Archive

Archive for the ‘Java Dictionary’ Category

ASTHABRATA

September 26, 2008 Leave a comment

AJARAN ASTHABRATA pada awalnya merupakan ajaran yang diberikan olah Rama kepada Wibisana. Ajaran tersebut terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, tertuang pada pupuh 27 Pangkur, jumlah baitnya ada 35 buah. Pada dua pupuh sebelumnya diuraikan kekalahan Rahwana dan kesedihan Wibisana. Disebutkan, perkelahian antara Rahwana melawan Rama sangat dahsyat. Seluruh kesaktian Rahwana ditumpahkan dalam perkelahian itu, namun tidak dapat menendingi kesaktian Rama. Ia gugur oleh panah Gunawijaya yang dilepaskan Rama. Melihat kekalahan kakaknya, Wibisana segera bersujud di kaki jasad kakaknya dan menangis penuh kesedihan.

Demikian antara lain diungkapkan Prof. DR. Marsono (52), Dosen Fakultas Budaya Jurusan Sastra UGM, di hadapan peserta sarasehan Jumat Kliwonan Lembaga Javanologi, di nDalem Joyodipuran, Yogyakarta, pada 6 Juli 2001. Dalam sarasehan yang dihadiri 30 peserta, Marsono mengatakan, Rama menghibur Wibisana dengan memuji keutamaan rahwana yang dengan gagah berani sebagai seorang raja yang gugur di medan perang bersama balatentaranya. Oleh Rama, Raden Wibisana diangkat menjadi Raja Alengka menggantikan Rahwana. Rama berpesan agar menjadi raja yang bijaksana mengikuti delapan sifat dewa yaitu Indra, Yama, Surya, Bayu, Kuwera, Brama, Candra, dan Baruna. Itulah yang disebut dengan Asthabrata

Secara rinci Marsono menguraikan masing-masing ajaran dengan memberikan kutipan teks sebagaimana terdapat dalam Serat Rama Jarwa Macapat, Nitisruti dan Ramayana Kakawin Jawa Kuna.

  1. Sang Hyang Indra adalah Dewa Hujan. Ia mempunyai sifat menyediakan apa yang diperlukan di bumi, memberikan kesejahteraan dan memberi hujan di bumi.
  2. Sang Hyang Yama adalah Dewa Kematian. Ia membasmi perbuatan jelek dan jahat tanpa pandang bulu.
  3. Sang Hyang Surya adalah Dewa Matahari. Sifatnya pelan, tidak tergesa-gesa, sabar, belas kasih dan bijaksana.
  4. Sang Hyang Candra adalah Dewa Bulan,  ia selalu berbuat lembut, ramah dan sabar kepada siapa saja.
  5. Sang Hyang Bayu adalah Dewa Angin. Ia bisa masuk ke mana saja ke seluruh penjuru dunia tanpa kesulitan. Segala perilaku baik atau jelek kasar atau rumit di dunia dapat diketahui olehnya tanpa yang bersangkutan mengetahuinya. Ia melihat keadaan sekaligus memberikan kesejahteraan yang dilaluinya.
  6. Sang Hyang Kuwera adalah Dewa Kekayaan. Sifatnya ulet dalam berusaha mengumpulkan kekayaan guna kesejahteraan warga masyarakatnya. Ia sebagai penyandang dana.
  7. Sang Hyang Baruna adalah Dewa Samudera. Sifat Samudera bisa menampung seluruh air sungai dengan segala sesuatu yang ikut mengalir di dalamnya. Namun samudera tidak tumpah. Hyang Baruna seperti samudera bisa menampung apa saja yang jelek ataupun baik. Ia sabar dan berwawasan sangat luas, seluas samudera.
  8. Sang Hyang Brama adalah Dewa Api . sifat api bisa membakar menghanguskan dan memusnahkan benda apa saja. Ia pun dapat memberikan pelita dalam kegelapan  Hyang Brama seperti api bisa membasmi musuh dan segala kejahatan sekaligus bisa menjadi pelita bagi manusia yang sedangdalam keadaan kegelapan.

Kalau dirangkum amanat asthabrata yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin itu sebagai berikut : Dapat memberikan kesejukan dan ketentraman kepada warganya: membasmi kejahatan dengan tegas tanpa pandang; bersifat bijaksana, sabar , ramah dan lembut; melihat, mengerti dan menghayati seluruh warganya; memberikan kesejahteraan dan bantuan dana bagi warganya yang memerlukan; mampu menampung segala sesuatu yang datang kepadanya, naik yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan; gigih dalam mengalahkan musuh dan dapat memberikan pelita bagi warganya. Ajaran ini tetap relevan bagi para pemimpin kita hingga kini sampai ke masa depan.

Categories: Java Dictionary Tags:

RESI DRIYA

September 26, 2008 Leave a comment

Karya sastra Jawa Klasik berbahasa Jawa Baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf. Disebut juga mistis karena berisikan tentang jalan ke arah kesempurnaan batin, kepercayaan bahwa pengetahuan kepada kebenaran dan Allah dapat dicapai dengan jalan penglihatan batin. Istilah Resi Driya mempunyai makna ‘orang arif dalam mengenal dan mengandalkan indranya’. Isi teks merupakan ajaran kerohanian yang disampaikan oleh Resi Driya, dengan harapan mudah-mudahan pembaca atau pendengar tergugah hatinya untuk memperbaiki akhlaknya dan menjalankan perintah agama sehingga dapat selamat di dunia dan akhirat. Ajaran kerohanian dituangkan dalam ajaran pengenalan jati diri melalui pemanfaatan indra manusia.

Manusia hendaklah mendekatkan diri kepada Tuhan agar mendapatkan kesalamatan di dunia dan akhirat, tetapi tidak mengasingkan diri dari keramaian kehidupan dunia. Ia harus mengetahui dan mengenali bahwa Tuhan itu ada dan Esa, tidak ada sesuatu yang menyamainya. Pengenalan dan kepercayaan terhadap kekuasaan Tuhan timbul dari terbukanya indra manusia yang selaras dengan nikmat dan amanat-Nya. Pada taraf ini dorongan nafsu pemuas diri telah terkendali, segala kewajiban dikerjakan dengan cermat, dihadapi dengan sabar dan tawakal. Dengan berbekal akhlak yang baik maka keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan dengan isi alam raya akan tercapai. Indra manusia diciptakan utntuk mengungkapkan simbol-simbol yang tak terbatas. Apabila seluruh indra dipenuhi nafsu, maka manusia tidak akan menemukan jati dirinya. Dengan ketaatan, nikmat, dan amanat-Nya dalam memanfaatkan indra, maka jati dirinya akan ditemukan. Dengan ditemukan jati dirinya, tabir menuju kepada-Nya akan tersingkap. Unsur hidup manusia terdiri atas : raga, jiwa, dan sukma. Raga adalah wujud fisik atau badan manusia, jiwa adalah kesadaran hidup yang mendorong adanya cipta, rasa dan karsa. Sukma adalah sinar Ilahi penerang jiwa.

Empat nafsu yang disebutkan dalam suluk ini adalah nafsu yang berasal dari mata, hidung, telinga dan mulut. Nafsu lauwamah timbul dari mulut atau lidah, nafsu amarah timbul dari telinga, nafsu sufiah timbul dari mata, dan nafsu mutmainah timbul dari hidung. Tiga hal yang harus disingkirkan adalah nafsu sufiah, amarah dan lauwamah. Nafsu mutmainah tempatnya dihati, oleh sebab itu manusia apabila hatinya telah tergoyahkan, maka tidak bisa mengelak, pasti mendapat celaka. Segala yang berangkat dari nafsu akan menghasilkan sesuatu yang dapat mencelakakan dirinya, tetapi apabila berangkat dari hati nurani, maka akan terbimbinglah hidupnya. Seluruh uraian yang terkandung di dalamnya pada hakikatnya menunjukkan cara menuju kemanunggalan diri sendiri dengan Tuhan.

Categories: Java Dictionary Tags:

DARMAGANDHUL

September 26, 2008 Leave a comment

Darmagandhul, karya sastra Jawa klasik, berbahasa Jawa baru, berbentuk puisi tembang macapat, bernafaskan Islam dan berisi ajaran tasawuf atau mistik. Suluk ini ditulis oleh Ki Kalamwadi, waktu penulisan hari sabtu legi, 23 ruwah 1830 Jawa. Amanat ajaran dalam teks dituangkan dalam bentuk dialaog antara Ki Kalamwadi dengan Darmagandhul, isi teks menceritakan jatuhnya kerajaan Majapahit karena serbuan tentara Demak Bintara yang dibantu para wali.

Ki Kalamwadi berguru kepada Reden Budi, sementara Raden Budi mempunyai murid bernama Darmagandhul. Darmagandhul menanyakan kepada gurunya mengenai kapan agama Islam itu datang di pulau Jawa. Ki Kalamwadi menjawab bahwa pada zaman Majapahit saat pemerintahan Prabu Brawijaya, permaisuri Prabu Brawijaya membujuk agar beliau beralaih ke agama Islam. Sayid Rahmat atau Sunan Bonang, kemenakan permaisuri Prabu Brawijaya yang berasal dari Campa, diberi tanah di Tuban dan diizinkan untuk menyebarkan agama Islam. Daerah penyebarannya sepanjang pantai utara Jawa, mulai dari Blambangan sampai Banten. Kemudian datanglah Raden Patah, yakni putra Prabu Brawijaya yang lahir di tanah Palembang, yang diberi tanah Demak dan sebagai adipati, juga diizinkan menyebarkan agama Islam. Penyebaran agama Islam yang dilakukan oleh Sunan Bonang di daerah Kediri mendapatkan tantangan dari Ki Buta Locaya penguasa di daerah tersebut. Kemudian Sunan Bonang menuju ke desa Bogem, dan merusak arca kuda berkepala dua karya Prabu Jayabaya. Perusakan arca tersebut mendapatkan tentangan Ki Buta Locaya yang mendesak agar Sunan Bonang pergi dari daerah itu. Patih Gajah Mada menghadap Prabu Brawijaya dan memberitahukan bahwa tanah Kertasana rusak akibat perbuatan Sunan Bonang. Akhirnya, Prabu Brawijaya memerintahkan agar mengusir kaum Islam dari daerah Majapahit, kecuali kaum muslimin yang tinggal di Ngampelgading dan Demak, Sunan Bonang dan Sunan Giri menyingkir ke Tuban dan berlindung ke Demak.

Perlawanan antara pasukan Prabu Brawijaya dengan Sultan Demak , dalam pertempuran sengit itu tentara Majapahit hancur, Gajah Mada gugur di medan laga. Kemudian orang-orang Majapahit yang takluk kepada Demak diperintahkan masuk agama Islam. Akhirnya Sultan Patah yang didukung oleh para wali pergi ke Ngampeldenta untuk menghadap neneknya. Neneknya Nyai Ngampeldenta sangat menyesal perbuatan yang dilakukan oleh Sultan Patah dalam melawan ayahnya.

Ia mempermasalahkan Sultan Patah beserta para wali yang tidak baik misalnya budi kepada Prabu Brawijaya. Ia memberikan beberapa contoh yang tidak baik misalnya kejadian di Mesir yang dialami Nabi Daud, perebutan kekuasaan yang dilakukan Prabu Dewatacengkar terhadap ayahnya, Prabu Sindhula dan peristiwa Prabu Danapati raja Lokapala melawan ayahnya, Sang resi Wisrawa.

Contoh-contoh tersebut merupakan permusuhan antara anak melawan ayahnya, seperti halnya yang dilakukan oleh Sultan Patah terhadap Prabu Brawijaya. Dengan adanya penjelasan dari neneknya tadi, maka Sultan Patah sangat sedih dan menyesal atas segala perbuatannya. Ahkirnya Sunan Kalijaga diutus untuk mencari Prabu Brawijaya dan memohon kepadanya agar bersedia kembali menjadi raja Majapahit. Sekembalinya Sultan Patah ke Demak di sambut dengan gembira. Ia menceritakan hal itu kepada Sunan Bonang, akhirnya Sunan Bonang memberikan penjelasan secara panjang lebar bahwa perlawanannya terhadap ayahnya itu tidak berdosa, karena ayahnya seorang kafir.

Sunan Kalijaga menjumpai Prabu Brawijaya di Blambangan untuk menyampaikan tugasnya. Karena kepandaian Sunan Kalijaga maka bersedialah Prabu Brawijaya kembali ke Majapahit. Ia sangat tertarik atas keterangan Sunan sehingga prasangka buruk akan agama Islam sedikit banyak hilang. Bahkan ia bermaksud untuk masuk agama Islam secara lahir maupun batin.

Penyebaran agama Islam terhadap punakawan Prabu Brawijaya, yakni Sabdapalon dan Nayagenggong, yang berakhir dengan penolakan ( tidak berhasil ) Sabdapalon menilai bahwa Prabu Brawijaya telah menyimpang dari para pendahulunya yang melestarikan agama Budha. Sunan Kalijaga berusaha menghibur hati Prabu Brawijaya utuk bahwa ajaran agama Islam itu baik dan diridhoi Tuhan. Sunan bersabda bahwa air telaga itu berbau wangi, dan terjadilah demikian. Setelah selama seminggu dalam perjalanan yang melewati Panarukan, Besuki dan Prabalingga akhirnya sampailah di Ngampeldenta.

