Kajian Tentang Kehidupan Anak Manusia (1)

Sebenarnya saya sedikit enggan untuk menuliskan ini dikarenakan hal ini bagi saya cukup pribadi sifatnya namun bagaimanapun juga saya pun tak lebih dari seorang manusia yang natinya akan menua dan mulai pikun, sehingga akhirnya saya coba tuangkan pengkajian saya tentang hidup saya dalam blog ini. Mungkin bagi yang belum mengerti arti tulisan ini mohon untuk tidak melihatnya sebagai hal yang negatif karena saat menurut anda, kita telah memandang langit, saya masih belajar untuk melihat lebih jelas bagaimana bentuk awan.

Hidup adalah penduplikasian. Kita sejak lahir bersama “saudara” anda hingga saat ini selalu belajar dari penduplikasian orang tua dan lingkungan anda. Kita berbicara, Kita berpikir, Kita mengetahui suatu rasa adalah dari penduplikasian. Bahkan kini anak saya pun tengah saya duplikasikan tentang hal-hal baru bagi dirinya karena itulah kewajiban saya sebagi orang tua. Hal-hal inilah yang kadang sering terlupakan oleh kita, kita mengatakan bahwa gula itu manis karena kita terduplikasi rasa gula adalah manis. Manis adalah kata. Pun saat kita memberitahu seorang anak kecil untu jangan naik-naik karena apabila jatuh akan terasa sakit, tanpa kita sadari kita telah menduplikasikan pengertian kita kepada anak tersebut tentang sakit, sementara sakit itu pun hanyalah sebuah kata.

Lalu bagaimana seharusnya? Apakah kita akan membiarkan anak-anak itu berjalan tanpa penduplikasian yang selama ini kita tahu? Apakah kita cukup melihat saja, bila melihat seorang anak bermain api karena belum tahu bahayanya? Bukan begitu, bagi saya penduplikasian janganlah sampai dihilangkan karena penduplikasian pun adalah sebagai media sosialisai mereka dengan lingkungannya. Tentu akan menjadi tanda tanya yang besar bagi lingkungan disekitar nantinya bila anak kita mengatakan gula itu rasanya asam.

Seiring dengan berjalannya waktu, manusia pun semakin dewasa namun seringkali otak memainkan peran yang dominan dibandingkan dengan hati kecil (-baca, perasaan) beda saat kita masih kecil dulu dimana kita menangis ketika lapar dan tertidur ketika lelah bermain, kini saat lapar kita berpikir adakah uang untuk makan hari ini? untuk besok? saat hendak tidur, kita kembali berpikir apakah rencana kita esok? apakah rapat besok bisa berjalan dengan lancar? Pernahkah kita coba untuk merasakan nikmatnya lapar, karena beruntunglah kita bila masih merasakan lapar, dan pernahkah kita merasa segarnya saat terbangun di pagi hari?

Ketika anda bisa mengerti kalimat demi kalimat pada paragraf diatas pernahkah anda mencoba menanyakan pada diri anda sendiri, bila saat ini anda tengah membaca tulisan ini, adalah sesuatu yang benar adanya terlihat oleh mata anda atau apabila saat ini kita mendengar kejadian di sekitar kita itupun juga terdengar benar adanya, dan saat kita coba untuk melupakan semua penduplikasian yang ada dalam otak kita dan mulai katakanlah mengisap permen mungkin, apa yang anda rasakan?

Lalu apa kajian hidup yang hendak saya utarakan disini? Bahwa setiap manusia memiliki rasanya sendiri, bukan selera yang yang hendak saya tonjolkan disini, sama seperti yang telah utarakan di awal tadi. Ketika kita bersama melihat langit mungkin yang anda lihat adalah kubah langit biru, namun saya masih belajar untuk melihat bagaiman bentuk awan.

Mungkin tulisan ini masih mengambang karena memang tidak semua kajian saya, saya tuliskan . Paling enggak saya tidak ingin menduplikasi anda dengan tulisan ini namun mari kita coba kembali untuk menjadi anak-anak dengan membenamkan logika dan mulai mengkaji hidup kita yang telah berjalan, sebelum kita lebih jauh belajar mencoba untuk mengenali AKU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s