..

    yande : sayangnya saat kita sakit, kita “terpaksa” mempercayainya. Hhh….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s