Jatuhnya Kerajaan Majapahit atas serangan Demak yang dilukiskan secara simbolis. Darmagandhul juga minta penjelasan tentang agama Nasrani yang kemudian dijelaskan oleh Kalamwadi. Disebutkan bahwa agama Nasrani itu dibawa oleh Nabi Ngisa, Putra Tuhan. Dijelaskan pula, bahwa sebenarnya Sultan Demak merasa menyesal atas penyerbuannya ke Kerajaaan Majapahit. Ia merasa berdosa melawan ayahnya. Bahkan ia merasa pula bahwa pengangkatannya sebagai Sultan Demak itu juga dari ayahnya. Akan tetapi semuanya telah terjadi, maka Sultan Demak dengan bersedih hati kembali ke Demak. Darmagandhul menguraikan tentang sebab-sebab Nabi Adam dan Ibu Kawa turun dari surga terkena marah Tuhan. Darmagandhul tidak mengetahui bagaimana pandangan kitab Jawa tentang Nabi Adam itu. Ki Kalamwadi menjelaskan bahwa orang Jawa tidak mempunyai kitab yang menceritakan tentang pengusiran Tuhan terhadap Nabi Adam dan Ibu Kawa itu. Kitab yang menjadi pegangan raja hanyalah Manikmaya. Darmagandhul juga menguraikan pendapatnya bahwa baginda, baik agama itu harus konsekuen mengerjakan peraturan yang ada di dalamnya. Namun, yang paling baik bagi orang Jawa adalah agama Budi, sebab agama Budi telah dianut sejak dahulu kala.

Perbedaan agama Islam, Nasrani, Cina dan Jawa. Ki Kalamwadi mencela orang yang naik haji ke Mekah dengan mengharapkan kelak masuk surga. Konon ada anggapan bahwa yang datang naik haji ke Mekah dan mencium kakbah akan terhapus dosanya dan nantinya masuk surga. Hal itu itu tidaklah benar. Orang akan masuk surga apabila dirinya bersih. Perbedaan adanya utusan dan kitab yang menjadi pegangan itu berbeda. Kalamwadi menjawab bahwa itulah kebebasan yang diberikan Tuhan agar manusia memilih agama yang menjadi kesenangannya. Meskipun demikian, agama Budi bagi orang Jawa tetap lebih tinggi dan sesuai.

Kalamwadi membentangkan ajaran itu kepada istrinya, Perjiwati, mengenai hal keutamaan dalam hidup dan mengenai ajaran perkawinan. Bekal perkawinan itu bukannya rupa dan harta akan tetapi hati. Perkawinan diibaratkan sebagai galah dan kemudi, yang masing-masing harus sejalan. Diuraikan pula mengenai 4 kemuliaan, yaitu: (1) kemuliaan yang lahir dari diri sendiri, (2) yang lahir dari harta benda pemilik, (3) kemuliaan karena kepandaiannya, (4) kemuliaan karena pengetahuannya. Generasi sekarang tidak boleh meremehkan generasi pendahulunya (orang kuna).

Menurut Ki Kalamwadi disebutkan bahwa bekas kerajaan Prabu Brawijaya tidak terletak di Kediri, akan tetapi terletak di Daha. Akhir kehidupannya, Prabu Jayabaya muksa diiringkan oleh Patih Tunggulwulung dan Nimas Ratu pagedhongan. Tunggulwulung diperintahkan menjaga Gunung Kelud sedangkan Nimas ratu Pegendhongan menjadi raja jin penguasa laut selatan dengan gelar Ratu Angin-Angin.

Categories: Java Dictionary Tags:

SERAT JONGKO JOYOBOYO

September 26, 2008 1 comment

Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran.
Bila ada kereta tanpa kuda
One day there will be a cart without a horse.

Tanah Jawa kalungan wesi.
Tanah jawa terbelenggu besi
The island of Java will be circled by an iron necklace.

Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang.
Perahu terbang di angkasa
There will be a boat flying in the sky.

Kali ilang kedhunge.
Sungai hilang arusnya
The river will loose its current.

Pasar ilang kumandhange.
Pasar sunyi
There will be markets without crowds.

Iku tanda yen tekane jaman Jayabaya wis cedhak.
Itu tanda datangnya jaman Jayabaya sudah dekat
These are the signs that the Jayabaya era is coming.

Bumi saya suwe saya mengkeret.
Bumi kian menciut
The earth will shrink.

Sekilan bumi dipajeki.
Setiap jengkal tanah dipajaki
Every inch of land will be taxed.

Jaran doyan mangan sambel.
Kuda doyan sambal (Kerakusan)
Horses will devour chili sauce.

Wong wadon nganggo pakaian lanang.
Wanita mengenakan pakaian laki-laki
Women will dress in men’s clothes.

Iku tandane yen wong bakal nemoni wolak-waliking jaman.
Itu tandanya kita bertemu jungkir baliknya jaman
These are the signs that the people and their civilization
have been turned upside down.

Akeh janji ora ditetepi.
Banyak Janji tak ditepati
Many promises unkept.

Akeh wong wani mlanggar sumpahe dhewe.
Banyak manusia yang berani menyalahi sumpahnya sendiri
Many break their oath.

Manungsa pada seneng nyalah.
Manusia saling menyalahkan
People will tend to blame on each other.

Ora ngindahake hukum Allah.
Tiada mengindahkan hukum Allah
They will ignore God’s law.

Barang jahat diangkat-angkat.
Hal jahat diangkat
Evil things will be lifted up.

Barang suci dibenci.
Yang suci dibenci
Holy things will be despised.

Akeh manungsa mung ngutamake duwit.
Banyak manusia yang hanya mengutamakan uang
Many people will become fixated on money.

Lali kamanungsan.
Lupa kemanusiaannya
Ignoring humanity.

Lali kabecikan.
Lupa kebajikan
Forgetting kindness.

Lali sanak lali kadang.
Lupa sanak lupa saudara
Abandoning their families.

Akeh Bapa lali anak.
Banyak bapak lupa anak
Fathers will abandon their children.

Akeh anak wani nglawan ibu.
Banyak anak berani melawan ibundanya
Children will be disrespectful to their mothers.

Nantang bapa.
Menantang ayah
And battle against their fathers.

Sedulur pada cidra.
Saudara pada bertengkar
Siblings will collide violently.

Kulawarga pada curiga.
Keluarga saling curiga
Family members will become suspicious of each other.

Kanca dadi mungsuh.
Teman jadi musuh
Friends become enemies.

Akeh manungsa lali asale.
Banyak manusia lupa asalnya
People will forget their roots.

Ukuman Ratu ora adil.
Hukum tidak adil
The queen’s judgements will be unjust.

Akeh pangkat sing jahat lan ganjil.
Banyak pejabat yang jahat dan ganjil
There will be many peculiar and evil leaders.

Akeh kelakuan sing ganjil.
Banyak perilaku yang aneh2
Many will behave strangely.

Wong apik-apik pada kepencil.
Orang baik-baik terpencil
Good people will be isolated.

Akeh wong nyambut gawe apik-apik pada krasa isin.
Banyak orang malu melakukan pekerjaan baik-baik
Many people will be too embarrassed to do the right things.

Luwih utama ngapusi.
Lebih utama membohongi
Choosing falsehood instead.

Wegah nyambut gawe.
Malas berkerja
Many will be lazy to work.

Kepingin urip mewah.
Tapi ingin hidup mewah
Seduced by luxury.

Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka.
Mengumbar nafsu angkara murka, memperbanyak dosa durhaka
They will take the easy path of crime and deceit.

Wong bener thenger-thenger.
Orang baik pada bingung
The honest will be confused.

Wong salah bungah.
Orang yang salah bergembira
The dishonest will be joyful.

Wong apik ditampik-tampik.
Orang baik ditolak
The good will be rejected.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat
The evil ones will rise to the top.

Wong agung kesinggung.
Orang berhati mulia di kritik di sudutkan
Noble people will be wounded by unjust criticism.

Wong ala kepuja.
Yang berhati jahat malah dipuja
Evil doers will be worshipped.

Wong wadon ilang kawirangane.
Kaum wanita hilang rasa malunya
Women will become shameless.

Wong lanang ilang kaprawirane.
Kaum pria hilang harga diri dan keberaniannya
Men will loose their courage.

Akeh wong lanang ora duwe bojo.
Banyak pria tak beristri
Men will choose not to get married.

Akeh wong wadon ora setya marang bojone.
Banyak wanita yang tak setia dengan suaminya
Women will be unfaithful to their husbands.

Akeh ibu pada ngedol anake.
Banyak ibu menjual anaknya
Mothers will sell their babies.

Akeh wong wadon ngedol awake.
Banyak wanita menjual badannya
Women will engage in prostitution.

Akeh wong ijol bebojo.
Banyak orang bertukar pasangan
Couples will trade partners.

Wong wadon nunggang jaran.
Wanita menunggang kuda (mencari nafkah)
Women will ride horses.

Wong lanang linggih plangki.
Laki-laki di rumah
Men will be carried in a stretcher.

Randa seuang loro.
Orang mudah bercerai
A divorcee will be valued at 17 cents.

Prawan seaga lima.
Nilai keperawanan/kesucian murah
A virgin will be valued at 10 cents.

Duda pincang laku sembilan uang.
Pria yang gak baik malah bernilai mahal
A crippled men will be valued at 75 cents.

Akeh wong ngedol ngelmu.
Banyak orang menjual ilmu dan pengetahuannya
Many will earn their living by trading their knowledge.

Akeh wong ngaku-aku.
Banyak orang yg mengambil keuntungan dari orang lain
Many will claims other’s merits as their own.

Njabane putih njerone dadu.
Luarnya putih dalamnya hitam
It is only a cover for the dice.

Ngakune suci, nanging sucine palsu.
Ngaku suci tapi kesuciannya palsu belaka
They will proclaim their righteousness despite their sinful ways.

Akeh bujuk akeh lojo.
Banyak kecurangan dan kelicikan
Many will use sly and dirty tricks.

Akeh udan salah mangsa.
Banyak hujan salah musimnya
Rains will fall in the wrong season.

Akeh prawan tuwa.
Banyak perawan tua
Many women will remain virgins into their old age.

Akeh randa nglairake anak.
Banyak janda melahirkan anak
Many divorcees will give birth.

Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne.
Banyak jabang bayi mencari ayahnya
Newborns will search for their fathers.

Agama akeh sing nantang.
Banyak yang menentang Agama
Religions will be attacked.

Perikamanungsan saya ilang.
Perikemanusian hilang semuanya
Humanitarianism will no longer have importance.

Omah suci dibenci.
Rumah suci dibenci
Holy temples will be hated.

Omah ala saya dipuja.
Tempat maksiat dipuja2
They will be more fond of praising evil places.

Wong wadon lacur ing ngendi-endi.
Wanita lacur bertebaran dimana2
Prostitution will be everywhere.

Akeh laknat.
Banyak kelaknatan
There will be many worthy of damnation.

Akeh pengkhianat.
Banyak pengkhianat
There will be many betrayals.

Anak mangan bapak.
Anak makan bapak
Children will be against father.

Sedulur mangan sedulur.
Saudara saling memakan
Siblings will be against siblings.

Kanca dadi mungsuh.
Teman jadi musuh
Friends will become enemies.

Guru disatru.
Guru dilawan
Students will show hostility toward teachers.

Tangga pada curiga.
Tetangga pada curiga
Neighbours will become suspicious of each other.

Kana-kene saya angkara murka.
Dimana-mana banyak angkara murka
And ruthlessness will be everywhere.

Sing weruh kebubuhan.
Saksi jadi tersangka
The eyewitness has to take the responsibility.

Sing ora weruh ketutuh.
Orang tak tahu menahu jadi tertuduh
The ones who have nothing to do with the case will be prosecuted.

Besuk yen ana peperangan.
Satu saat nanti akan ada peperangan
One day when there will armagedon.

Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor.
Di timur, selatan dan utara
In the east, in the west, in the south, and in the north.

Akeh wong becik saya sengsara.
Banyak orang baik-baik jadi sengsara
Good people will suffer more.

Wong jahat saya seneng.
Orang Jahat senang
Bad people will be happier.

Wektu iku akeh dandang diunekake kuntul.
Banyak kebohongan
When this happens, a rice cooker will be said to be an egret.

Wong salah dianggep bener.
Yang salah dianggap benar
The wrong person will be assumed to be honest.

Pengkhianat nikmat.
Pengkhianat nikmat
Betrayers will live in the utmost of material comfort.

Durjono saya sempurna.
Terlebih lagi Sang durjana
The deceitful will decline even further.

Wong jahat munggah pangkat.
Orang jahat naik pangkat
The evil persons will rise to the top.

Wong lugu kebelenggu.
Orang yang naif terbelenggu
The modest will be trapped.

Wong mulyo dikunjoro.
Orang mulia dipenjara
The noble will be imprisoned.

Sing curang garang.
Yang berhati curang garang
The fraudulent will be ferocious.

Sing jujur kojur.
Yang jujur susah setengah mati
The honest will unlucky.

Pedagang akeh sing keplarang.
Many merchants will fly in a mess.

Wong main akeh sing ndadi.
Perjudian makin menjadi
Gamblers will become more addicted to gambling.

Akeh barang haram.
Banyak barang haram
Illegal things will be everywhere.

Akeh anak haram.
Banyak anak haram
Many babies will be born outside of legal marriage.

Wong wadon nglamar wong lanang.
Kaum wanita melamar pria
Women will propose marriage.

Wong lanang ngasorake drajate dhewe.
Kaum pria merendahkan derajatnya sendiri
Men will lower their own status.

Akeh barang-barang mlebu luang.
Banyak barang tak terjual
The merchandise will be left unsold.

Akeh wong kaliren lan wuda.
Banyak orang tak berpunya pangan maupun sandang
Many people will suffer from starvation and inability
to afford clothing.

