Cerita tentang Teman, Sahabat & Saudara

26 tahun, itu seperempat abad lebih setahun. Kalo dipikir-pikir cukup lama sudah aku celingak-celinguk di dunia ini, dari sekian lama hidupku aku merasa tidak terlalu banyak hal yang kuingat.

Salah satu bab dari hidupku yang ingin aku bagi saat ini adalah tentang teman… mungkin bisa disebut sahabat… tapi sepertinya lebih tepat mereka aku katakan sebagai saudaraku. Saudara kandungku mungkin sedikit ada dua orang dan jujur aku merasa kita menjalani kehidupan sendiri-sendiri, mereka hidup pada waktu dan dunianya sendiri begitu juga aku. Aku lebih merasakan arti saudara sesungguhnya justru dari mereka yang bukan se’ibu dan se’ayah denganku.

Meski cukup banyak memiliki teman dekat semenjak kecil hingga kini namun yang tetap aku up date silaturahminya hanya dengan beberapa unit saja hehehe. Mungkin tidak ada salahnya bila aku memperkenalkan mereka pada anda mmm, kita mulai dari sewaktu aku menginjak SMU (well, seperti yang aku katakan bukannya aku tak memiliki teman sebelumnya tapi memang mempertahankan suatu hubungan pertemanan itu memang tidaklah mudah) tepatnya SMU kelas III dimana aku mulai mengerti arti kenakalan remaja hehehe…, mulai dari mencoba untuk seperti Arjuna jadi-jadian hanya untuk membuktikan bila aku adalah pejantan sejati hingga menjadi pelanggan tetap suatu toko yang menjual seragam sekolah akibat terlalu seringnya seragamku rusak gara-gara berkelahi dari suatu sebab yang sangat kekanak-kanakan bila aku sadari pada umur sekarang; hanya karena saling pandang hehehe.

Purwanta, Suardana, Charles, Gung De Dolar, merekalah sohibku sewaktu SMU (by the way aku alumnus SMUN 7 Denpasar. Matuha, Migasa, Mawredya, SISMA!). Aku masih ingat bagaimana kami berusaha mencari tempat-tempat rahasia di sekitar sekolah, tempat dimana jangankan guru bahkan mungkin pak bon tukang kebun sekolah ga menyadari tempat tersebut, untuk apa? Hanya sekedar tempat untuk merokok hehehe. Aku juga masih ingat setiap malam minggu kami berkumpul di rumah Charles yang kebetulan memiliki halaman belakang luas untuk menghabiskan malam dengan memanggang ikan atau ayam dari hasil urunan, ditemani dengan beberapa botol arak, kami berceloteh tentang berbagai hal mulai dari teman cewek incaran terbaru untuk dikerjain, rival-rival kami dari kelas IPS, guru-guru pengajar yang tidak pernah ada benarnya di mata kami terkecuali beberapa yang murah hati memberikan nilai-nilai bagus, segala hal yang entah itu bisa dijadikan sesuatu lelucon atau tidak kami tetap tertawa usai menceritakannya. Hingga akhirnya pertemuan pun menemui pasangannya, perpisahan, kelulusan membuatku harus berangkat ke Malang dikarenakan Pakdeku (alm) melihat pergaulanku yang tidak sehat di Bali ini hehehe, kamipun mengadakan pesta untuk yang terakhir kalinya hingga saat ini. Semenjak itu kamipun semakin jarang kontak kecuali aku dengan Charles itupun dikarenakan sekarang dia telah menjadi kakak iparku hehehe. Terakhir kalinya aku bertemu mereka, Suardana kini telah menjadi Akunting Manajer di suatu hotel ternama di sekitar Kuta sana. Purwanta pun telah menikah dan juga telah beranak pinak (thanks Bro sudah memberiku ponakan)yang diberi nama Iwan (sekali lagi thanks, nama gue lo jadikan nama anak lo, I appreciate it) dan bekerja di sebuah BPR di dekat rumahku. Charles sekarang freelance Finacial Investment Consultant n Analyst, jadi klo mungkin anda ingin mencoba main derivatif atau valas saya sarankan untuk menghubungi dia (he’s got skills!) sementara Gung De Dolar…, Gung klo lo ga sengaja membaca cerita ini reply ya bro.

Ceritaku di Malang aku mulai ketika aku mengikuti UMPTN di UNIBRAW, bayangkan bila anda berada di suatu lingkungan yang asing dimana penghuninya meski memiliki wujud yang sama (manusia) namun berbahasa planet alias anda tidak mengerti blass apa artinya. Maka meskipun ramai anda akan merasa sendiri, akhirnya untuk menghilangkan perasaan itu aku menghibur diri dengan merokok di balkon lantai 2 gedung entah apa namanya aku lupa.

