19.30 di kantor

Rasanya sudah penat banget ini mata melihat angka-angka yang bertebaran di layar monitor, semakin kulihat mejaku semakin sumpek rasanya. Pekerjaan ini kok kayak ga ada habis-habisnya.

Kucoba menutup mata sejenak merenggangkan retina-retina mataku yang mungkin sudah cukup lelah menyeimbangkan eksposure, dengan aperture, lo? kok jadi kayak ngomongin fotografi, tapi memang pekerjaan ini benar-benar melelahkan. Mungkin anda pun merasakan hal sama terutama bagi yang benar-benar berdedidasi eh berdedikasi  dalam pekerjaan anda, terserah dedikasi apa saja, kasi baju boleh tapi saya lebih seneng dedi-kasi mentahnya aja hehe.. *ngelantur dah*

Contoh sejak dari tadi pagi, banyak banget nasabah-nasabah yang berdatangan, ada yang hendak pencairan kreditnya (lagian kredit kok ditaro di kulkas, ?!), ada juga yang cuma sekedar nanya bunga kredit sekarang berapa, ato yang sekedar iseng nanya toiletnya dimana padahal saya kan analis kredit bukan penjaga wc umum.

Namun pelayanan adalah prioritas kami dan seringkali karena moto yang coba untuk aku tanamkan itu menjadi bumerang untuk keluargaku (hehe padahal main bumerang aja belon pernah, klo digigit semut rang-rang sering). Seringnya aku bekerja hingga larut seperti oralit kadang membuat gemas istriku, yahh namanya juga suami-istri kan emang harus begitu. Ngambek sampe tidak mau disentuh, aduuh masak mo tidur harus meluk keyboard juga Yang?

Sesekali aku coba untuk pulang lebih sore, kutinggal begitu saja aplikasi-aplikasi kredit itu berantakan di meja dan pulang cepat untuk bercanda dengan anakku selain itu toh masih ada hari esok. Keesokan paginya rutinitas kembali kujalankan, mengerjakan aplikasi-aplikasi kredit kemaren. Belum rasanya selesai menganalisa satu aplikasi, nasabah-nasabah sudah berdatangan dengan membawa “rejeki” aplikasi kredit baru, maka menumpuklah semua aplikasi-aplikasi itu.

Terkadang ingin rasanya untuk berhenti bekerja, namun senyum anakku membuatku kembali kuat. Segalanya memang hanya untuk dia, karena dia adalah alasanku untuk tetap hidup, dia inspirasiku, dialah matahariku, dan dialah buah keringatku bersama istriku hehe…

Terkadang juga aku menghayal, enak yah jadi anaknya Sultah Bolkiah (raja Brunei Darussalam). “Ayah minta Lamborghini dong, Ferrariku kemaren bannya kempes”, “Ayah aku pakai jetnya yah, mau jemput Dewi Sandra” rasanya jadi anaknya itu, ada barang bagus gitu baru ngeliat aja belon minta, uda dibeliin. Ah ntar bikin posting “seandainya aku jadi…”

Kembali aku berkutat dengan angka-angka dan tak terasa di luar ruanganku sudah gelap, kulirik jam tanganku. Pukul 19.30 dan kulihat mejaku hhh…, pekerjaanku masih banyak

5 thoughts on “19.30 di kantor

  1. wah-wah jiwa yang penuh dengan semangat.. perjalanan hidup memang seperti itu (hee. sok tau sekali aku nih padahal masih bau kencur) .. tetap semangat ya bli… moga sukses.. kl udah suskses bagi-bagi rejekinya yaw.. 🙂

  2. Keluarga sebagai motivasi sangat bagus apalagi anak sungguh mulia, tapi kalo kita-kita yang masih muda, seperti saya dan dewa ajus, masak motivasinya anak juga? anaknya siapa?wekeke.yah sekedar guyon.

    Mengenai pekerjaan saya juga mengalami masa-masa bosen dengan rutinitas pekerjaan sehari-hari, cuma saya selalu survive dengan motivasi

    ‘memang sudah waktunya saya bekerja’,

    itu dikarenakan

    ‘lek atine pragat ngidih jak rerame’,

    gitu kalo pengalaman saya bli.

    Suksma.

    yande said:
    mmmm…., ya,ya.. semoga dengan beka tambahan refleksi ini juga bisa bantu2 kita yah dalam menabung, punya anak itu=cost, high cost

  3. 🙂 dari awal baca sampai komen mu di page ini, aq Ke-tawa ngakak tertahan (kalO keras2, ‘penghuni lain’ di rumah ku yang lengang, terganggu).
    Belum apa2 aq dah tresnan sama gaya tulisanmu. Thanks berat saran bagusnya untuk mbak di sana. Salam kenal. Salam buat siapa ajalah yang disayang.

    yande: selamat datang di rumah saya mbak semoga bisa menjadi rumah mbak juga, salam balik dari anak dan istri saya

  4. wedew, qu ktawa lagE nEh. Gawat kalO kujadiin rumah qu juga. Lantas mo ditarOH dimana mbakyu mu… udah akh jadi kejang perut nih. Asal jangan tari kejang ya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s