Wong tuku nglenik sing dodol.
Pembeli lebih pintar dari penjual
Buyers will become more sophisticated.

Sing dodol akal okol.
Penjual harus putar akal mati2an
Sellers will have to use their brains and muscle to do business.

Wong golek pangan kaya gabah diinteri.
Susah cari makan
In the way they earn a living, people will be as rice paddies being
swung around and blown up.

Sing kebat kliwat.
Banyak yg hilang kendali
Some will go wild out of control.

Sing telah sambat.
Yang tak berambisi tertinggal
Those who are not ambitious will complaint of being left behind.

Sing gede kesasar.
Yang besar tersesat
The ones on the top will get lost.

Sing cilik kepleset.
Yang kecil terpeleset
The ordinary people will slip.

Sing anggak ketunggak.
Yang angkuh akan terhalang
The arrogant ones will be impaled.

Sing wedi mati.
Yang takut tak akan bertahan
The fearful ones will not survive.

Sing nekat mbrekat.
Yang nekat akan berhasil
The risk takers will be successful.

Sing jerih ketindhih.
Yang takut akan tertindas
The ones who are afraid of taking the risks will be crushed under
foot.

Sing ngawur makmur,
Yang ngawur justru makmur
The careless ones will be wealthy.

Sing ngati-ati ngrintih.
Yang berhati2 merintih
The careful ones will whine about their suffering.

Sing ngedan keduman.
Yang edan kebagian
The crazy ones will get their portion.

Sing waras nggagas.
Tapi mereka yg waras (mental dan fisik) akan berpikir bijak
The ones who are mentally and physically healthy will think wisely.

Wong tani ditaleni.
Petani terikat
The farmers will be controlled.

Wong dora ura-ura.
Para koruptor beruntung tak terkira
Those who are corrupt will spend their fortune lavishly.

Ratu ora netepi janji, musna kekuasaane.
Raja tak menepati janji, musnah kekuasaannya
The queen who does not keep her promises will lose her power.

Bupati dadi rakyat.
Bupati menjadi rakyat
The leaders will become ordinary persons.

Wong cilik dadi priyayi.
Orang kecil jadi pemimpin
The ordinary people will become leaders.

Sing mendele dadi gede,
Orang tak jujur akan jadi pejabat
The dishonest persons will rise to the top.

Sing jujur kojur.
Yang jujur sekarat
The honest ones will be unlucky.

Akeh omah ing nduwur jaran.
Banyak rumah berada di atas kuda
There will be many people own a house on horseback.

Wong mangan wong.
Orang makan orang
People will attack other people.

Anak lali bapak.
Anak lupa bapak
Children will ignore their fathers.

Wong tuwa lali tuwane.
Orang tua lupa tanggung jawabnya
Parents will not want to take their responsibility as parents.

Pedagang adol barang saya laris.
Pedagang menjual barang sangat laris
Merchants will sell out of their merchandise.

Bandane saya ludes.
Tapi hartanya ludes
Yet, they will lose money.

Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan.
Banyak orang mati kelaparan dalam kemakmurannya
Many people will die from starvation in prosperous times.

Akeh wong nyekel banda nanging uripe sengsara.
Banyak orang berpunya tapi hidupnya sengsara Many people will have
lots of
money yet, be unhappy in their lives.

Sing edan bisa dandan.
Yang edan berdandan mentereng
The crazy one will be beautifully attired.

Sing bengkong bisa nggalang gedong.
Yang berhati bengkok bisa membangun rumah gedong
The insane will be able to build a lavish estate.

Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil.
Yang berhati lurus hidupnya memprihatinkan dan tersisih
The ones who are fair and sane will suffer in their lives
and will be isolated.

Ana peperangan ing njero.
Akan ada perang saudara
There will be internal wars.

Timbul amarga para pangkat akeh sing pada salah paham.
Para petinggi saling salah paham
As a result of misunderstandings between those at the top.

Durjana saya ngambra-ambra.
Kedurjanaan bersimaharajalela
The numbers of evil doers will increase sharply.

Penjahat saya tambah.
Penjahat bertambah
There will be more criminals.

Wong apik saya sengsara.
Orang baik-baik sengsara
The good people will live in misery.

Akeh wong mati jalaran saka peperangan.
Banyak yang mati dalam peperangan
There will be many people die in a war.

Kebingungan lan kobongan.
Kebingungan dan semuanya habis terbakar
Others will be disoriented, and their property burnt.

Wong bener saya tenger-tenger.
Yang benar kebingungan
The honest will be confused.

Wong salah saya bungah-bungah.
Yang salah bergembiraria
The dishonest will be joyful.

Akeh banda musna ora karuan lungane.
Banyak harta habis tak tentu arah
There will be disappearance of great riches.

Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe.
Jabatan dan kekayaan hilang tak diketahui sebabnya There will be
disappearance of great titles, and jobs.

Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram.
Banyak barang haram, banyak anak haram
There will be many illegal goods, There will be many babies born
without fathers.

Bejane sing lali, bejane sing eling.
Seberuntung2nya mereka yang lupa diri, akan lebih bahagia mereka yang
selalu
ingat (dzikr)

Nanging sauntung-untunge sing lali.
Namun seuntung2nya yang lupa diri
Those people who forget God’s Will may be happy on earth.

Isih untung sing waspada.
Akan lebih untung mereka yang ingat waspada
But those who are remember God’s will are destined
to be happier still.

Angkara murka saya ndadi.
Angkara murka makin menjadi
Ruthlessness will become worse.

Kana-kene saya bingung.
Kebingungan dimana2
Everywhere the situation will be chaotic.

Pedagang akeh alangane.
Pedagang banyak halangannya
Doing business will be more difficult.

Akeh buruh nantang juragan.
Banyak buruh menantang juragan
Workers will challenge their employers.

Juragan dadi umpan.
Juragan jadi umpan
The employers will become bait for their employees.

Sing suwarane seru oleh pengaruh.
Yang suaranya keras akan mendapat pengaruh(kekuasaan)
Those who speak out will be more influential.

Wong pinter diingar-ingar.
Orang yg pintar jadi bulan2an
The wise ones will be ridiculed.

Wong ala diuja.
Orang yang salah dipuja
The evil ones will be worshipped.

Wong ngerti mangan ati.
Orang yang paham akan makan ati
The knowledgeable ones will show no compassion.

Banda dadi memala.
Harta benda jadi penyakit
The pursuit of material comfort will incite crime.

Pangkat dadi pemikat.
Jabatan terlihat menggiurkan
Job titles will become enticing.

Sing sawenang-wenang rumangsa menang.
Yang sewenang-wenang berasa menang
Those who act arbitrarily will feel as if they are the winners.

Sing ngalah rumangsa kabeh salah.
Yang mengalah seakan-akan kalah
Those who act wisely will feel as if everything is wrong.

Ana Bupati saka wong sing asor imane.
Para pemimpin rendah imannya
There will be leaders who are weak in their faith.

Patihe kepala judi.
Patih nya saja gembong judi
Their vice regent will be selected from among the ranks of the
gamblers.

Wong sing atine suci dibenci.
Yang hatinya suci malah dibenci
Those who have a holy heart will be rejected.

Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat.
Yang jahat dan pintar malah mendapat derajat
Those who are evil, and know how to flatter their boss,
will be promoted.

Pemerasan saya ndadra.
Pemerasan makin menjadi
Human exploitation will be worse.

Maling lungguh wetenge mblenduk.
Maling duduk santai dengan perutnya yang gendut
The corpulent thieves will be able to sit back and relax.

Pitik angkrem saduwurane pikulan.
Ayam mengeram stinggi pikulan (Petinggi banyak yg berbuat curang)
The hen will hacth eggs in a carrying pole.

Maling wani nantang sing duwe omah.
Maling berani menantang yang punya rumah
Thieves will not be afraid to challenge the target.

Begal pada ndugal.
Begal makin gila
Robbers will dissent into greater evil.

Rampok pada keplok-keplok.
Rampok mendapat tepuk tangan
Looters will be given applause.

Wong momong mitenah sing diemong.
Pengasug difitnah oleh yg diasuh
People will slander their caregivers.

Wong jaga nyolong sing dijaga.
Penjaga nyolong milik yang dijaga
Guards will steel the very things they are to protect.

Wong njamin njaluk dijamin.
Penjamin minta dijamin
Guarantors will ask for collateral.

Akeh wong mendem donga.
Banyak yang minta doa
Many will ask for blessings.

Kana-kene rebutan unggul.
Semua orang berebut kemenangan pribadi
Everybody will compete for personal victory.

Angkara murka ngombro-ombro.
Angkara murka tersebar dimana2
Ruthlessness will be everywhere.

Agama ditantang.
Agama ditantang
Religions will be questioned.

Akeh wong angkara murka.
Banyak orang yang angkara murka
Many people will be greedy for power, wealth and position.

Nggedeake duraka.
Memperbanyak dosa
Rebelliousness will increase.

Ukum agama dilanggar.
Hukum agama dilanggar
Religious law will be broken.

Perikamanungsan di-iles-iles.
Perikemanusiaan diinjak-injak
Human rights will be violated.

Kasusilan ditinggal.
Kesusilaan ditinggalkan
Ethics will left behind.

Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi.
Banyak orang edan, jahat dan kehilangan akal budi
Many will be insane, cruel and immoral.

Wong cilik akeh sing kepencil.
Orang kecil tersingkir
Ordinary people will be segregated.

Amarga dadi korbane si jahat sing jajil.
Mereka akan jadi korban si hati jahat dan iblis
They will become the victims of evil and cruel persons.

Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit.
Akan ada raja yang berpengaruh
Then there will come a queen who is influential.

Lan duwe prajurit
Memiliki bala tentara
She will have her own armies.

Negarane ambane sapra-walon.
Negaranya seluas seperdelapan dunia
Her country will measured one-eighth the circumference of the world.

Tukang mangan suap saya ndadra.
Tukang makan uang suap makin banyak
The number of people who commit bribery will increase.

Wong jahat ditampa.
Orang jahat diterima
The evil ones will be accepted.

Wong suci dibenci.
Orang suci dibenci
The innocent ones will be rejected.

Timah dianggep perak.
Timah dianggap perak
Tin will be thought to be silver.

Emas diarani tembaga
Emas dibilang tembaga.
Gold will be thought to be copper.

Dandang dikandakake kuntul.
A rice cooker will be thought to be an egret.

Wong dosa sentosa.
Pendosa sentosa
The sinful ones will be safe and live in tranquility.

Wong cilik disalahake.
Orang kecil disalahkan
The poor will be blamed.

Wong nganggur kesungkur.
Pengangguran terpuruk
The unemployed will be rooted up.

Wong sregep krungkep.
The diligent ones will be forced down.

Wong nyengit kesengit.
Orang akan menuntut balas terhadap yang menekannya The people will
seek
revenge against the fiercely violent ones.

Buruh mangluh.
Buruh bekerja habis2an
Workers will suffer from overwork.

Wong sugih krasa wedi.
Yang kaya ketakutan
The rich will feel unsafe.

Wong wedi dadi priyayi.
Yang berpunya merasa tak aman
People who belong to the upper class will feel insecure.

Senenge wong jahat.
Yang jahat senang
Happiness will belong to evil persons.

Susahe wong cilik.
Yang kecilan susah
Trouble will belong to the poor.

Akeh wong dakwa dinakwa.
Orang saling menuntut satu sama lain
Many will sue each other.

Tindake menungsa saya kuciwa.
Perilaku manusia semakin rendah
Human behaviour will fall short of moral enlightenment.

Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi.
Raja dengan raja berembug, negara mana yang disenangi
Leaders will discuss and choose which countries are their
favourites and which ones are not.

Wong Jawa kari separo,
Orang jawa tinggal separuhnya
The Javanese will remain half.

Landa-Cina kari sejodo.
Orang Belanda dan China tinggal sejodoh
The Dutch and the Chinese each will remain a pair.

Akeh wong ijir, akeh wong cethil.
Banyak kelicikan kebusukan
Many become stingy.

Sing eman ora keduman.
The stingy ones will not get their portion.

Sing keduman ora eman.
The ones who receive their portion will not be generous.

Akeh wong mbambung.
Banyak pengemis dimana2
Street beggars will be everywhere.

Akeh wong limbung.
Banyak orang bingung/stress tak tentu arah
Bewildered persons will be everywhere.

Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka.
Inilah tanda-tanda terbaliknya zaman
These are the signs that the people and their civilization
have been turned upside down

Categories: Java Dictionary Tags:

WEDHATAMA, Mangkunegoro IV

September 26, 2008 Leave a comment

Secara semantik, Serat Wedhatama terdiri dari tiga suku kata, yaitu: serat, wedha dan tama. Serat berarti tulisan atau karya yang berbentuk tulisan, wedha artinya pengetahuan atau ajaran, dan tama berasal dari kata utama yang artinya baik, tinggi atau luhur. Dengan demikian maka Serat Wedhatama memiliki pengertian: sebuah karya yang berisi pengetahuan untuk dijadikan bahan pengajaran dalam mencapai keutamaan dan keluhuran hidup dan kehidupan umat manusia.Serat Wedhatama yang memuat filsafat Jawa ini ditulis oleh Kangjeng Gusti Pangeran Arya (KGPA) Mangkunegara IV yang terlahir dengan nama Raden Mas Sudira pada hari Senin Paing, tanggal 8 Sapar, tahun Jimakir, windu Sancaya, tahun Jawa 1738, atau tahun Masehi 3 Maret 1811.