Kucluk,kucluk,kucluk datanglah seorang penghuni planet ini kemudian berdiri disampingku, waktu itu kepengen rasanya membuka suatu percakapan sekedar untuk melemaskan lidah tapi aku bingung, apakah dia mengerti Bahasa Indonesia? Huahahaha… untunglah seperti telepati dia menjawab kebingunganku dengan memulai duluan percakapan itu. Namanya A’ad, Zadil Ma’ad lengkapnya yang entah bagaimana sekarang bernama Robet. Perkenalan itupun meski tak lama ternyata hingga saat ini kuharap untuk selamanya dialah saudaraku pertama di Malang. Dari Robet jugalah aku memiliki banyak teman-teman baru, dia juga my private teacher in Boso Jowo lantaran awalnya kami saling ledek-ledekan dengan bahasa daerah kami masing-masing. Dekatnya persahabatanku dengan Robet melebihi keakrabanku dengan sepupuku hingga akhirnya aku lebih sering menetap di rumahnya Robet dibandingkan di rumah sepupuku. Why? Aku bukan tipe orang yang senang dengan pertunjukan semu kekayaan ortu sementara dengan Robet bahkan saat uang kami habis pun kami mengamen keliling perumahan untuk mengumpulkan uang rokok. Cuek dan have fun, sayangnya karena terlalu cuek dan have fun seperti burung yang lepas dari kandangnya aku lupa dengan tujuanku ke Malang, kuliahpun keteteran.

Dinginnya tanggapan orang tuaku melihat nilai IPku yang dikirimkan oleh pihak kampus (dasar kampus kurang kerjaan ya) membuat aku memaksa diriku untuk lebih aktif untuk kuliah apalagi ditambah hukuman dari ortu dengan meng-cut jatah bulananku. Get Real! Mann.., haruskah masa muda aku lewati dengan hanya makan di warung tegal saja? Akhirnya bukan hanya kuliah saja yang aku tekuni namun kegiatan UKM di kampus pun aku jalani hingga aku berkenalan dengan Teratai Tunjung.

Awalnya aku menegnal Teratai Tunjung (TT) karena cukup sering aku bermain-main ke Pondok Bambu, begitulah nama rumah keduaku itu. Entah kenapa aku merasa nyaman untuk sekedar duduk-duduk dan mengobrol disana, meski sewaktu itu terlihat seperti rumah yang agak reot karena memang benar-benar dibangun dari bambu pun juga telah lama sekali, aku merasa ada ketenangan yang berbeda dari rumah itu. Seakan mengisolasi diriku dari kepenatan kuliah, atau memang suasana keakraban diantara penghuninya yang menularkan perasaan itu kepadaku entahlah yang aku tahu aku senang berada disana.

Edo kondolongit eh Edo Prayoga, aku masih ingat adalah orang yang mampu membuatku penasaran sehingga akhirnya aku menjadi wong TT, yang dia katakan, “Nde, klo kamu ingin tahu sudah benar atau belum hidup yang sudah kamu jalani selama ini, masuk TT”. Sebelumnya aku sudah pernah ditawari oleh orang dr UKM lain yang pandanganku waktu itu sama dengan TT, pemikiranku waktu itu tenaga dalam hanyalah film komedi, klo mereka jatuh terguling-guling adalah akting yang sangat konyol, tapi sewaktu Edo mengatakan hal tersebut hati kecil ini serasa ada sesuatu yang terbangun hingga aku mulai mencoba-coba ikut LSOP Teratai Tunjung ini.

Aku tidak akan memaparkan definisi tentang LSOP Teratai Tunjung disini karena menurutku pemaparannya bisa anda baca di situs ini, lagipula agar cerita ini tidak terlalu jauh melenceng hehehe. Akhirnya hari demi hari sejak itu aku lewati bersama dengan sedulur-sedulur TT, oya sedulur itu adalah bentuk dari kekeluargaan kami, dimana bagi saya persaudaraan di dalam seduluran yang aku rasakan lebih dalam dibandingkan sahabat atau bahkan saudara kandung sekalipun.

Mas Paulus, Mas Aan, Mas Heppy, Mas Yoppy, Handi, Edo, Indrayana (jogang), Rio, DP, Ayu, Irvan, Rivan, Qodar, Shanti, Pritta, Lilik dan sepurane rek masih banyak lagi yang klo aku sebutkan semua mungkin pembaca akan melihat cerita ini sebagai kartu absen hehehe. Bersama merekalah aku lewati sisa masa kuliahku di STIE Malangkuçeçwara, dari mereka aku beajar bagaimana berorganisasi, bersosialisasi, menghormati orang lain, dan menghargai diri sendiri.

