Filsafat Bambu vs Filsafat Padi

Kejarlah ilmu setinggi langit dan tetaplah berusaha seperti padi, itu kata-kata pepatah yang seringkali kita dengar. Mungkin tidak sekaligus seperti diatas, mungkin hanya kejarlah cita-citamu setinggi langit atau belajarlah dari padi yang artinya kira-kira seperti ini, “Setiap orang memiliki keinginan dan akan selalu memilikinya selama masih merasa hidup, maka cobalah untuk mencapai semuanya dan pada saat pencapaian itu pun apabila telah tercapai belajarlah pada padi, semakin berisi kan semakin merunduk.

Ini adalah salah satu dari filsafat timur yang selalu diingatkan oleh para tetua kita, klo orang Bali mungkin sedikit berbeda misal “eda buka goake” yang berarti janganlah selalu membanggakan dirimu sendiri (kadang saya bertanya knp goak kok ngga toke?) Prinsipnya sama untuk selalu rendah hati, tapi apakah kini hal tersebut masih berlaku?

Sekarang jaman dimana semua menjadi siluman dinosaurus, lo jatuh gue injak, yang lain akan menikmati butiran-padibangkaimu wii… emang hiperbola banget saya buat kata-katanya, tapi itulah kenyataannya. Terutama sekali bagi anda yang mungkin berada di kota besar, dalam persaingan dunia kerja, antara karir dan teman seperti air dengan minyak. Katakanlah pada suatu rapat tentang pengembangan suatu produk perusahaan, dengan kepolosan, dengan tanpa prasangka anda coba untuk mendiskusikan planing anda terhadap produk tersebut, baik mulai fitur-fitur unggulan, market share, hingga promosi pemasarannya dengan teman anda. Setelah kalian temukan suatu bentuk yang manis dari hasil diskusi itu, tiba-tiba entah kapan dan bagaimana teman anda tersebut menjadi team leader untuk pengerjaan produk tersebut mulai dr produksi hingga launchingnya, lebih sakit lagi nama anda tidak tercantum dalam tim tersebut meski hanya sebagai tukang buat kopinya sekalipun! Sakit hati yang ketiga saat Bos anda mencoba membandingkan “kejeniusan ide” rekan anda dengan kinerja anda, masihkah anda akan berusaha menjadi padi?

Seringkali saya trenyuh dengan rekan-rekan sekerja saya yang hanya bisa diam saat harus membersihkan debu yang ditaburkan oleh orang lain, dan saat kerjanya menampakkan hasil seketika itu pula rekan yang lain menyebarkan fitnah bila dirinyalah yang menyebabkan semua itu, pun dia masih diam. Pernah saya bertanya “Saya tahu kamu kerja, dan itu adalah hasil kerjamu, lalu kenapa kamu diam mendengar semua cerita itu?” dijawabnya ”Biarkan saja, nanti akan kelihatan siapa yang benar”.  Waktu berlalu bulan demi bulan, kini yang saya tahu saat ini justru dia semakin menghilang kabar beritanya, ada yang mengatakan dia dimutasi ke daerah terpencil, ada yang mengatakan diturunkan jabatannya. Saya pun bertanya dalam hati, “Sudah butakah kita semua ini?”

Sebulan yang lalu saya sempat pulang kampung, dan jujur meski orang kota saya juga memiliki sepetak sawah di rumah. Lucu sih sejak membeli sawah itu hingga saat pulang kemaren saya tidak pernah tahu dimana sawah saya itu berada hehehe. Saya sempatkan sore itu melihat-lihat aset milik saya, yahh sebentar lagi akan panen, tapi mungkin akan gagal menurut pak penyakap (orang yang saya upah untuk merawat sawah saya) karena cuaca yang berangin. Sesampainya disana saya melihat tanaman padi yang telah menguning itu seakan terbius sesuatu hingga semua tertidur, awalnya saya kira kena penyakit padi malas hehehe, tapi kemudian saya tahu bila padi-padi itu dikalahkan oleh angin. Sementara tak jauh dari sana terdapat serumpun anak bambu yang tumbuh berkelompok, entah kapan angin demonstrasi alias angin ribut datang kembali merebahkan tanaman-tanaman padi yang masih mencoba untuk tegak berdiri. Saat itu perhatian saya justru tertarik pada liuk batang bambu yang mengikuti angin dan akhirnya kembali tegak berdiri seakan merasa itu hanyalah senam pemanasan saja.

Bambu mengerti untuk bertahan hidup kadangkalapun kita memang harus mengikuti arus namun jangan lupakan tempat kita berpijak, batang bambu mengikuti kemana angin membawanya namun akarnya tetap ingat tempat tumbuhnya. Bambu mungkin tidak terlalu mementingkan buah yang harus dihasilkan namun tanpa dia sadari, dari dirinya pun dia telah berguna. Bambu memberikan suatu contoh bagi saya, meski dirinya dapat digunakan untuk berbagai hal, memiliki kepintaran untuk menjadi apapun namun dia masih menyisakan ruang untuk belajar oleh sebab itu di dalam batang bambu ada ruangan kosong.

Memang ada waktunya kita bersikap mengalah, rendah hati dan bijak namun tidak semua orang mengerti maksud kita, prinsip padi bukan berarti jalan yang salah menurut saya namun hidup bukan semudah cerita sinetron musiman seperti yang saat ini kejar tayang di TV. Hidup itu berubah, saat anda bangun esok pagi cobalah berkaca, segaris kerut apakah itu halus atau jelas tetaplah merubah wajah anda, hidup itu terlalu singkat bila hanya dilewati hanya dengan diam dan bijak saja.

Manusia diciptakan Tuhan bukan hanya sebagai mahluk dengan perasaan baik saja, tapi juga sedih, marah dan gembira. Bijak bukan berarti anda harus selalu mengalah pada setiap orang dan diam pasrah, bijak bagi saya adalah bisa menempatkan kapan anda harus mengkuti arus atau mulai menetangnya, mengerti kapan dan mengapa anda harus bersedih, marah atau bergembira serta mampu untuk memilih apakah saat ini anda lebih baik menjadi Padi atau menjadi Bambu?

One thought on “Filsafat Bambu vs Filsafat Padi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s