Semasa hidupnya, beliau memerintah Kasunanan Mangunegaran selama 25 tahun sejak 24 Maret 1853 dengan catatan prestasi di antaranya: di bidang pemerintahan, beliau mempertegas batas wilayah batas Kasunanan Mangunegaran; di bidang pertahan dan militer, beliau menerapkan kewajiban mengikuti pendidikan selama 6-9 bulan bagi para kerabat dewasa, yang kemudian harus menjadi pegawai negara dalam berbagai bidang. Di bidang ekonomi, beliau berhasil membangun pusat-pusat kegiatan ekonomi yang memberikan kesejahteraan bagi rakyat, seperti pabrik gula di Colomadu dan Tasikmadu, pabrik bungkil di Polokarto, pabrik genteng dan perkebunan karet di beberapa tempat dan lain sebagainya.  Sedang di bidang sosial budaya, menghasilkan karya sastra, tarian jawa, pembaharuan dalam musik gamelan Jawa dan sebagainya.

Sri Mangkunegara wafat pada hari Jumat tanggal 8 September 1881 pada usia 70 tahun. Beliau telah meninggalkan warisan yang tak ternilai harganya. Namun seiring dengan perjalanan waktu,  nilai budaya luhur yang ditinggalkannya secara pelan dan pasti semakin tergerus budaya asing dalam perjalanan waktu. Hal ini terjadi karena generasi muda penerus budaya dan kehidupan bangsa ini lebih pada kenyataannya banyak yang budaya manca dalam berbagai bentuknya, yang kebanyakan justru menjauhi esensi hidup dan kehidupan umat manusia dan alam semesta.

Agar Serat Wedhatama ini lebih mudah dipelajari dan dipahami berbagai lapisan masyarakat, disini disajikan naskah dalam versi Bahasa Jawa dan versi Bahasa Indonesia.

Bahasa Jawa

Bahasa Indonesia

· Mingkar mingkuring angkara

· Akarana karenan mardi siwi

· Sinawung resmining kidung

· Sinuba sinukarta

· Mrih kretarta pakartining ngelmu luhung

· Kang tumrap neng tanah Jawa

· Agama ageming aji

· Menghindarkan diri dari angkara

· Bila akan mendidik putra

· Dikemas dalam keindahan syair

· Dihias agar tampak indah

· Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai

· Kenyataannya, di tanah Jawa

· Agama dianut raja

· Jinejer neng Wedhatama

· Mrih tan kemba kembenganing pambudi

· Mangka nadyan tuwa pikun

· Yen tan mikani rasa

· Yekti sepi asepa lir sepah samun

· Samangsane pakumpulan

· Gonyak-ganyik nglilingsemi

· Diuraikan dalam Wedhatama

· Agar tidak mengendurkan budi daya

· Pada hal meski tua renta

· Bila tak memahami perasaan

· Sama sekali tak berguna

· Misalnya dalam pertemuan

· Canggung memalukan

· Nggugu karsane priyangga

· Nora nganggo paparah lamung angling

· Lumuh ingaran balilu

· Uger guru aleman

· Nanging janma ingkang wus waspadeng semu

· Sinamun ing samudana

· Sesadon ingadu manis

· Menuruti keinginan pribadi

· Bila berbicara tanpa dipikir lebih dahulu

· Tak mau disebut bodoh

· Asal dipuji dan disanjung

· Tetapi manusia telah paham akan pertanda

· Yang ditutupi dengan kepura-puraan

· Ditampilkan dengan manis

· Si pengung ora nglegewa

· Sangsayarda denira cacariwis

· Ngandhar-andhar angendhukur

· Kandhane nora kaprah

· Saya elok alangka longkanganipun

· Si wasis waskitha ngalah

· Ngalingi marang si pingging

· Si bodoh tidak menyadari

· Bicaranya semakin menjadi-jadi

· Melantur-lantur semakin jauh

· Ucapannya tidak masuk akal

· Semakin aneh dan jauh dari kenyataan

· Si pandai dan waspada mengalah

· Menutupi kekurangan si bodoh

· Mangkono ngelmu kang nyata

· Sanyatane mung weh reseping ati

· Bungah ingaran cubluk

· Sukeng tyas yen den ina

· Nora kaya si punggu anggung gumunggung

· Agungan sadina-dina

· Aja mangkono wong urip

· Begitulah ilmu yang nyata

· Sesungguhnya hanya memberi kesejukan

· Bangga dikatakan bodoh

· Senang hatinya bila dihina

· Tidak seperti si bodoh yang besar kepala

· Minta dipuji setiap hari

· Orang hidup jangan begitulah

· Uripe sapisan rusak

· Nora mulur nalare ting saluwir

· Kadi ta guwa kang sirung

· Sinerang ing maruta

· Gumarenggeng anggereng anggung gumrunggung

· Pindha padhane si mudha

· Prandene paksa kumaki

· Hidupnya semakin rusak

· Nalarnya tidak berkembang dan compang-camping

· Seperti gua yang gelap

· Diterpa angin badai

· Menggeram, mengaung, gemuruh

· Sama siperti si muda

· Meski begitu ia tetap sombong

· Kikisane mung sapala

· Palayune ngendelken yayah-wibi

· Bangkit tur bangsaning luhur

· Lah iya ingkang rama

· Balik sira sasrawungan bae durung

· Mring atining tata krama

· Ngon-anggo agama suci

· Kemampuannya sangat kecil

· Geraknya bergantung kepada ayah-ibu

· Terpandang dan tingkat luhur

· Itulah orang tuanya

· Sedangkan belum mengenal

· Artinya sopan-santun

· Yang merupakan ajaran agama

· Socaning jiwangganira

· Jer katara lamun pocapan pasthi

· Lumuh asor kudu unggul

· Sumengah sosongaran

· Yen mangkono kena ingaran katungkul

· Karem ing reh kaprawiran

· Nora enak iku kaki

· Sifat-sifat dirimu

· Tampak dalam tutur-bicara

· Tak mau mengalah, harus selalu menang

· Congkak penuh kesombongan

· Sikap seperti itu salah

· Gila kemenangan

· Itu tak baik, anakku

· Kekerane ngelmu karang

· Kakarangan saking bangsaning gaib

· Iku boreh paminipun

· Tan rumasuk ing jasad

· Amung aneng sajabaning daging kulup

· Yen kapengkok pancabaya

· Ubayane mbalenjani

· Yang termasuk ilmu takhayul

· Pesona yang berasal dari hal-hal gaib

· Ibarat bedak

· Tidak meresap ke dalam tubuh

· Hanya ada berada di luar daging, anakku

· Jika tertimpa mara bahaya

· Pasti akan mengingkari

· Marma ing sabisa-bisa

· Babasane muriha tyas basuki

· Puruita kang patut

· Lan traping angganira

· Ana uga angger-ugering keprabun

· Abon-aboning panembah

· Kang kambah ing siyang ratri

· Maka sedapat mungkin

· Usahakan berhati baik

· Mengabdilah dengan baik

· Sesuai dengan kemampuanmu

· Juga tata-cara kenegaraan

· Tata-cara berbakti

· Yang berlaku sepanjang waktu

· Iku kaki takokena

· Marang para sarjana kang martapi

· Mring tapaking tepa tulus

· Kawawa naheb hawa

· Wruhanira mungguh sanyataning ngelmu

· Tan mesthi neng janma wredha

· Tuwin muda sudra kaki

· Bertanyalah anakku

· Kepada para pendeta yang bertirakat

· Kepada segala teladan yang baik

· Mampu menahan hawa nafsu

· Pengetahuanmu akan kenyataan ilmu

· Tidak hanya terhadap orang tua-tua

· Dan orang muda dan hina anakkku

· Sapa ntuk wahyuning Allah

· Gya dumilah mangulah ngelmu bangkit

· Bangkit mikat reh mangukut

· Kukutaning jiwangga

· Yen mangkono kena sinebut wong sepuh

· Liring sepuh sepi hawa

· Awas roroning atunggal

· Barangsiapa mendapat wahyu Tuhan

· Akan cepat menguasai ilmu

· Bangkit merebut kekuasaan

· Atas kesempurnaan dirinya

· Bila demikian, ia dapat disebut orang tua

· Artinya sepi dari kemurkaan

· Memahami dwi-tunggal

· Tan samar pamoring sukma

· Sinukmanya winahya ing ngasepi

· Sinimpen telenging kalbu

· Pambukaning wanara

· Tarlen saking liyep layaping ngaluyup

· Pindha sesating supena

· Sumusiping rasa jati

· Tidak bingung kepada perpaduan sukma

· Diresapkan dan dihayati di kala sepi

· Disimpan di dalam hati

· Pembika tirai itu

· Tak lain antar sadar dan tidak

· Bagai kilasan mimpi

· Merakna rasa yang sejati

· Sajatine kang mangkana

· Wus kakenan nugrahaning Hyang Widhi

· Bali alaming asuwung

· Tan karem karameyan

· Ingkang sipat wisesa-winisesa wus

· Milih mula-mulanira

· Mulane wong anom sami.

· Sesungguhnya yang demikian itu

· Telah mendapat anugerah Tuhan

· Kembali ke alam kosong

· Tak suka pada keramaian

· Yang bersifat kuasa-menguasai

· Telah memilih kembali ke asal

· Demikianlah, anak muda

Categories: Java Dictionary Tags:

SERAT JOKOLODANG

September 26, 2008 Leave a comment

Gambuh

Jaka Lodang gumandhul, Praptaning ngethengkrang sru muwus, Eling-eling pasthi karsaning Hyang Widhi, Gunung mendhak jurang mbrenjul, Ingusir praja prang kasor

Joko Lodang datang berayun-ayun diantara dahan-dahan pohon, kemudian duduk tanpa kesopanan dan berkata dengan keras. Ingat-ingatlah sudah menjadi kehendak Tuhan bahwa gunung-gunung yang tinggi itu akan merendah sedangkan jurang yang curam akan tampil kepermukaan (akan terjadi wolak waliking jaman), karena kalah perang maka akan diusir dari negerinya.

Nanging awya kliru, Sumurupa kanda kang tinamtu, Nadyan mendak mendaking gunung wis pasti, Maksih katon tabetipun, Beda lawan jurang gesong

Namun jangan salah terima menguraikan kata-kata ini. Sebab bagaimanapun juga meskipun merendah kalau gunung akan tetap masih terlihat bekasnya. Lain sekali dengan jurang yang curam.

Nadyan bisa mbarenjul, Tanpa tawing enggal jugrugipun, Kalakone karsaning Hyang wus pinasti, Yen ngidak sangkalanipun, Sirna tata estining wong

Jurang yang curam itu meskipun dapat melembung, namun kalau tidak ada tanggulnya sangat rawan dan mudah longsor. (Ket. Karena ini hasil sastra maka tentu saja multi dimensi. Yang dimaksud dengan jurang dan gunung bukanlah pisik tetapi hanyalah sebagai yang dilambangkan). Semuanya yang dituturkan diatas sudah menjadi kehendak Tuhan akan terjadi pada tahun Jawa 1850. (Sirna=0, Tata=5, Esthi=8 dan Wong=1). Tahun Masehi kurang lebih 1919-1920.

Sinom

Sasedyane tanpa dadya, Sacipta-cipta tan polih, Kang reraton-raton rantas, Mrih luhur asor pinanggih

Bebendu gung nekani, Kongas ing kanistanipun, Wong agung nis gungira, Sudireng wirang jrih lalis, Ingkang cilik tan tolih ring cilikira

Waktu itu seluruh kehendaki tidak ada yang terwujud, apa yang dicita-citakan buyar, apa yang dirancang berantakan, segalanya salah perhitungan, ingin menang malah kalah, karena datangnya hukuman (kutukan) yang berat dari Tuhan. Yang tampak hanyalah perbuatan – perbuatan tercela. Orang besar kehilangan kebesarannya, lebih baik tercemar nama daripada mati,sedangkan yang kecil tidak mau mengerti akan keadaannya.

Wong alim-alim pulasan, Njaba putih njero kuning, Ngulama mangsah maksiat, Madat madon minum main, Kaji-kaji ambataning, Dulban kethu putih mamprung, Wadon nir wadorina, Prabaweng salaka rukmi

Kabeh-kabeh mung marono tingalira

Banyak orang yang tampaknya alim, tetapi hanyalah semu belaka. Diluar tampak baik tetapi didalamnya tidak. Banyak ulama berbuat maksiat. Mengerjakan madat, madon minum dan berjudi. Para haji melemparkan ikat kepala hajinya. Orang wanita kehilangan kewanitaannya karena terkena pengaruh harta benda. Semua saja waktu itu hanya harta bendalah yang menjadi tujuan.

Para sudagar ingargya, Jroning jaman keneng sarik, Marmane saisiningrat, Sangsarane saya mencit, Nir sad estining urip, Iku ta sengkalanipun, Pantoging nandang sudra, Yen wus tobat tanpa mosik, Sru nalangsa narima ngandel ing suksma,

Hanya harta bendalah yang dihormati pada jaman tersebut. Oleh karena itu seluruh isi dunia penderitaan kesengsaraannya makin menjadi-jadi. Tahun Jawa menunjuk tahun 1860 (Nir=0, Sad=6, Esthining=8, Urip=1). Tahun Masehi kurang lebih tahun 1930. Penghabisan penderitaan bila semua sudah mulai bertobat dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Tuhan seru sekalian alam.

Megatruh

Mbok Parawan sangga wang duhkiteng kalbu, Jaka Lodang nabda malih, Nanging ana marmanipun, Ing waca kang wus pinesthi, Estinen murih kelakon

Mendengar segalanya itu Mbok Perawan merasa sedih. Kemudian Joko Lodang berkata lagi : “Tetapi ketahuilah bahwa ada hukum sebab musabab, didalam ramalan yang sudah ditentukan haruslah diusahakan supaya segera dan dapat terjadi “.