Bila anda pernah memiliki soul mate mungkin anda tidak akan pernah merasa kesepian, aku tahu karena aku merasakan hal itu. Sepanjang hari aku habiskan waktuku di Pondok Bambu, ngopi, ngobrol, ngerokok main kartu (bukan main judi lo) dengan mereka. Sampai-sampai aku yang sebelumnya tinggal bersama keluarga sepupuku, mulai belajar untuk kontrak rumah lantaran ngga enak menjadikan rumah itu seperti hotel short time buat tidur dan laundry doang.

Kontrak rumah mungkin adalah saat bebas-sebebasnya kita sebagai anak muda mengekspresikan hidup, tidak ada orang tua yang mengawasi, tidak ada pacar saudaramu yang sok kuasa, semua bisa kau lakukan dengan seenaknya. Tidak ada yang perduli kau hanya jadikan kamarmu hanya sebagai tempat untuk tidur saja, tidak ada yang memelototimu lantaran kamarmu yang berantakan. Semenjak mulai benar hidup mandiri inilah keranjinganku ke Pondok Bambu semakin menjadi-jadi seakan-akan sehari tanpa minum kopi di Pondok Bambu membuatku merasa ada sesuatu yang kurang, disamping itu saudara-saudaraku juga semakin sering ke rumah mungkin dikarenakan tidak ada lagi rasa sungkan seperti saat aku masih di rumah sepupuku.

Meski tak terasa lebih dari 2 tahun sudah semenjak kelulusanku yang harus memaksaku kembali lagi ke Bali, aku masih mengingat bahkan serasa masih baru terasa kemarin saat-saatku yang ngga pernah akur dengan indrayana “oi jogang, klo kamu baca post ini, mbok ya sms kek, dasar!”, lelucon-lelucon yang sering membuat tertawa si Rio, Mas Heppy, Edo, Handi, Mas Aan, tak lupa kopi-kopi buatan Lilik, Ayu, Pritta, (Diah Piji) DP yang kadang ga karuan rasanya. Jujur seandainya boleh meminta, aku menginginkan waktu yang lebih lama lagi untuk bersama mereka, namun kewajian sebagai seorang anak membuatku harus menekan keegoisanku itu. Jalan hidup memang tak bisa kupungkiri masih banyak rahasia akan kebahagiaan atau kesedihan namun setelah anak istri dan keluarga yang mencintaiku, saudara-saudaraku inilah kebahagiaan yang Tuhan berikan dalam hidupku. Betapa Dia Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Teman adalah mereka yang selalu bersamamu ketika senang, menghidupkan suasana pesta pora saat kalian bersama. Sahabat adalah teman yang berduka untuk cerita sedihmu, teman yang akan membuat dirinya terlihat konyol hanya untuk membuatmu kembali tersenyum dan saudara adalah sahabat yang selalu tertawa dengan leluconmu meski ia pernah terluka dengan cacianmu, sahabat yang selalu kembali untuk menemani hari-hari sepimu meski telah kau depak dia saat kau merasa kekasih sesaatmu lebih dari cukup untuk mengisi hari-harimu.

4 thoughts on “Cerita tentang Teman, Sahabat & Saudara

  1. wow…keren…salut..gaya penulisannya bagus Bli..
    Kalau mengingat kisah2 sewaktu kuliah dulu, saya jg merasakan hal yang hampir sama ketika berada bersama teman-teman sahabat UKM TT di Unud. Disana saya seperti mendapatkan saudara, kakak, dan keluarga baru rasanya. Tapi seiring waktu berjalan, kami harus berpisah karena telah menyelesaikan tugas sebagai Mahasiswa, dan sahabat-sahabat itu pun satu per satu pulang ke asalnya. Sungguh sedih rasanya berpisah, tapi inilah kenyataan. Hidup harus terus berjalan.

  2. Pingback: Kupersembahkan ini untuk…(Ha…lah!) « rumah sanjiwani

  3. Sahabat adalah perhiasan langka
    Darinya kita tahu dan mengenal luka serta tawa
    Banyak peritiwa kita lalui bersama
    Dengan tertawa bahkan air mata
    kenangannya-kenangan indah itu tak perna terlupa
    Selalu hangat untuk kuingat disetiap masa

    Salam hangat persahabatan dariku! 😀

    Yande: bukan hanya perhiasan langka namun jauh lebih berharga dibandingkan berlian, salam semoga selalu hangat di Taiwan sana hehe…

  4. Were a gaggle of volunteers along with commencing a fresh program in our community. Your web blog provided us with helpful details to operate upon. You’ve got completed a remarkable work in addition to our total class might be glad for your requirements.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s