Sangkalane maksih nunggal jamanipun, Neng sajroning madya akir, Wiku Sapta ngesthi Ratu, Adil parimarmeng dasih, Ing kono kersaning Manon

Jamannya masih sama pada akhir pertengahan jaman. Tahun Jawa 1877 (Wiku=7, Sapta=7, Ngesthi=8, Ratu=1). Bertepatan dengan tahun Masehi 1945. Akan ada keadilan antara sesama manusia. Itu sudah menjadi kehendak Tuhan.

Tinemune wong ngantuk anemu kethuk, Malenuk samargi-margi, Marmane bungah kang nemu, Marga jroning kethuk isi, Kencana sesotya abyor,

Diwaktu itulah seolah-olah orang yang mengantuk mendapat kethuk (gong kecil), yang berada banyak dijalan. Yang mendapat gembira hatinya sebab didalam benda tersebut isinya tidak lain emas dan kencana.

Categories: Java Dictionary Tags:

SERAT WULANGSUNU, Paku Buwono IV

September 25, 2008 3 comments

Pupuh I

Wulang sunu kang kinarya gendhing, kang pinurwa tataning ngawula, suwita ing wong tuwane, poma padha mituhu, ing pitutur kang muni tulis, sapa kang tan nuruta saujareng tutur, tan urung kasurang-surang, donya ngakir tan urung manggih billahi, tembe matine nraka.

Wulang sunu yang dibuat lagu, yang dimulai dengan tata cara berbakti, bergaul bersama orang tuanya, agar semuanya memperhatikan, petunjuk yang tertulis, siapa yang tidak mau menurut, pada petunjuk yang tertulis, niscaya akan tersia-sia, niscaya dunia akherat akan mendapat malapetaka, sesudah mati di neraka.

Mapan sira mangke anglampahi, ing pitutur kang muni ing layang, pasti becik setemahe, bekti mring rama ibu duk purwa sira udani, karya becik lan ala, saking rama ibu, duk siro tasih jajabang, ibu iro kalangkung lara prihatin, rumeksa maring siro.

Bila nanti kamu melaksanakan petunjuk yang tertuang dalam serat pasti baik pada akhirnya berbakti kepada ibu bapak, ketika pertama kali diperlihatkan akan perbuatan baik dan buruk dari ibu bapak ketika kamu masih bayi, ibumu lebih sakit dan menderita memelihara kamu.

Nora eco dahar lawan ghuling, ibu niro rumekso ing siro, dahar sekul uyah bae, tan ketang wejah luntur, nyakot bathok dipunlampahi, saben ri mring bengawan, pilis singgul kalampahan, ibu niri rumekso duk siro alit, mulane den rumongso.

Tidak enak makan dan tidur, ibumu memelihara kamu walau hanya makan nasi garam walaupun hanya untuk membasahi kerongkongan , makan kelapa pun dilakukannya setiap hari mandi dan mencuci di sungai dengan langkah terseok-seok ibumu memelihara kamu ketika kecil untuk itu rasakanlah hal itu.

Dhaharira mangke pahit getir, ibu niro rumekso ing sira, nora ketang turu samben, tan ketang komah uyuh gupak tinjo dipun lampahi, lamun sira wawratana, tinatur pinangku, cinowekan ibu nira, dipun dusi esok sore nganti resik, lamun luwe dinulang

Keadaan pahit getir ibumu memelihara kamu dia tidur hanya sambilan meskipun penuh dengan air seni terkena tinja dilakukannya bila kamu buang air besar ditatur dan dipangku, dibersihkan oleh ibumu dimandikan setiap pagi dan sore sampai bersih, bila kamu lapar disuapi.

Duk sira ngumur sangang waresi, pasti siro yen bisa rumangkang, ibumu momong karsane, tan ketang gombal tepung, rumeksane duk sira alit, yen sira kirang pangan nora ketang nubruk, mengko sira wus diwasa, nora ana pamalesira, ngabekti tuhu sira niaya.

Ketika kamu berumur sembilan bulan, pada saat kamu bisa merangkak pekerjaan ibumu hanya menjagamu walau hanya memakai kain sambungan, memeliharamu ketika kamu masih kecil, bila kamu kurang makan, dicarikan sampai dapat, nanti kalau kamu sudah dewasa, tidak bisa pembalasanmu kecuali berbuat baik dan berbakti kepadanya.

Lamun sira mangke anglampahi, nganiaya ing wong tuwanira, ingukum dening Hyang Manon, tembe yen lamun lampus, datan wurung pulang lan geni, yen wong durakeng rena, sanget siksanipun, mulane wewekas ingwang, aja wani dhateng ibu rama kaki, prentahe lakonano.

Bila kamu nanti berbuat aniyaya terhadap orang tuamu, dihukum oleh Tuhan Yang Maha Mengetahui, besok kalau mati niscaya akan kembali bersama api, kalau orang senang durhaka, siksanya sangat berat, maka aku berpesan jangan berani ibu bapak anakku, lakukan perintah keduanya.

Parandene mangke sira iki, yen den wulang dhateng ibu rama, sok balawanan ucape, sumahir bali mungkur, iya iku cegahen kaki, tan becik temahira, donya keratipun, tan wurung kasurang-kasurang, tembe mati sinatru dening Hyang widhi, siniksa ing Malekat.

Adapun kamu nanti, bila dididik ibu bapak ucapanmu sering berlawanan menyahut lalu berpaling, cegahlah itu anakku, tidak baik pada akhirnya, dunia akherat akan sia-sia, besok kalau mati dimusuhi Tuhan, disiksa oleh Malaikat.

Yen wong anom ingkang anastiti, tan mangkana ing pamang gihira, den wulang ibu ramane, asilo anem ayun, wong tuwane kinaryo Gusti, lungo teko anembah iku budi luhung, serta bekti ing sukma, hiyo iku kang karyo pati lan urip, miwah sandhang lan pangan.

Sedangkan anak muda yang baik, pendapatnya tidak begitu dididik ibi bapaknya, duduk bersila dihadapannya, orang tuanya bagaikan Tuhan, pergi pulang bersujud, itu adalah budi yang luhur serta berbakti kepada Tuhan Yang Maha Hidup yaitu yang menciptakan mati dan hidup serta pemberi sandang dan pangan.

Kang wus kaprah nonoman samangke, anggulang polah, malang sumirang, ngisisaken ing wisese, andadar polah dlurung, mutingkrang polah mutingkring, matengkus polah tingkrak, kantara raganipun, lampahe same lelewa, yen gununggungsarirane anjenthit, ngorekken wong kathah.

Yang sudah kaprah bagi anak muda, bertingkah malang melintang memanjakan diri, bertingkah yang keterlaluan duduk seenaknya dan tak tahu kesopanan, berlaku congkak, senang memperlihatkan badannya, kelakuannya tidak terarah, bila badannya tersentuh menjingkat dan selalu membuat onar orang banyak.

Poma aja na nglakoni, ing sabarang polah ingkang salah tan wurung weleh polahe, kasuluh solahipun, tan kuwama solah kang silip, semune ingeseman ing sasaminipun, mulaneta awakingwang, poma aja na polah kang silip, samya brongta ing lampah.

Ingat-ingat jangan ada yang melakukan, segala tingkah yang salah, tingkahnya pasti akan terkuak (diketahui orang banyak), ia akan tersuluh dan tidak kuat menyandangnya, seolah-olah semua orang hanya melempar senyum, untuk itu anakku, ingatlah jangan ada yang berbuat salah agar hidupmu tidak mengalami kesusahan.

Lawan malih wekas ingsun kaki, kalamun sira andarbe karsa, aja sira tinggal bote, murwaten lan ragamu, lamun derajatiro alit, aja ambek kuwawa, lamun siro luhur, den prawira anggepiro, dipun sabar jatmiko alus ing budi, iku lampah utama.

Ada lagi nasehatku anakku, bila kamu mempunyai kehendak jangan sampai memberatkan diri, jagalah badanmu, bila derajatmu kecil, jangan merasa pesimis, bila kamu menjadi orang luhur, tegakkanlah pendapatmu, bersabar dengan kehalusan, budi, itulah perbuatan yang utama.

Pramilane nonoman puniki, dan teberi jagong lan wong tuwa, ingkang becik pituture, tan sira temahipun, apan bathin kalawan lahir, lahire tatakromo, bathine bekti mring tuhu, mula eta wekasing wong, sakathahe anak putu buyut mami, den samya brongta lampah.

Maka dari itu kaum muda sekarang bersabarlah, bergaul dengan orang tua, perhatikanlah petunjuknya yang baik, dari lahir sampai batin, lahir dengan tatakrama, batinnya dengan berbakti kepadanya, itulah nasehatku semua anak cucu cicitku, agar hidupmu tidak mengalami kesusahan

Categories: Java Dictionary Tags:

SERAT WULANGREH, Paku Buwana IV( 1768 – 1820 )

September 25, 2008 Leave a comment

Serat Wulang Reh, karya Jawa klasik bentuk puisi tembang macapat, dalam bahasa jawa baru ditulis tahun  1768 – 1820 di Keraton Kasunanan Surakarta. Isi teks tentang ajaran etika manusia ideal yang ditujukan kepada keluarga raja, kaum bangsawan dan hamba di keraton Surakarta. Ajaran etika yang terdapat di dalamnya merupakan etika yang terdapat di dalamnya merupakan etika yang ideal, yang dianggap sebagai pegangan hidup yang seharusnya dilakukan oleh masyarakat Jawa pada waktu itu, khususnya dilingkungan Keraton Surakarta.

Dari serat ini tampak bahwa krisis politik dan ekonomi yang melanda istana-istana Jawa sejak permulaan abad ke 19 meluas ke bidang sosial dan kultural. Institusi-institusi  dan nilai-nilai tradisional mengalami erosi, sedangkan yang baru masih dalam proses pertumbuhan. Hal itu terjadi karena politik kolonial pemerintahan Belanda yang semakin intensif dan juga disebabkan oleh pergaulan istana-istana Jawa dengan orang-orang Eropa yang samakin meluas. Banyak adat-istiadat baru yang semula tidak dikenal akhirnya masuk istana. Sementara itu generasi mudanya lebih terbawa ke arus baru daripada menaati dan menjalani yang lama. Dengan demikian generasi  muda dianggap kurang menghargai dan kurang menghormati adat istiadat dan nilai-nilai warisan luhur, kurang sopan santun, kurang prihatin, tidak mau mendengarkan dan menerima pendapat orang-orang tua.

Semua tinggkah laku dan cara berpikir mereka dianggap menyimpang dari adat istiadat dan nilai-nilai yang seharusnya dilakukan. Oleh karena itu perlu adanya pegangan hidup yang seharusnya yang sesuai dengan pedoman yang diwariskan oleh leluhur-leluhur pada masa yang lalu. Dengan demikian, dapatlah dikatakan bahwa orang-orang istana itu berusaha mempertahankan statusnya. Untuk itulah mereka menggali naskah-naskah lama yang berisi ajaran etika. Teks-teks lama yang digubah, isi dan bahasanya disesuaikan dengan keadaan yang berlaku pada waktu. Ajaran etika dalam Serat Wulang Reh menganggap etika itu otonom dan berpangkal pada dunia batiniah. Dunia lahiriah dikuasai dengan jalan menguasai dunia batiniah.

Dengan demikian, niali seseorang ditentukan oleh kemampuannya dalam menguasai batinnya. Tingkah laku, bicara dan ucapan yang tampak adalah pencerminan batin. Berbudi luhur berarti dengan sadardapat mengendalikan dunia batin atau dapat mengendalikan hawa nafsu. Mengurangi makan dan tidur, segala macam keprihatinan, dan bersujud kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi prasyarat menguasai dunia batin secara bertahap.

Ajaran etikanya tetap bersumber pada etika Jawa dengan mengacu pada tokoh-tokoh leluhur dinasti Mataram (Ki Ageng Tarub, Panembahan Senapati dan Sultan Agung). Begitu juga larangan-larangan yang disebutkan adalah larangan-larangan yang berasal dari leluhur dinasti Mataram.

Hubungan sosial masih berpegang pada sifat tradisional dengan urutan berdasarkan usia, pangkat, kekayaan, dan awu’tali kekerabatan’. Konflik terbuka sedapat mungkin dihindari. Dunia lahir yang ideal adalah dunia yang seimbang dan selaras, seperti keseimbangan dan keselarasan lahir dan batin. Hidup orang tidak akan mempunyai cacad dan cela apabila batinnya selalu waspada. Kewaspadaan batin yang terus menerus itu akan mencegah tingkah laku, bicara dan ucapan yang tercela. Mengurangi makan dan tidur itu merupakan latihan yang utama untuk mendapatkankewaspadaan batin. Selain kewaspadaan batin juga dihindari watak yang tidak baik, yaitu watak adigang, adigung dan adiguna. Sebaliknya seseorang itu haruslah memelihara watak “ reh “ bersabar hati dan “ ririh “ tidak tergesa-gesa dan berhati-hati. Kelakuan yang menguntungkan diri sendiri dan merugikan orang lain harus dihindari, berbohong, kikir, dan sewenang-wenang haruslah dijauhi.

Jika batinnya telah waspada, tingkah lakunya harus sopan, tingkah laku sopan itu ialah tingkah laku yang :

  1. Deduga        “ dipertimbangkan masak-masak sebelum melangkah.”
  2. Prayoga        “ dipertimbangkan baik buruknya “
  3. Watara         “ dipikir masak-masak sebelum memberi keputusan “
  4. Reringa         “ sebelum yakin benar akan keputusan itu “

Ada lima hal yang harus dan wajib dihormati yaitu : Ayah dan Ibu, Mertua Laki-laki dan Perempuan, Saudara laki-laki yang tertua, Guru dan raja.

Pesan dan harapan penggubah kepada anak cucu meliputi :

  1. Patuh lahir dan batin terhadap nasehat orang tua
  2. Jangan berpuas diri atas nasib yang diterima
  3. Bertanya kepada alim ulama mengenai soal-soal agama dan Al Quran
  4. Bertanya kepada sarjana atau orang pandai mengenai sopan santun dan berbahasa yang baik agar dapat dipergunakan sebagai pegangan hidup.
  5. Rajin membaca kitab-kitab lama yang berisi suri teladan dan berisi cerita-cerita yang baik.
  6. Bertanya kepada orang-orang tua tentang cara membedakan tingkah laku yang baik dan buruk, yang hina dan yang terpuji, yang rendah dan yang tinggi

Serat Wulang Reh

Serat Macapat Dandanggula

Pamedare wasitaning ati, ujumantaka aniru Pujangga, dahat muda ing batine. Nanging kedah ginunggung, datan wruh yen akeh ngesemi, ameksa angrumpaka, basa kang kalantur, turur kang katula-tula, tinalaten rinuruh kalawan ririh, mrih padanging sasmita.

Sasmitaning ngaurip puniki, mapan ewuh yen ora weruha, tan jumeneng ing uripe, akeh kang ngaku-aku, pangrasane sampun udani, tur durung wruh ing rasa, rasa kang satuhu, rasaning rasa punika, upayanen darapon sampurna ugi, ing kauripanira.

Jroning Quran nggoning rasa yekti, nanging ta pilih ingkang unginga, kajaba lawan tuduhe, nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, tedah sasar susur, yen sira ajun waskita, sampurnane ing badanira, sira anggugurua.

Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing chukum, kang ngibadah lan kang wirangi, sokur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana.

Lamun ana wong micareng ngelmi, tan mupakat ing patang prakara, aja sira age-age, anganggep nyatanipun, saringana dipun baresih, limbangen lan kang patang : prakara rumuhun, dalil qadis lan ijemak, lan kijase papat iku salah siji, ana-a kang mupakat.

Ana uga den antepi, yen ucul saka patang prakara, nora enak legetane, tan wurung tinggal wektu, panganggepe wus angengkoki, aja kudu sembah Hajang, wus salat kateng-sun, banjure mbuwang sarengat, batal haram nora nganggo den rawati, bubrah sakehing tata.

Angel temen ing jaman samangkin, ingkang pantes kena ginuronan, akeh wong jaya ngelmune, lan arang ingkang manut, yen wong ngelmu ingkang netepi, ing panggawening sarak, den arani luput, nanging ta asesenengan, nora kena den wor kakarepaneki, pancene prijangga.

Ingkang lumrah ing mangsa puniki, mapan guru ingkang golek sabat, tuhu kuwalik karepe, kang wus lumrah karuhun, jaman kuna mapan si murid, ingkang pada ngupaya, kudu angguguru, ing mengko iki ta nora, Kyai Guru narutuk ngupaya murid, dadiya kantira.

Categories: Java Dictionary Tags:

SERAT CENTINI

September 25, 2008 2 comments

Ing ngandhap punika ka-aturaken tetedhakan purwakanipun Serat Centhini, sinawung ing sekar Sinom

  1. Sri Narpatmaja Sudibya, talatahingnusma Jawi, Surakarta Hadiningrat, hagnya ring kang wadu Carik, Sutrasna kang kinanthi, mangunreh cariteng dangu, sanggyaning kawruh Jawa, hingimpun tumrap kakawin, mrih tan kemba karya dhangan kang miyarsa.
  2. Lajere kang cinarita, laksananing Jayengresmi, ya She Adi Amongrogo, atmajeng njeng Sunan Giri, kontap janma linuwih, Oliya Wali Mujedub, peparenganing jaman, njeng Sultan Agung Matawis, tinengeran Serat Suluk tambangraras.
  3. Karsaning Sang Narpatmaja, babon pangawikan jawi, jinereng dadya carita, sampating karsa marengi, Nemlikur Saptu Paing, lek Mukharam je warseku, mrakeh Hyang Surenggana, Bathara Yama Dewari, amawulu wogan su-ajag sumengka.
  4. Panca-sudaning Satriya, wibawa lakuning geni, windu adi mangsa sapta, sangkala angkaning warsi, paksa suci sabda ji (1742) ingkang pinurwa ing kidung, duk Keraton Majalengka, Sri Brawijaya mungkasi, wonten Maolana saking nagri Jedah.
  5. Panengran She walilanang, praptanira tanah jawi, kang jinujug Ngampeldenta, pinanggih sang maha resi, areraosan ngelmi, sarak sarengat njeng rosul, nanging tan ngantya lam, linggar saking Ngampelgadhing, ngidul ngetan anjog Nagri Belambangan.

Serat Centini

  • Serat Centhini, sebagaimana kita tahu, ditulis oleh sejumlah pujangga di lingkungan Keraton Surakarta yang diketuai oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amengkunagara III, putra mahkota Sunan Pakubuwana IV. Karya yang terkenal dengan sebutan Serat Centhini atau Suluk Tambangraras-Amongraga ini ditulis pada tahun 1742 dalam penanggalan Jawa, atau 1814 dalam tahun Masehi. Karya ini boleh dikatakan sebagai semacam ensiklopedi mengenai dunia dalam masyarakat Jawa. Sebagaimana tercermin dalam bait-bait awal, serat ini ditulis memang dengan ambisi sebagai perangkum baboning pangawikan Jawi, atau katakanlah semacam database pengetahuan Jawa. Jumlah keseluruhan serat ini adalah 12 jilid. Aspek-aspek ngelmu yang dicakup dalam serat ini meliputi persoalan agama, kebatinan, kekebalan, dunia keris, kerawitan dan tari, tata cara membangun rumah, pertanian, primbon atau horoskop, soal makanan dan minuman, adat istiadat, cerita-cerita kuna mengenai tanah Jawa dan lain-lainnya.
  • Yang ingin ditunjukkan dalam tulisan ini adalah bagaimana Islam menjadi elemen pokok yang mendasari seluruh kisah dalam buku ini, tetapi ia telah mengalami “pembacaan” ulang melalui optik pribumi yang sudah tentu berlainan dengan Islam standar. Islam tidak lagi tampil sebagai “teks besar” yang “membentuk” kembali kebudayaan setempat sesuai dengan kanon ortodokasi yang standar. Sebaliknya, dalam Serat Centhini, kita melihat justru kejawaan bertindak secara leluasa untuk “membaca kembali” Islam dalam konteks setempat, tanpa ada semacam kekikukan dan kecemasan karena “menyeleweng” dari kanon resmi. Nada yang begitu menonjol di sana adalah sikap yang wajar dalam melihat hubungan antara Islam dan kejawaan, meskipun yang terakhir ini sedang melakukan suatu tindakan “resistensi”. Penolakan tampil dalam nada yang “subtil”, dan sama sekali tidak mengesankan adanya “heroisme” dalam mempertahankan kebudayaan Jawa dari penetrasi luar.
  • Barangkali, Serat Centhini bisa kita anggap sebagai cerminan dari suatu periode di mana hubungan antara Islam dan kejawaan masih berlangsung dalam watak yang saling mengakomodasikan, dan tidak terjadi kontestasi antara keduanya secara keras dan blatant. Sebagaimana kita tahu, dalam perkembangan pasca-kemerdekaan, identitas kejawaan makin mengalami “politisasi” dalam menghadapi naiknya kekuatan Islam yang cenderung “puritan” dalam kancah politik. Dalam konteks semacam ini, antara kedua identitas ini (Islam dan Jawa), terdapat hubungan yang tegang dan penuh prasangka. Ketegangan ini terus berlanjut hingga dalam pemerintahan Orba.
  • Serat disusun berdasarkan kisah perjalanan putra-putri Sunan Giri setelah dikalahkan oleh Pangeran Pekik dari Surabaya, ipar Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Kisah dimulai setelah tiga putra Sunan Giri berpencar meninggalkan tanah mereka untuk melakukan perkelanaan, karena kekuasaan Giri telah dihancurkan oleh Mataram. Mereka adalah Jayengresmi, Jayengraga, dan seorang putri bernama Rancangkapti. Dengan diikuti oleh dua santri, Gathak dan Gathuk, Jayengresmi melakukan “perjalanan spiritual” ke sekitar keraton Majapahit, Blitar, Gamprang, hutan Lodhaya, Tuban, Bojanagara, hutan Bagor, Gambiralaya, Gunung Pandhan, desa Dhandher, Kasanga, Sela, Gubug Merapi, Gunung Prawata, Demak, Gunung Muria, Pekalongan, Gunung Panegaran, Gunung Mandhalawangi, Tanah Pasundan, Bogor, bekas keraton Pajajaran, Gunung Salak, dan kemudian tiba di Karang. Dalam perjalanan ini, Jayengresmi seperti mengalami “pendewasaan spiritual”, karena bertemu dengan sejumlah guru, tokoh-tokoh gaib dalam mitos Jawa kuna, dan sejumlah juru kunci makam-makam keramat di tanah Jawi. Dalam pertemuan dengan tokoh-tokoh itu, dia belajar mengenai segala macam pengetahuan dalam khazanah kebudayaan Jawa, mulai dari candi, alamat bunyi burung gagak dan prenjak, khasiat burung pelatuk, petunjuk pembuatan kain lurik, pilihan waktu bersanggama, perhitungan tanggal, hingga ke kisah Syeh Siti Jenar.
  • Jayengsari dan Rancangkapti berkelana dengan diiringi oleh santri Buras ke Sidacerma, Pasuruhan, Ranu Grati, Banyubiru, kaki Gunung Tengger, Malang, Baung, Singasari, Sanggariti, Tumpang, Kidhal, Pasrepan, Tasari, Gunung Brama, Ngadisari, Klakah, Kandhangan, Argapura, Gunung Rawun, Banyuwangi, terus ke Pekalongan, Gunung Perau, Dieng, sampai ke Sokayasa di kaki Gunung Bisma Banyumas. Dalam perjalanan itu, mereka berdua mendapatkan pengetahuan mengenai adat-istiadat tanah Jawi, syariat para nabi, kisah Sri Sadana, pengetahuan mengenai wudlu, shalat, pengetahuan (yang terkesan agak bertakik-takik dan njlimet) mengenai dzat Allah, sifat, asma dan afngal-Nya, sifat dua puluh, Hadis Markum, perhitungan selamatan orang meninggal dunia, serta perwatakan Kurawa dan Pandawa.
  • Melihat luasnya daerah serta lingkup pengetahuan yang dipelajari ketiga putra-putri Giri itu, tampak sekali ambisi penggubah kisah dalam Serat Centhini ini untuk “menerangkan” secara menyeluruh “dunia dalam” orang Jawa. Dengan demikian, serat ini juga bisa digunakan sebagai titik masuk untuk mengetahui bagaimana dunia Jawa “plausible” dan bermakna buat orang-orang Jawa sendiri. Sekaligus juga adalah bagaimana Islam “bermakna” dalam konteks tatanan kosmik mereka.
  • Melihat jenis-jenis pengetahuan yang dipelajari oleh ketiga putra-putri Giri tersebut, tampak dengan jelas unsur-unsur Islam yang “ortodoks” bercampur baur dengan mitos-mitos di tanah Jawa. Ajaran Islam yang ortodoks mengenai sifat Allah yang dua puluh, misalnya, diterima begitu saja, tanpa harus membebani para penggubah ini untuk mempertentangkan ortodoksi itu dengan mitos-mitos dalam khazanah kebudayaan Jawa. Dua-duanya disandingkan begitu saja secara “sinkretik”, seolah antara alam “monoteisme” dengan “paganisme”/”animisme” Jawa tidak terdapat pertentangan yang merisaukan.
  • Seperti telah dikemukakan di atas, dalam serat ini, Islam memang tidak dipandang semata-mata sebagai unsur eksternal yang “membebani” unsur lokal, bahkan pertentangan (katakan saja) weltanschauung antara kedua dunia itu (Islam dan Jawa) sama sekali tidak dipersoalkan. Begitu saja diandaikan bahwa keduanya commensurable dan saling bisa bertukar tempat. Tetapi, anehnya, dengan cara seperti inilah Jawa (sebagaimana ditampilkan oleh serat ini) melakukan “resistensi” (atau “domestifikasi”, dalam istilah Benda) atas Islam. Penggubah serat ini seolah-olah tidak mau tahu bahwa Islam sebagaimana tampil dalam korpus standar membawa sejumlah “efek ikonoklastik” atas kepercayaan setempat.

Pasca-Centhini: Jawa “baru”?

  • Bagaimana orang-orang Jawa pada periode-katakan saja-”pasca-Centhini” memahami hubungan antara Islam dan kejawaan? Adakah perubahan yang mendasar dalam pandangan-pandangan yang sebelumnya bernada sinkretis itu? Sebuah kesaksian kontemporer dari keluarga Jawa sebagaimana dituturkan oleh Hersri, layak dikutip di sini (saya ambil dari tulisan Hersri Between the Bars yang dimuat dalam buku Silenced Voices suntingan John H McGlynn yang terbit baru-baru ini). Cerita Hersri ini  mewakili semacam corak yang umum dalam keluarga Jawa dari kelas bawah. Cerita ini terjadi di tahun 1947/1948.
  • Hersri adalah orang yang tumbuh dalam keluarga abangan dan tidak mengenal “kesetiaan” yang fanatik terhadap agama-agama resmi. Sikap yang longgar ini tercermin dalam jawabannya ketika suatu ketika ia ditanya oleh gurunya di kelas, “Apa agamamu?” Ia kebingungan, karena di rumah tidak pernah memperoleh pengajaran mengenai kesetiaan yang eksklusif terhadap agama tertentu. Kakaknya yang sulung dikirim oleh ayahnya ke Sekolah Katolik di Muntilan, bukan dengan kesadaran mendalam agar anaknya belajar agama itu. Tetapi, Sekolah Katolik di daerahnya lebih menerapkan disiplin yang keras ketimbang sekolah lain, sehingga dengan demikian ayahnya berharap agar kakaknya yang ndablek itu bisa dijinakkan. Kakaknya yang lain belajar di Sekolah Taman Siswa. Sementara kakaknya yang nomor tiga dikirim ke Sekolah Muhammadiyah, juga bukan dengan alasan agar belajar Islam dengan baik, tetapi karena kakaknya yang satu ini tidak diterima baik di sekolah umum atau Protestan. Bapaknya sendiri selalu berkata bahwa semua agama adalah baik, dan sering ikut dalam acara selamatan desa yang biasanya juga menggunakan sejumlah ritual Islam (seperti tahlil, misalnya). Tetapi ia tidak pernah menjadi Muslim. Terhadap pertanyaan yang membingungkan dari gurunya itu, Hersri akhirnya menjawab, “Saya mengikuti semua agama yang ada.” Seluruh murid di kelasnya tertawa.
  • Apakah ini cerminan dari sinkretisme seperti yang disebut di muka? Boleh jadi. Tetapi sikap permisif secara “teologis” ini lama-lama makin pudar, karena proses yang lain juga sedang berlangsung, yaitu apa yang sering disebut sebagai “santri-isasi” orang Jawa. Saya pernah mendengar cerita seorang jemaat Gereja Kristen di kawasan Pulo Mas mengenai proses “baru” yang sedang berlangsung dalam masyarakat Jawa itu. Dahulu, cerita si jemaat ini, jika ada jenazah di desanya (di Madiun), sudah menjadi adat yang lazim bahwa seluruh warga desa dari agama apa pun akan mengurusnya. Sekarang, setelah sejumlah fatwa MUI dikeluarkan mengenai larangan orang Islam terlibat dalam ritual agama lain (termasuk seremoni kematian, tentunya), pelan-pelan orang makin sadar akan “identitasnya” sebagai orang Muslim atau Kristen atau yang lain. Orang Jawa makin menyadari bahwa ada gejala lain yang muncul ke permukaan: gejala untuk menganggap sikap “permisif” secara teologis sebagai hal yang tidak lagi wajar.
  • Proses ini, tampaknya sudah berlangsung sejak lama, meskipun resonansinya baru tampak dengan “keras” akhir-akhir ini. GWJ Drewes (dalam artikel berjudul Indonesia: Mysticism and Activism, yang dimuat dalam buku suntingan Gustave von Grunebaum, Unity and Variety in Muslim Civilization, [1955]), pernah mengemukakan pengamatannya di tahun 50-an mengenai proses Islamisasi di tanah Jawa. Ia mengatakan bahwa,
  • The Islamization of Indonesia is still in progress, not only in the sense that Islam is still spreading among pagan tribes, but also in that peoples who went over to Islam centuries ago are living up more and more to the standard of Muslim orthodoxy.
  • Kecenderungan yang kita lihat akhir-akhir ini tampaknya memang makin cenderung membenarkan apa yang dikatakan oleh Drewes itu. Tetapi semacam caveat tetap harus dikemukakan di sini. Jika kecenderungan makin “ortodoks” di kalangan masyarakat Jawa seperti dikemukakan oleh Drewes itu benar-benar terjadi, maka harus pula dipertimbangkan kenyataan bahwa dalam pemilu tahun lalu, partai-partai Islam mengalami kekalahan yang dramatis. PDI-P yang mempunyai basis luas di kalangan masyarakat Jawa yang abangan, memperoleh suara yang besar.

  • Apakah yang bisa kita simpulkan dari perkembangan baru ini? Tampaknya memang Jawa-Serat-Centhini belum menunjukkan tanda-tanda kepudaran, bahkan mungkin semacam resiliensi baru mulai dikembangkan. Meskipun perkembangan-perkembangan baru yang menuju ke arah Jawa-pasca-Centhini juga mulai memperlihatkan gejalanya.
  • Pethikan “Centhini” pupuh 37. Dhandhanggula, gatra 37 – 49 37 duk uripe neng dunya puniki sadina dina pan wis sakarat miwah sawengi wengine manggung sakaratipun melek turu sakarat ugi mila ngaran sakarat wong neng dunya iku dene ta ing salaminya urip iku neng dunya tan pegat dening layar segara rahmat 39. Ing tepine graitanen ugi dene wus aran iku sagara tanpa tepi supradene kaya na tepinipun ngengkol temen basa puniki kepriye yen kenaa kinira ing kalbu dinuga duga watara saking kira kira mapan datan keni kajaba kang wus wikan 40. Ing tepining ingkang jalanidhi. sagara rahmat kang tanpa ombak nanging gumleger alune samun lamun kadulu sawangane resik tur wening mila kang sami layar tan nganggo parau nyana tan na pakewuhnya yen tinrajang telenge keh parang curi mila arang kang prapta 42. Mampan arang iya angrawuhi ing warnane ya sagara rahmat tur sadina sawengine wong aneng dunya iku alalangen aneng jaladri jroning sagara rahmat prandene arang wruh saking kalingan ing tingal kalimput ing pancabayaning ngaurip mila arang waspada 43. Yen arsa layar maring jaladri sagara rahmat mawia palwa sarta lawan kamudhine pandoman sampun kantun myang layare dipun abecik miwah sanguning marga ywa kirang den agung yen tan mangkono tan prapta ing tepine iya sagara rahmati pan mundhak akangelan 44. Baitane pan eninging galih kemudhine pan anteping tekat sucining kalbu layare pandomanipun iku pituduhe guru sayekti sangune ngelmu rasa lakune parau kalawabn murahing Edat yen tumeka aneng tepining jaladri uga sagara rahmat (badhe kalajengaken menawi taksih wonten ingkang ngersaaken..)

Kapethik saking “serat centhini latin 1″ Yasandalem kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Amangkurat III (Ingkang Sinuhun Paku Buwana V) jumeneng ing Surakarta ( 1820 – - 1823 M) kalatinaken miturut aslinipun dening Karkana Kamajaya, Penerbit yayasan Centhini, Yogyakarta, 1991

Categories: Java Dictionary Tags:

SERAT CEMPORET, Paku Buwana IX

September 25, 2008 Leave a comment

DANDANGGULA

Songsoggora (payung agung) sebagai lambang keselamatan, bagaikan winidyan (dikaruniai pengetahuan) yang sesuai benar dengan apa yang diidam-idamkan, namun tetap ringa-ringa (ragu-ragu) sewaktu menggubah, karena tidak darbe (memiliki) kemampuan yang tinggi, sehingga terlebih dahulu harus angruruhi (mencari) kerisauan batin, dan jaga (menjaga) angkara murka, seraya mohon luwaring (semoga terbebas dari) kesedihan, agar jangan kongsi (sampai) bingung dalam menyusun jalannya cerita ini, dan demikianlah cerita ini ginupita (digubah)

Sesungguhnya buku cerita ini disusun atas kehendak Sri Baginda IX, yang bertahta di kerajaan besar Surakarta. Sri Baginda termasyhur di dunia karena kesaktiannya dan sebagai perujudan utama akan sifat-sifat utama, suci, berhati sabar, sentosa, pemurah serta tulus cintanya kepada rakyat, sehingga besar maupun kecil mereka semua mendoakan kesejahteraan kerajaan Sri Baginda.

Sebagai awal dari cerita ini akan diungkapkan sebuah kiasan yang indah yang dapat dijadikan teladan dalam melakukan segala hal, asal saja dicari yang rahayu untuk memperingatkan kekhilafan budi, agar segala sesuatu dapat berlangsung dengan mudah, Yang diungkapkansebagi suri teladan adalah cerita lama, bagian akhir dari Pustaka Rajaweda yakni tentang negara Purwacarita.

Negeri itu sangat sejahtera berkat wibawa raja, yang bergelar Sri Mahapunggung, yang kukuh berpegang pada darma dan peraturan serta ahli di bidang ilmu pengetahuan. Semula raja Suwelecala yang menjadi awal cerita, mempunyai enam orang anak laki-laki yang berimbang kesaktiaannya.

Yang sulung bernama Raden Jaka Panuhun, ia tertarik pada bidang pertanian. Oleh karena itu ia naik tahta dan memerintah segenap masyarakat tani di daerah Pagelan dan sekitanrnya, disanalah ia membangun sebuah kota sebagai pusat pemerintahan daerah Pagelen dan Kutaarja serta bergelar Sri Manuhun.

Anak yang kedua bernama Raden Jaka Sandanggarba, tertarik pada dunia perdagangan. Oleh karena itu layaklah kalau ia sangat tekun berusaha mengumpulkan modal, sehingga akhirnya menjadi raja saudagar, berpusat di Jepara dan bergelar Sri Sadana.

Anak yang ketiga bernama Raden Jaka Karungkala, kegemarannya menjelajahi hutan belantara berburu kijang, rusa, banteng, lembu dan memikat burung. Waktu tua menjadi raja di Kirata memimpin para pemburu, para penangkap binatang, para pemelihara ternak dan semua pedagang daging.

Dulu kotanya di Prambanan dan bergelar Sri Kala, juga terkenal dengan sebutan Kirataraja. Adiknya yakni Jaka Tunggumetung, kegemarannya mengarungi lautan mencari ikan atau menyadap enau di waktu siang, seraya membuat garam di waktu malam.

Oleh karena itulah dahulu ia merajai segenap nelayan, mengumpulkan dan memimpin para penyadap serta menguasai para pembuat garam. Dulu pusatnya di Pagebangan dan bergelar Sri Malaras, anak yang sumendi, yakni kakak si bungsu yang bernama Raden Jaka Petungtantara, karena gemar beroleh puji dan samadi serta mempelajari ilmu kependetaan dan kepujanggaan istana.

Jadilah ia raja para maharesi, segenap pendeta dan ajar, itulah yang ia kuasai, seraya menghimpun para penghulu serta brahmana dan mengatur kehidupan beragam di Medangkawit. Oleh karena itu ia bergelar Raja Resi Sri Madewa. Pertapaannya berpusat di Pamagetan, yang terletak di lereng Gunung Lawu, dibangun sebagai sebuah kerajaan yang sejahtera.

Adapun yang muda, lahir dari permaisuri bernama Jaka Kanduyu, kegemarannya berorganisasi, menghimpun dan mempersatukan rakyat kecil, sehingga setiap kali ada permusyawaratan selalu seia sekata dengan segenap sanak keluarga. Ia memang mahir membangkitkan semangat dan memikat hati, sehingga mempeperoleh kewibawaan.

Ketika ia berkelana memperluasa daerah kekuasaan dengan membawa pasukan, terjadilah peperangan dan ia menang perang mengalahkan Sri Daneswara beserta patihnya yang muksa bersama-sama. Setelah keduanya kalah, tak ada yang tampil lagi seluruh punggawa dari kerajaan itu sepakat untuk menyerah. Tak lama kemudian Raden Jaka Kanduyu menjadi raja di Purwacarita.

Berkat pahala Hyang Hutipati, ia dianugerahi kebijaksanaan yang sempurna. Kemudian berganti nama menjadi Sri Mahapunggung, meneruskan gelar raja yang dikalahkannya dalam peperangan, sekaligus untuk merahasiakan kesaktiannya. Upacara penobatannya dihadiri oleh para brahmana, resi, dan raja-raja dari mancanegara.

Peristiwa itu terjadi pada masa Srawana, tahun Sadamuka yakni tahun Surya : 1031 atau menurut hitungan tahun Candra : 1061, yakni kurang lebih satu tahun setelah mengangkat saudara-saudaranya memerintah di kerajaan masing-masing, lengkap dengan daerah kekuasaannya.

Demikianlah telah berlangsung beberapa waktu lamanya tanpa ada sesuatu halangan, kini tersebutlah di Pegelen Sri Baginda Sri Manuhun, yang sedang merasa masygul. Sebab musabab kesedihannya ialah, berputra du orang, dua-duanya cacat. Seorang cebol dan yang seorang wujil, yang cebol diberi nama Raden Jaka Pratana.

Yang wujil diberi nama Raka Jaka Sangara, hal ini membuat ayahnya sangat malu, sehingga siang dan malam ia tiada hentinya bersembahyang, mohon petunjuk dewa yang didambakan ialah semoga dianugerahi anak laki-laki yang tampan, serba bisa mengatasi segala sesuatu agar supaya tidak mencemaskan.

Kini terdengarlah petunjuk dalam samadinya “ Hai Sri Baginda, mintalah pertolongan kepada seorang buyut yang bertempat tinggal di Sendangkulon, engkau pasti akan memperoleh sarana sehingga bisa mendapat anak laki-laki yang tampas dan pantas, segeralah engkau ikhtiar dan jangan membawa pengiring.

Sri Baginda keluar dari tempat samadinya, pergi tanpa pengiring dengan cara menyamar. Syahdan bergantilah yang diceritakan, Kyai Buyut yang bertempat tinggal di Sendangkulon bernama Buyut Samalangu, putra Buyut Salinga cucu seorang biku sakti yang bernama Resi Samahita.

Buyut Samalangu itu beristri jin, mempunyai anak laki-laki dan perempuan. Yang tua perempuan bernama Rara Srini, adiknya bernama Jaka Sarana, tampan. Karena pengaruh tapa, kedua anaknya tidak serupa dengan anak kelahiran desa akan tetapi seperti putra raja.

Keduanya selalu menjadi hiasan berita di desa-desa dan dukuh-dukuh sekitar Sendangkulon, Orang membayangkan perasaannya betapa bahagianya andaikata terbalas cintanya. Akan tetapi tidak terpenuhi karena takut kepada Ki Buyut, yang bertabiat lemah lembut serta selalu berprihatin dalam sembahnya untuk menjaga keselamatan keluarga.

Tersebutlah Ki Buyut yang tengah memohon sepenuh hati, bertafakur dalam sanggarnya. Hatinya terpusat kepada anak, semoga mendapat anugerah kemurahan dewata, terpilih oleh raja. Permohonannya terkabul bersamaan dengan turunnya wahyu diwaktu tengah malam.

Turunlah istrinya, jin yang bernama Diah ratna Sriwulan, ia datang dengan tiba-tiba dan Ki Buyut segera bersiap di tempat yang sepi. Setelah ditanya maksud kedatangannya, istrinya lalu memberi petunjuk dengan jelas, suaminya diminta supaya membenahi rumah karena akan ada tamu.

Bukan tamu sembarang tamu dari golongan rakyat biasa, namun seorang raja yang menguasai sebuah kerajaan yang berpust di Pagelen bergelar Sri Manuhun. Kedatangannya karena menaati petunjuk. Ia sedang masygul karena kedua anaknya menderita cacat. Ia memperoleh petunjuk supaya menemuimu hendak minta isyarat.

Kelak pasti mempunyai putra yang tampan, petunjuk itu benar-benar dilaksanakan, ia datang seorang dari tanpa pengiring. Karena memang sudah kehendak dewata, dan sudah takdir Rara Srini menjadi perantara, ia dipersitri oleh raja, untuk menurunkan keturunan yang mulia, sekaligus menarik saudara sekandung ikut merasakan kebahagiaan.

Mendengar hal itu Kyai Buyut gembira di hati, lalu ia bertanya “ Wahai adinda, bagimana caranya agar hal itu bisa terlaksana secara meyakinkan sesuai dengan kehendaknya, terbuka secara serasi “ Ratna Sriwulan menjawab “ jangan kuarti ! sayalah yang akan mengatur dengan menggunakan siasat.

Atau sarana sebagai tabir, anda menggunakan cara terbuka pasti nanati ada tanda-tandanya yang bercirikan tulisan. Jelaskan apa adanya, jika sudah ada buktinya, disitulah saatnya menerka-nerka isyarat, yang cocok dengan petunjuk yang harus ditafsirkan, lalu tinggallah puji dan doa.

Sesudah selesai memberi penjelasan, sang dewi lalu pamit kepada suami, dalam sekejap mata mata ia telah lenyap, gain tertutup suasana. Tersebutlah Kyai Buyut, ketika hari menjelang pagi ia memberi tahu anaknya supaya memperpatut tata rumah, yang disuruh mengiakan keduanya mulai bersiap-siap.

Patanenya dibersihkan semua diberi bunga yang harum, lantainya dihampiri tikar berderet-deret, minuman diatur diatas para-para dengan sesajian lengkap dan penuh, tak ada yang mengecewakan. Ki Buyut diberi tahu oleh anaknya, bahwa segala persiapan di dalam rumah sudah selesai, ia merasa gembira lalu gembira.

Untuk menyongsong kedatangan raja, tak lama kemudian bertemu di pagar rumah, kedua-duanya merasa gembira. Ki Buyut Samalangu gopoh-gopoh mempersilakan dan raja, setibanya di dukuh menanggapi dengan seneng, lalu masuk ke rumah. Sri Baginda dipersilakan duduk di petanen yang sudah diatur, dengan senang hati ia duduk tanpa ragu-ragu.

Kyai Buyut duduk menunduk di hadapannya bersama kedua orang anaknya, beberapa saat kemudian Ki Buyut mengucapkan sambutan selamat datang “ Atas kedatangan Sri Baginda, hamba merasa sangat beruntung bagaikan kedatangan dewata, yang menganugerahi kemuliaan tanpa bandingan melingkupi segala-galanya.

Sampai pohon-pohon dan daun-daun semuanya senyap, semuanya bertmabha indah dan semakin subur karena terlindung oleh kewibawaan manikam kerajaan yang luhur, hamba bagaikan mimpi, apakah gerangan yang paduka kehendaki sehingga datang menyamar seorang diri tanpa pengiring, pagi-pagi bener tersesat dan berkenan mengunjungi pondok hamba.

Tiada lain hamba mohon aksama, siap menerima kemurkaan paduka, jika sekitarnya kurang tata krama. Karena hamba hanyalah pacal dukun, yang tak mungkin tahu akan sopan santun. “ Sri Baginda menjawab “ Sudahlah, jangan berkata demikian. Memang sengaja saya sampai di sini, sebabnya ialah karena taat kepada petunjuk, Sri Baginda lalu menjelaskan duduk persoalannya.

Sejak awal hingga akhirnya bertemu, kemudian ujarnya meminta “ Sesungguhnya aku mengharapkan pertolonganmu, terserah bagimana petunjukmu, aku menurut “ Mendengar penuturan Sri Baginda, Kyai Buyut benar-benar takjub, lalu berdatang sembah, “ Duhai junjungan hamba, sungguh tak terbayangkan keajaiban kehendak dewa itu, namun apa kemampuan hamba.

Orang desa lagi hanya petani jelata, paling-paling hanya mengolah tanaman menanam biji-bijian seadanya, seperti jepen, jali, jawawut, bijen, cantel, jatil, kedali sebagai mata pencarian untuk selama-lamanya. Mustahil untuk menduga-duga masalah kesaktian yang benar-benar tidak mungkin melaksanakannya, oleh karena itu hamba berserah diri.

Ke bawah kaki paduka, menghaturkan hidup dan mati hanya karena merasa bertanggung jawab, namun hati ini ternyata buntuk. Mengapa dunia jadi terbalik, junjungan minta sarana kepada rakyatnya, tentu tidak akan terjadi, lautan mengalir ke kubangan air, demikianlah jika diumpamakan dengan air.

Tidak sesuatu dengan kodrat dunia, dan keajaiban itu seribu langka. Sungguh hamba tidak dapat memikirkan kehendak Sri Baginda yang demikian, yang terjadi sejak jaman dahulu kala bagi seorang raja, jika ada rakyatnya yang kekurangan sandang pangan maupun kegelapan budi, rajalah yang mengatasinya.

Raja Pagelen berkata lembut, “Hai, paman. Meskipun demikian, namun aku ini menaati petunjuk dewata, yang tidak akan ingkar meski kita mengingkarinya. Dewata selalu mengetahui segala gerak-gerik umatnya. Aku tetap mendesak dan berusaha sampai berhasil. Meskipun hanya sekedar kata-kata tanpa dasar yang aku peroleh, biarlah. Akan kuterima juga.

Asalkan engkau yang menjadi lantaran memberi sarana, saya akan merasa puas. “Ki Buyut berdatang sembah dengan suara lemut, “Wahai, Sri Baginda. Jika demikian kehendak paduka, hamba tidak akan ingkar lagi, karena terdesak oleh kebutuhan dan karena ingin mengamini, hamba hendak menunjukkan jalan menurut cara orang orang kecil berdasarkan ilmu orang dusun.

Mudah-mudahan dapat memenuhi harapan, sesuai dengan petunjuk, yang gamblang dan terang. “Sri Baginda berkata lagi, “Nah paman! Jangan ragu-ragu. Laksanakanlah segera ilmumu seadanya. “Ki Buyut segera mempersiapkan tujuh lembar daun tal kuning ditaruh di dalam kotak kecil tertutup.

Sesudah diletakkan di hadapan Sri Baginda, sekarang silahkan paduka mengambil sastra wedar tanpa aksara. Pilihlah satu yang paduka kehendaki. “Sri Baginda heran sekali melihatnya karena caranya yang sangat ajaib dalam melakukan usaha mendapatkan petunjuk.

Beberapa saat kemudian Sri Baginda mengambil sastra wedar. Ketika diteliti tampak ada tulisannya, kemudian dibaca, dan berbunyi: “Hai, Sri Baginda! Sudilah engkau mengambil srini sebagai sarana, yang akan merupakan pagar kesalamatan. “Sri Baginda terdiam. Ia belum dapat menagkap sasmita atau petunjuk yang tertulis itu. Relug kalbunya masih ruwet.

Akhirnya Sri Baginda berkata, “paman Buyit. Coba jelaskan makna kalimat ini. Apa gerangan maksudnya. Aku belum dapat menagkap artinya. “Kyai Buyut tersenyum berdatang sembah, “Hamba mohon maaf. Seyogyanya paduka mengambil lagi. Siapa tahu, petunjuk tulisannya berlainan. “Sri Baginda tidak menolak.

Kemudian mengambil lagi selembar daun tal, lalu selembar lagi, hingga tiga kali. Semua tiada bedanya. Aksara dan kalimatnya sama, seperti yang sudah-sudah. Hati Sri Manuhun masih tetap bingung, akan tetapi kebingungannya tidak diperlihatkan. Sambil memikirkan pemecahannya, barang kali menemukan jawaban, Sri Baginda berpura-pura.

Mendekati Ki Buyut, lalu berkata lembut, “Paman, saya tertarik kepada kedua anak yang menghadap itu. Tingkah lakunya terampil. Yang laki-laki maupun yang perempuan serba luwes dan sangat pantas rupanya. Menilik ujudnya, mungkin kakak adik. Apakah itu anak-anakmu ?”

Kyai Buyut menjawab dengan sebenarnya demikian “ Duhai Sri Baginda, benar ia anak hamba kelahiran Sendangkulon sudah lama berpisah dengan ibunya sehingga selalu menjadi buah hati. Karena hanya merekalah milik hamba, rasa-rasanya keduanya tidak dapat berpisah dengan ayahnya, oleh karena itu siang dan malam keduanya tetap berada diasrama.

Sri Baginda tersenyum seray berkata lembut “ Sudah sepantasnya orang mempunyai anak, tentu begitu itu anggapannya, menurut kata peribahasa, umpama kereweng kencana. Dasar kedua anakmu itu memang baik-baik, sudah sepantasnya bagaikan nyawa, sepintas lalu seperti kembar, mana yang lebih tua dan siapa namanya.

Ki Buyut menjawab “ Yang tua namanya Srini, sedangkan yang muda bernama Sarana “ Sri Baginda berkat menanggapi, kalau begitu yang tua pantas memelihara isi istana, sedangkan yang muda memelihara kerajaan “ Mendengar ucapan Sri Baginda, Ki Buyut menyembah, beberapa hari kemudian Sri Baginda pulang, diiringikan oleh Ki Buyut sekeluarga.

Setibanya di istana Sri Baginda memanggil pimpinan para menteri, yang merupakan orang kepercayaan dalam pemerintahan yakni Arya Pratala dan Arya Banawa, keduanya adalah ipar Sri Baginda, diceritakan Arya Pratala itu, adiknya yang bernama Ken Pratiwi menjadi selir Sri Baginda.

Dialah yang mempunyai anak laki-laki cebol, yang diberi nama Raden Jaka Pratana, sedangkan Arya Banawa kakak perempuan yang bernama Rara Jahnawi, yang menjadi sesepuh para selir Sri Baginda, berputra laki-laki wujil, yang diberi nama Raden Jaka Sangara yang sudah diceritakan diatas.

Pimpinan para menteri itu telah datang menghadap Sri Baginda, mereka diberi tahu tentang segala peristiwa yang telah terjadi. Semua merasa heran, sekarang atas kehendak Sri Baginda, Rara Srini diangkat menjadi permaisuri raja, sedangkan kedua selir menjadi istri yang diberi kekeuasaan untuk mengatur segala pekerjaan di dalam istana.

Kyai Buyut diberi kedudukan sebagai sesepuh dan sebagai pendeta istana, yang diberi kekuasaan untuk memberikan pengajaran ke arah budi pekerti yang baik. Sarana diangkat jadi perdana menteri yang memegang kendali pemerintahan. Kedua Arya dimasyhurkan sebagai yang memegang kekuasaan untuk mengatur segala macam pekerjaan serta pemegang hukum kerajaan.

Adik dari Ki Buyut yang bernama Umbul Samawana telah lama tiada dan meninggalkan anak laki-laki bernama Jaka Gede, sekarang ditugasi menggantikan pakuwannya bergelar Buyut Agung berkedudukan di Sendangkulon, diangkat oleh Sri Baginda, dengan demikian sejahteralah dukuh Sendangkulon karena penguasanya mahir membina kewibawaan.

Rara Srini tidak lama kemudian hamil, setelah cukup waktunya lahirlah anak laki-laki, tampan dan mungil sehingga benar-benar seperti Sanghyang Asmara, menggembirakan hati Sri Baginda, putranya disambut dan dilihat keadaannya benar-benar pantas dan tampan, diberi nama Raden Jaka Pramana.

Rajaputra mendapat berkat dewata sehingga cepat menjadi besar, diberi emban bernama Ni Wilasita, waktu berjalan tersu, putra Baginda hampir menjelang akil balig. Semakin jelaslah rupanya akan menguasai initi insan yang terpuji, serba suci serta mahir akan kaidah-kaidah hubungan yang tersamar, sehingga pantas menjadi seorang raja.

Categories: Java Dictionary Tags:
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.